M-RADARNEWS.COM, ADV – Masyarakat Indonesia, khususnya yang masih mengenal tradisi leluhur secara kental, tentu akrab dengan berbagai mitos dan kepercayaan tentang alam. Salah satu mitos yang menarik adalah kepercayaan tentang ‘penunggu’ pohon besar. Konon, pohon-pohon berukuran masif atau yang terletak di tempat tertentu dipercaya dihuni dan disukai oleh makhluk gaib seperti Genderuwo, Wewe Gombel, atau sosok-sosok lain yang dipercaya menjaga tempat tersebut.
Menariknya, mitos serupa juga ditemukan di banyak budaya lain di dunia, dengan karakter dan kisah yang berbeda-beda. Kepercayaan ini dianggap, bahwa makhluk supranatural mengawasi dan melindungi manusia agar menjadi lebih segan dan berhati-hati untuk menebang pohon-pohon besar sembarangan. Ada rasa takut akan kemarahan makhluk tersebut, yang dipercaya bisa membawa petaka bagi siapa saja yang berani mengabaikannya.
Contoh yang sering terjadi di kalangan masyarakat ketika seseorang yang tiba-tiba jatuh sakit bahkan sampai satu minggu setelah menebang pohon tanpa permisi. Cerita-cerita itu beredar dari generasi ke generasi dan perlahan membentuk pola pikir bahwa alam pun memiliki “penghuninya” sendiri yang perlu dihargai. Namun, apakah benar ada makhluk penunggu di sana?
Seiring kemajuan ilmu pengetahuan dan cara berpikir yang semakin rasional, banyak dari orang yang mulai mempertanyakan validitas dari kepercayaan tersebut apakah makhluk gaib tersebut benar benar ada. Ketika melakukan pengamatan secara langsung pada alam yang menunjukkan bahwa pohon meskipun memiliki ekosistem kecil di sekitarnya, tidak ditempati oleh makhluk gaib sebagaimana yang diceritakan. Namun ada kemungkian perbedaan ketika seorang paranormal yang melakukan pengamatan tersebut.
Para ilmuwan dan pecinta alam justru melihat pohon sebagai bagian dari ekosistem penting yang menyokong kehidupan. Hutan dan pohon memiliki peran penting dalam menyerap CO₂, melepaskan oksigen, menjaga siklus air, menjaga keanekaragaman hayati yaitu layanan ekosistem yang mendasar bagi keberlanjutan planet dan kehidupan manusia (Sultana & Rahman, 2023).
Ironisnya saat kepercayaan ini mulai luntur, perilaku manusia terhadap lingkungan justru semakin merugikan. Penebangan hutan yang secara tidak terkontrol menjadi semakin agresif. Alam yang dulu dijaga ketat oleh mitos tersebut, sekarang bergumul dengan keserakahan manusia. Hal ini menjadi cerminan bagaimana hilangnya kepercayaan tradisional tidak diiringi dengan pemahaman dan kesadaran ekologi yang cukup.
Lantas, apakah kita membutuhkan mitos untuk menjaga keseimbangan alam? Tidak juga, yang kita butuhkan adalah kesadaran baru bahwa pohon dan hutan merupakan aset penting bagi keberlanjutan hidup. Keberadaan pohon mempengaruhi banyak hal mulai dari menyaring udara, mempertahankan tanah dari erosi, hingga menyokong beraneka ragam hayati.
Dalam ajaran Hindu, dikenal konsep Palemahan, yang mengajarkan manusia untuk hidup selaras dengan alam. Pohon-pohon besar sering diikatkan kain sebagai simbol penghormatan, bukan karena dihuni makhluk gaib, tetapi sebagai ucapan terima kasih karena pohon memberi oksigen dan mencegah banjir.
Di Jawa, praktik memberikan sesajen di bawah pohon bukanlah bentuk penyembahan kepada setan, melainkan ekspresi rasa hormat terhadap alam. Kearifan lokal ini sesungguhnya menyimpan pesan ekologis yang kuat jika alam dijaga, maka manusia pun akan selamat.
Keseimbangan alam tidak bisa dipertahankan hanya dengan mitos atau kepercayaan yang mungkin tidak lagi relevan di zaman modern. Diperlukan logika dan pemikiran kritis dalam menangani isu lingkungan. Pengetahuan bahwa deforestasi bisa menyebabkan masalah besar seperti perubahan iklim, banjir, dan hilangnya keanekaragaman hayati harus menjadi motivasi bagi kebijakan konservasi dan pelestarian hutan.
Mempertahankan pohon besar tidak lagi soal menjaga hubungan harmonis dengan jejak tradisional semata, melainkan langkah bijak untuk menyelamatkan masa depan planet ini. Pengetahuan ilmiah harus menjadi jembatan yang menghubungkan kebijaksanaan tradisional dengan pendekatan modern dalam menjaga keseimbangan alam.
Jadi, alih-alih menunggu bencana lingkungan mengingatkan kita, kita harus mengambil langkah nyata untuk melindungi ekosistem yang ada. Mulailah dengan pendidikan lingkungan sejak dini, serta kebijakan yang mendukung pelestarian pohon besar dan hutan.
Dengan demikian, meskipun penunggu pohon besar mungkin tidak benar-benar ada, ‘penunggu’ sejati dari pohon-pohon tersebut adalah kita, manusia, yang bertanggung jawab untuk menjaga agar mereka tetap berdiri kokoh di Bumi ini. Ini bukan lagi soal mitos, tetapi kewajiban kita. Kesadaran dan tindakan nyata adalah dua hal utama yang akan menyelamatkan kita dari berbagai ancaman ekologis ke depan.

