M-RADARNEWS.COM, BALI – Peringatan Hari Lahir Pancasila dan Bulan Bung Karno (BBK) VII Tahun 2025 di Kabupaten Buleleng, menjadi ajang istimewa yang memadukan semangat persatuan dan kebudayaan. Ratusan masyarakat dan pelajar memenuhi Panggung Utama Ruang Terbuka Hijau Bung Karno untuk menyaksikan pagelaran seni dan budaya.
Namun, sorotan utama justru datang dari pesan kuat yang disampaikan oleh Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra. Selain itu, momen ini sekaligus bertepatan pada Perayaan 100 Hari Kepemimpinan dan Bukti Nyata Pembangunan
Dalam pidatonya, Bupati Sutjidra menyampaikan, bahwa momen ini sangat spesial. Selain memperingati Hari Lahir Pancasila, acara ini juga menandai 100 hari pertama kepemimpinannya bersama Wakil Bupati Gede Supriatna sejak dilantik pada 20 Februari 2025. “Kami hadir bukan dengan janji, tapi dengan bukti,” tegasnya dikutib, pada Senin (02/06/2025).
Ia kemudian membeberkan berbagai program yang telah direalisasikan dalam 100 hari pertamanya, antara lain seragam sekolah gratis bagi siswa kurang mampu, ambulans jenazah untuk masyarakat, penataan pedagang bermobil di pasar, penataan wajah kota, hingga stimulus PBB.
Lebih dari itu, Bupati Sutjidra mengajak seluruh masyarakat untuk bersatu padu membangun Buleleng Era Baru. Ia menekankan pentingnya meneladani ajaran Bung Karno yang tetap relevan dengan konsep Trisakti: berdaulat dalam politik, berdikari dalam ekonomi, dan berkepribadian dalam budaya.
“Dengan semangat Pancasila dan pemikiran Bung Karno, saya yakin Buleleng bisa menjadi kabupaten yang harmonis, maju, dan membanggakan. Mari kita bergotong royong wujudkan Buleleng yang PATEN!” serunya.
Sementara itu, Panitia sekaligus Asisten Pemerintahan dan Kesra Setda Buleleng, I Gede Sandhiyasa, menjelaskan, bahwa seluruh rangkaian kegiatan BBK 2025 akan digelar sepanjang bulan Juni, dari tingkat kabupaten hingga desa.
“Peringatan ini bukan sekadar seremonial. Ini adalah ajakan untuk menanamkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, dan menghidupkan kembali ajaran Bung Karno yang mengakar pada jati diri bangsa,” ungkap Sandhiyasa.
Dengan tema “Memperkokoh Ideologi Pancasila Menuju Indonesia Raya” dan “Prana Jagat Kerthi”, kegiatan ini meliputi upacara, seminar, aksi lingkungan, hingga pemberdayaan UMKM yang menandai kebangkitan kesadaran berbangsa lewat pendekatan yang menyentuh semua kalangan.
“Pagelaran seni menjadi klimaks penuh warna. Iringan tari, musik tradisional dan pementasan tematik tentang perjuangan Bung Karno menjadi refleksi kolektif, bahwa budaya dan ideologi bisa berjalan seiring, menguatkan identitas dan arah masa depan bangsa,” pungkas Sandhiyasa. (yd/**)

