JATENG, (M-RADARNEWS.COM),-          Pemerintah Desa Dlimas, Kecamatan Ceper, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah menggelar acara “Grebeg Suro Tanjungsari 2020” di halaman bangsal lokasi Arca Tanjungsari desa setempat dilaksanakan secara sederhana namun penuh khidmat pada, Jumat (11/09/2020).

Acara tahunan di setiap bulan Syuro kali ini diadakan secara ringkas sederhana, mengingat pandemi Covid-19 belum sirna bahkan makin mewabah ke mana-mana.

Kegiatan budaya ini biasanya diikuti oleh ratusan warga Desa Dlimas dan menyedot perhatian pengunjung dari berbagai wilayah di Klaten dan sekitarnya. Namun kali ini hanya perwakilan dari 16 RT yang ambil bagian, mereka secara suka rela menyediakan makanan serta minuman dan beberapa ubo rampe sesaji seperti, ingkung ayam sego gurih dan pisang untuk didoakan dan dinikmati bersama-sama.

Kepala Desa Dlimas, Sugiyatmo menjelaskan, bahwa acara ini untuk melestarikan budaya atau kearifan lokal di Desa Dlimas yang sudah lama diperingati secara turun-temurun.

“Dalam situasi pandemi Covid-19 seperti ini, acara kita ringkas dan padatkan jam pelaksanaan dengan mematuhi protokol kesehatan dari pemerintah. Tamu yang kita undang jumlahnya juga terbatas. Namun tidak mengurangi rasa syukur, kami warga Dlimas kepada Sang Kuasa atas lindunganNya dan tujuan acara ini berjalan lancar,” katanya.

Dalam sambutannya, Kades Sugiyatmo mengajak warga Dlimas untuk hidup bergotong-royong melawan Virus Corona. Selain itu, ia juga mengingatkan bahwa nanti pada bulan Desember akan ada Pilkada Serentak di Kabupaten Klaten. Warga diharap dapat berpartisipasi dalam menyukseskan serta menggunakan hak pilihnya memilih Bupati .

Sementara itu, Camat Ceper Supriyono mengajak masyarakat untuk melakukan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dalam keluarga.

“Marilah kita bersama-sama melakukan protokol kesehatan dari pemerintah diantaranya dengan menjaga jarak, cuci tangan dengan air bersih dan wajib memakai masker,” pintanya.

Dalam acara tersebut juga dihadiri oleh tokoh/ pemuka agama setempat untuk berdoa secara bergantian, memohon kepada Sang Pencipta agar wabah Corona segeras sirna dari bumi Indonesia.

Terkait Acara Grebeg Tanjungsari

Alkisah, pada waktu pecahnya kerajaan Majapahit ada 2 orang putri kerajaan yang bernama Roro Tanjungsari dan Roro Payung Gilap yang lolos dari kerajaan dan tersesat sampai di sebuah desa yang masih berupa hutan.

Karena sedih dua putri tersebut menangis terus menerus dan tidak makan minum lalu kedua putri tersebut hilang bersama raganya (muksa). Dengan hilangnya kedua putri di tempat itu timbullah pohon Dlimo, sedang buahnya setelah masak seperti emas maka desa tersebut diberi nama Dlimas. Masyarakat di Desa Dlimas pada waktu itu hidup serba kekurangan dan dapat diibaratkan sehari bisa makan, tiga hari tidak bisa makan.

Pada suatu hari, ada salah satu penduduk yang mendapat ilham apabila ingin kehidupannya menjadi baik, maka pohon Dlimo tersebut harus dirawat (dipelihara). Setelah pohon tersebut dipelihara dengan baik, ternyata kehidupan masyarakat di Desa Dlimas menjadi baik dan setelah pohon Dlimo itu mati di tempat tersebut ditanami pohon Tanjung dan di dekat pohon Tanjung dibuat dua arca yaitu Tanjungsari dan Payung Gilap.

Dengan perubahan nasib atau kehidupan masyarakat Desa Dlimas dari serba kekurangan menjadi serba kelebihan, maka timbullah kepercayaan bahwa pada tiap-tiap bulan Syura yang jatuh pada hari Jumat Wage diadakan upacara selamatan, Tayuban dan dilakukan setelah sholat Jumat dengan cara para penduduk membawa hidangan, ambeng dan dibawa di suatu tempat di bawah pohon Tanjung. Setelah upacara selamatan selsai maka dilanjutkan dengan upacara Tayubanan atau Janggrungan.

Upacara ini diberi nama ‘Tanjungsari’ atau ‘Tanjungsaren’ karena dilakukan di bawah pohon Tanjung. Sedangkan upacara Tayuban (Janggrungan) dilakukan karena kedua putri tersebut pada waktu di Kraton kesenangannya menari Srimpi. Tari Tayub di Dlimas ini sangat berlainan karena sifatnya upacara suci, penari ini dilakukan putra dan putri mula-mula suami istri, perkembangan sekarang pada waktu upacara si istri tidak datang lagi mengingat di rumah banyak tamu yang datang.

Upacara tersebut diteruskan malam-malam berikutnya dengan pertunjukan ketoprak, wayang orang, wayang kulit, dan lain-lain. Banyak masyarakat dari daerah lain yang berdatangan untuk berjualan, mendirikan stand kerajinan, permainan anak-anak dan lain-lain sehingga terwujud suatu pasar malam yang berlangsung beberapa hari. Upacara tradisional Tanjungsari terus berkembang dan pengunjungnya bertambah banyak. Upacara ini sudah menjadi kepercayaan penduduk Dlimas dan mereka yang bekerja di luar Kota Klaten pun berusaha untuk datang/pulang untuk mengikuti upacara tersebut. (Dan)

Facebook Comments Box