JATIM, (M-RADARNEWS.COM),-              Menyoal sampah yang di tengarai dibuang sembarangan di sempadan sungai Dsn Krajan, Desa Banjar, Licin, Banyuwangi meski sifatnya sementara seperti yang diungkap Kades Banjar Sunandi kepada m-radarnews.com, Kamis malam (22/09/2022), tetap saja berdampak buruk pada ekosistem air dan lingkungan, sebagaimana disebut dalam UU 23/2009 tentang UUPPLH. Mengingat, Desa Banjar dulu disebut sebagai Desa Asri jauh dari kesan kumuh, bahkan Desa ini dulu di sebut-sebut jadi pusat perhatian Bupati Anas karena ke elokannya.

Dikutip dari laman Wikipedia, Desa Banjar berpenduduk mayoritas Suku Osing dan beragama Islam. Berdasarkan data BPS tahun 2017, penduduk Desa Banjar berjumlah 2.511 jiwa yang terdiri dari 1.221 laki-laki dan 1.290 perempuan. Dalam kehidupan sehari-hari warga desa berkomunikasi dengan Bahasa Osing atau Bahasa Jawa dengan dialek Banyuwangi. Pekerjaan warga mayoritas berada di sektor pertanian (1.255 orang), para warga ada yang menjadi petani, petani aren atau buruh bangunan.

Selain itu, beberapa warga desa memiliki perhatian pada bidang pariwisata, sehingga ada warga yang menjadikan rumahnya menjadi rumah singgah (homestay) atau menjadi pemandu wisata di Kawah Ijen. Selain itu juga, beberapa warga memiliki usaha pembuatan oleh-oleh khas desa seperti Sego lemeng, Gula aren, Kopi uthek dan Tali abrem.

Sego lemeng dan Kopi Uthek ini kemudian diangkat menjadi sebuah Festival Sego Lemeng dan Kopi Uthek yang menjadi bagian dari Banyuwangi Festival sejak tahun 2017. Desa Banjar memiliki beberapa kesenian khas yaitu grup musik patrol Gontang Kawean, dan tari-tarian baik Gandrung, maupun tarian lokal kreasi warga desa.

Kini kondisi Desa Banjar tak lagi seperti saat Bupati Anas menjabat, itu di duga pengelolahan sampah yang tidak tepat. Lantas publik jengah dan bertanya problem sampah tak teratasi, bagaimana dengan program dan kegiatan di Desa Banjar lain nya yang bersumber dari dana ADD dan DD, patut dipertanyakan. (anw)

Facebook Comments Box