BALI, (M-RADARNEWS.COM),- Acara perhelatan pertemuan Annual Meetings International Monetary Fund (IMF) and World Bank Group (WBG) 2018 yang diselenggarakan di Nusa Dua, Badung, Bali, mulai 8-14 Oktober 2018 bulan kemarin, akhirnya kini timbul permasalahan terkait upah pekerja keamanan (security) yang belum terbayar.

Ada sekitar 11 pekerja petugas pengamanan (security) dari ratusan pekerja yang direkrut PT. Magnum Indonesia Bali yang mendatangi tim advokat atau klinik hukum YYDiaz sinergi untuk meminta bantuan agar upah mereka terbayar akhirnya berbuah hasil.

Dari 11 petugas pengamanan (security) diantaranya, Martedent Selan (29), Rambo Cirilo Ballo Pire (30), Marson Lunggi Haung (28), Lasmi Yohanis Laiskodat (27), Sukron Muzammila (24), Yohanes Jai (25), Lutfin Tahir (29), Reynaldo Erik Tanguwali (20), Boby Abraham (28), Kristian Edon Mauawang (22) dan Leonardus Mite (30).

Dari salah satu tim kuasa hukum dari klinik YYDiaz Valerian Libert Wangge SH., mengatakan, mereka dipekerjakan oleh PT Magnum Indonesia Bali sebagai tenaga pengamanan atau security di sejumlah titik lokasi penyelenggaraan IMF-World Bank. Namun setelah acara usai, upah yang dijanjikan tidak kunjung dibayarkan. Maka dari itu, mereka menunjuk kami selaku tim hukum yang mewakili mereka untuk memperjuangkan haknya.

Pada hari, Jumat, 23 November 2018 PT. Magnum Indonesia Bali yang diwakili Rotorio Dos Santos telah datang untuk menghadiri undangan SOMASI dari tim klinik hukum YY Diaz selaku kuasa hukum dari para ex-security (telampir), dan telah mengklarifikasi perihal keterlambatan pembayaran terhadap para ex-security yang bertugas untuk menjaga keamanan pra hingga pasca Perhelatan Pertemuan Annual Meetings lMF-World Bank Tahun 2018.

Valerian Libert Wangge menambahkan, saat ini bisa dibilang telah ada titik terang dengan kesediaan PT Magnum Indonesia Bali memberikan pembayaran tahap pertama. Dari ke 11 orang itu, semula mereka dijanjikan akan dibayar Rp 250 ribu per 12 jam. Padahal normalnya bayaran mereka adalah Rp 300 ribu sekali event. Tapi mereka bersedia, karena untuk acara IMF ini jangka waktunya cukup panjang. Tapi kali ini dibayarkan Rp 150 ribu per 12 jam dulu,” katanya.

Pada tahap pertama ini telah dibayarkan sebanyak Rp 40 juta, yang dibayarkan pada 11 orang security. Tapi berhubung 11 security menuntut pembayaran Rp 250 ribu sesuai perjanjian awal, maka pihak PT Magnum Indonesia Bali diberi tenggang waktu maksimal hingga 20 Desember untuk menyelesaikannya, dan jika sampai 20 Desember tidak ada pembayaran pelunasan, maka masing-masing pihak akan bertemu. Dan jika diperlukan akan ada upaya hukum lebih lanjut,” terang Valerian Libert.

Rotorio Dos Santos mengungkapkan, bahwa permasalahan hingga sekarang ini ada diproses untuk administrasinya lumayan panjang dan sampai saat ini kita belum menerima pembayaran dari PT. Pacto Ldt. Jadi kita masih kejar dan monitor terus setiap hari, tapi kita tetap berusaha agar secepatnya permasalahan ini selesai.

“Hingga saat ini pihaknya (PT. Magnum Indonesia Bali) belum mendapatkan pembayarannya, karena proses yang dilalui sangat panjang, dari sini ke Jakarta dan sebaliknya. Karena juga data yang kita kirim, mesti disinkronisasi oleh Pejabat Penerima Hasil Pekerjaan (PPHP). Tapi yang jelas untuk 11 orang ini, sore kali ini telah clear kok,” ujarnya.

Yosep Yulius Diaz selaku mediator menjelaskan, bahwa pertemuan sejumlah security dengan PT Magnum Indonesia Bali ini, sebagai langkah mediasi dan ternyata menghasilkan titik temu yang baik.

“Pertemuan sengaja digelar kali ini, dengan harapan agar permasalahan tidak melebar atau bias. Jangan sampai nanti ada tindakan tertentu dari anak-anak yang berujung dicap sebagai premanisme,” kata Yulius Diaz.

Selain itu, Yulius Diaz juga berharap, jangan sampai ada lagi pihak yang mengorbankan rakyat kecil karena hal ini menyangkut nama baik negara. “Karena event ini berskala internasional dan berjalan sukses. Masa di balik kesuksesan, ada riak soal hak atau gaji pekerja yang tidak dibayarkan,” pungkasnya. (Yd/Tim)

Facebook Comments Box