M-RADARNEWS.COM, JATIM – Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menyoroti fenomena maraknya laporan orang tua terhadap guru ke polisi. Ia mengungkapkan keprihatinannya dan mengimbau orang tua untuk tidak gegabah mengambil tindakan hukum, terutama jika permasalahan hanya sebatas teguran atau pendisiplinan.
“Jika seorang guru hanya memarahi atau mendisiplinkan anak, jangan buru-buru melapor ke polisi. Sebaiknya, ajaklah guru berbicara untuk memahami akar permasalahannya,” tegas Wali Kota Eri saat menghadiri Masa Orientasi Orang Tua (MOOT) jenjang PAUD, SD, dan SMP se-Kota Surabaya, di SMP Al-Hikmah dikutib, pada Senin (21/07/2025).
Menurutnya, guru dan orang tua adalah mitra penting dalam mendidik anak. Oleh karena itu, membangun komunikasi yang efektif dan saling pengertian menjadi kunci utama.
Meskipun demikian, Wali Kota Eri tidak menampik bahwa pelaporan ke polisi tetap diperlukan jika terjadi kekerasan fisik oleh guru. Namun, untuk masalah disipliner atau miskomunikasi, jalur dialog dan musyawarah harus diutamakan.
“Baik guru maupun orang tua, marilah kita menjadi teladan yang baik bagi anak-anak dan hindari tindakan lapor polisi untuk perselisihan ringan. Kunci untuk menciptakan sinergi dalam mendidik adalah komunikasi dan pengertian, sehingga anak-anak dapat memandang guru sebagai bagian dari figur orang tua mereka,” ajaknya.
Wali Kota Eri juga mengingatkan kembali filosofi MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah) Ramah dengan slogan “Sekolahku adalah Rumahku, Guruku adalah Orang Tuaku.” Ia juga menekankan pentingnya menanamkan rasa hormat kepada guru dan menerapkan disiplin berbasis kasih sayang.
“Selain orang tua kandung, guru adalah pendidik utama yang bertanggung jawab mendidik dan mengajarkan ilmu. Oleh karena itu, orang tua dan guru perlu bersinergi dalam menerapkan disiplin kepada anak,” jelasnya.
Kendati demikian, Wali Kota Eri mengajak orang tua untuk berintrospeksi diri jika anak-anak terlibat dalam kegiatan negatif seperti geng motor, minuman keras, atau perundungan.
“Jika anak terjerumus ke jalan yang salah, jangan hanya menyalahkan anak. Mari kita introspeksi diri sebagai orang tua, kekurangan atau kesalahan apa yang mungkin telah kita lakukan,” imbuhnya.
Melalui kegiatan MOOT, Wali Kota Eri optimis bahwa pembentukan moral dan akhlak anak berdasarkan nilai-nilai agama serta Tujuh Praktik Baik Indonesia Hebat akan menjadi pondasi kuat yang sejalan dengan Pancasila. Ia yakin, ini akan mewujudkan Surabaya sebagai kota yang aman dari perundungan, geng motor, dan minuman keras.
“Dengan sinergi antara orang tua dengan sekolah, diharapkan akan terbentuk karakter anak-anak Surabaya, mulai dari PAUD, SD, hingga SMP menjadi pribadi yang saleh/salihah, berkapasitas luar biasa, dan memiliki kebangsaan yang kuat,” pungkasnya.
Sebagai informasi, dalam kegiatan tersebut, Pemkot Surabaya mendampingi Satuan Gugus Tugas (Satgas) Kampung Pancasila Kecamatan Wonokromo secara simbolis menyerahkan perlengkapan sekolah kepada anak-anak dari keluarga miskin. (by/**)

