JATIM, (M-RADARNEWS.COM),- Dengan berkembangnya kab Banyuwangi yang sangat pesat, berbanding terbalik apa yang di capai pemerintah Banyuwangi. Diduga Banyuwangi mengalami defisit (kurang) uang mulai 2016 sampai sekarang.

Salah satu rekanan pemerintah dalam penggarapan proyek Dermaga Jety di area Grand Wisata Watu Dodol (GWD) tahun 2016 sampai sekarang belum terbayarkan.

“Saya ini adalah salah satu korban dari defisit anggaran. Penggarapan proyek senilai 2,4 miliar, Dermaga Jety tahun 2016 sampai sekarang belum terbayarkan kata Edy Suprapto (gus edi) selaku kontraktor, Senin (26/11/2018) kemarin.

Gus Edi melanjutkan, Banyuwangi diduga terjadi defisit mulai 2016 sampai sekarang, dan salah satu orang Inspektorat mengatakan Banyuwangi Defisit. Bagaimana disebut perencanaan terbaik dan bagaimana cara mengelola keuangan, sampai punya hutang atau defisit.

Bupati Banyuwangi dalam pidatonya, jumlah orang berwisata di Banyuwangi meningkat, tapi dengan banyaknya para wisatawan tidak mengangkat Pendapatan Asli Daerah (PAD) Banyuwangi,” ujarnya.

Yang anehnya lagi, uang di hambur-hamburkan oleh pemerintah Banyuwangi, memberikan uang Tambahan Penghasilan Pegawai (TPP) Negeri sipil seperti, mobilisasi pegawai dan absensi pegawai. Pegawai hanya tekun absensi dapat tambahan uang.

“Absen saja tidak usah kerja yang penting ada tambahan gaji, ada tambahan lagi yaituang perjalanan dinas. terlalu banyak tumpang tindih kebijakan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi. Juga ada jasa lembur bagi PNS dan non PNS di salah satu dinas,” ungkapnya.

“Ngomong saja pintar, tapi masih ada jasa konsultasi. Jasa konsultasi dengan biaya sampai miliar rupiah,” kecam gus Edi. (Ars/Tim)

Facebook Comments Box