JATENG, (M-RADARNEWS.COM),-             Ns (24) warga Gentan, Dompyongan, Jogonalan, Klaten ditangkap aparat polisi setelah kedapatan membobol sebuah Toko Modern di Jalan Jogja-Solo, tepatnya di Geneng, Prambanan. Pria tersebut beralasan nekat membobol toko guna mencukupi kebutuhan ekonomi lantaran menjadi korban PHK.

Aksi pembobolan toko modern itu dilakukan pada, Jumat (08/01/2021) sekitar pukul 02.20 WIB. Ns beraksi bersama seorang rekannya yang kini masih dalam pengejaran polisi. Pada saat Ns dan rekannya beraksi, kondisi toko dalam keadaan tutup dan tidak ada penjaganya.

Ns dan rekannya berusaha masuk ke toko dengan cara memanjat tembok lantai dua, kemudian mencongkel jendela dan menjebol teralis besi. Setelah kedua pelaku berhasil masuk ke dalam toko, mereka langsung menuju ke gudang penyimpanan barang dan brankas berisi uang.

“Begitu mereka masuk, ternyata ada CCTV alarm di dalam toko yang terhubung dengan HP karyawan toko. Jadi begitu mereka masuk, alarm berbunyi dan konek ke HP,” ujar Kapolsek Prambanan, AKP Soeyono, Rabu (27/01/2021) di Mapolres Klaten.

Mendengar alarm berbunyi, karyawan yang sudah di rumah itu lantas menghubungi seorang rekannya yang tinggal dekat dengan toko. Mereka lantas mengecek kondisi toko dan didapati kondisi jendela dan tralis sudah rusak, termasuk gudang penyimpanan rokok juga berantakan.

Mendapati hal itu, mereka lantas melapor ke Polsek Prambanan. Polisi kemudian menuju lokasi dan berhasil menangkap satu pelaku berinisial Ns, sedangkan seorang rekannya lagi sudah melarikan diri. Ns digelandang ke Mapolres Klaten untuk pemeriksaan lebih lanjut.

“(Saat diamankan) masih di dalam toko. Dia ini residivis kasus pembunuhan, 2018 sudah bebas bersyarat sampai tahun 2020,” imbuhnya.

Guna mempertanggungjawabkan perbuatannya, Ns terpaksa harus kembali mendekam di balik jeruji besi. Ns dijerat Pasal 363 ayat (1) ke 4 dan 5 KUHP Jo Pasal 53 KUHP tentang pencurian dengan pemberatan atau percobaan pencurian dengan ancaman hukuman 9 tahun penjara.

Sementara itu, Ns mengaku nekat melakukan aksi tersebut dengan alasan untuk mencukupi kebutuan ekonomi. Ia sebelumnya pernah bekerja di pabrik namun beberapa bulan yang lalu di-PHK. Sebelum beraksi, Ns juga pernah berusaha melamar kerja namun tak kunjung memperoleh.

“Untuk kebutuhan ekonomi, karena tidak kerja. Sempat di pabrik tapi di-PHK, lalu cari kerja susah. Untuk sekarang saya mengaku salah, dan menerima hukuman ini,” pungkasnya. (dan)

Facebook Comments Box