Site icon www.m-radarnews.com

Gubernur Koster Resmikan Pembangunan Titik 9–10, Percepat Penuntasan Shortcut Singaraja–Mengwitani

Gubernur Bali, I Wayan Koster meresmikan dimulainya pembangunan lanjutan Jalan Shortcut Singaraja–Mengwitani Titik 9 dan 10 melalui Upacara Ngeruak dan Ground Breaking di Desa Gitgit, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng, Rabu (07/01/2026). Foto: dok/hum

M-RADARNEWS.COM, BALI – Gubernur Bali, I Wayan Koster meresmikan dimulainya pembangunan lanjutan Jalan Shortcut Singaraja–Mengwitani Titik 9 dan 10 melalui Upacara Ngeruak dan Ground Breaking di Desa Gitgit, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng, Rabu (07/01/2026). Pembangunan ini menjadi langkah strategis meningkatkan konektivitas Bali Utara dan Bali Selatan.

Gubernur Koster mengatakan, percepatan pembangunan shortcut telah menjadi prioritas sejak awal masa jabatannya pada Februari 2025. Ia mengaku langsung berkoordinasi dengan Menteri Pekerjaan Umum untuk memastikan kelanjutan pembangunan shortcut dari Titik 1 hingga Titik 12.

“Pembangunan shortcut sangat mendesak, baik untuk transportasi penumpang maupun logistik. Karena itu kami dorong agar Titik 9 dan 10 segera dilanjutkan, dan hari ini sudah mulai dikerjakan,” ujarnya.

Ia menegaskan, proses tender, kontrak, hingga penentuan hari ground breaking diikuti secara ketat agar proyek berjalan tepat waktu. “Saya pastikan semua tahapan berjalan dengan baik dan tidak molor. Setelah semua siap, ditetapkanlah hari baik pada 7 Januari 2026,” katanya.

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali, telah membebaskan lahan sebagai dukungan utama percepatan proyek tersebut. Koster menargetkan pembebasan lahan Titik 11 dan 12 dimulai 2026 sehingga konstruksi dapat dimulai 2027–2028 dan tuntas sebelum masa jabatannya berakhir pada 2030.

Koster menyebut, penyelesaian shortcut menjadi kebutuhan mendesak di tengah tingginya aktivitas pariwisata. Sepanjang 2025, jumlah wisatawan ke Bali mencapai 7,05 juta orang, tertinggi sepanjang sejarah. “Kalau ada yang bilang Bali sepi, itu keliru. Justru kunjungan meningkat signifikan,” katanya.

Diungkapkan, tingkat hunian hotel berada pada kisaran 75–85 persen dan pendapatan daerah dari sektor pariwisata terus meningkat. Namun, tingginya mobilitas wisatawan menimbulkan persoalan seperti kemacetan dan sampah.

“Masalah macet tidak bisa diselesaikan hanya dengan wacana. Ini soal infrastruktur. Karena itu lima tahun ke depan fokus pemerintah adalah mempercepat konektivitas Bali Utara, Selatan, Barat, Timur, hingga Bali Tengah,” tegas Koster.

Sementara Direktur Pembangunan Jalan Ditjen Bina Marga, Asep Syarif Hidayat mengatakan, pembangunan Shortcut Titik 9–10 memiliki total panjang 3,90 km, terdiri dari 2,95 km jalan dan 942 meter jembatan.

Rinciannya sebagai berikut:

Asep menyebut, bahwa kondisi eksisting ruas jalan memiliki kelandaian hingga 27 persen dan rata-rata 140 kecelakaan per tahun. Dengan perbaikan geometrik, waktu tempuh akan berkurang dari 21 menit menjadi sekitar 8 menit, tikungan berkurang drastis, dan kelandaian turun menjadi maksimal 10 persen. Emisi karbon juga diproyeksikan turun 10 persen.

Hingga kini, Pemprov Bali telah membebaskan 316 bidang tanah senilai Rp193 miliar. Untuk menuntaskan seluruh pembangunan dari Titik 1 hingga Titik 12, masih dibutuhkan anggaran tambahan sekitar Rp512 miliar.

Lebih jauh Koster menegaskan, pihaknya akan terus mengawal pembangunan hingga tuntas. “Kualitas harus nomor satu dan pekerjaan harus tepat waktu. Kalau tidak sesuai, saya yang akan menegur,” katanya.

Pembangunan shortcut ini diharapkan menjadi solusi permanen konektivitas Bali Utara dan Bali Selatan, serta mendorong pemerataan pembangunan di Pulau Dewata. (yd/**)

Spread the love
Exit mobile version