JATENG, (M-RADARNEWS.COM),-               Meningkatnya kasus terkonfirmasi positif Cornavirus Disease (Covid-19) yang terjadi di Kabupaten Boyolali yang masuk ke dalam wilayah zona merah, terutama pada Minggu (27/06/2021) kemarin mengalami peningkatan kasus yang paling tinggi sebanyak 435 kasus sehingga Kabupaten Boyolali masuk ke zona risiko tinggi.

Sebagai langkah memutus penyebaran Covid-19 di Kabupaten Boyolali, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Boyolali menerapkan Gerakan Boyolali di Rumah Saja pada Minggu (27/06/2021) kemarin. Kawasan pusat kota Boyolali, toko, kios, swalayan serta pasar tradisional hingga warung pun tutup pada hari itu.

Setelah diperbolehkan beraktivitas kembali, sejumlah pedagang pasar tradisional khususnya di Pasar Boyolali terlihat aktif pada, Senin (28/06/2021). Dijelaskan Kepala UPT Pasar Umum Boyolali Teguh Siswanto mengungkapkan, bahwa pedagang pasar sudah mulai beraktifitas kembali seperti biasa. Menurutnya, himbauan Gerakan Boyolali di Rumah Saja tersebut sudah disosialisasikan beberapa hari agar para pedagang siap.

“Kemarin memang hari, Jumat (25/06/2021) sudah diadakan sosialisasi kepada semua pedagang dan pengunjung bahwa Gerakan Boyolali di Rumah Saja sudah diumumkan pada hari Jumat pagi sudah disampaikan,” ujar Teguh.

Dikatakan lebih lanjut, dampak dari Gerakan Boyolali di Rumah Saja tersebut cukup terasa dari segi pendapatan dan pelayanan yang kurang maksimal dalam memenuhi kebutuhan masyarakat.. Akan tetapi, hal tersebut bisa teratasi karena masyarakat telah belanja memenuhi kebutuhan pokok pada, Sabtu (26/06/2021).

“Untuk dampak perekonomian memang dari pendapatan memang berkurang. Tapi untuk kebutuhan pokok dari masyarakat atau pengunjung pasar itu sudah antisipasi belanja di hari Sabtu,” katanya.

UPT Pasar Boyolali menaungi tujuh pasar dengan retribusi setiap hari berkisar Rp 3 juta. Dalam masa pandemi Covid-19 ini, jumlah omzet di Pasar Boyolali mencapai Rp2 Miliar.

Salah satu pedagang pasar Boyolali Eni Widayati mengungkapkan, bahwa dirinya mulai beraktifitas kembali untuk berjualan ayam setelah libur selama satu hari. “Saat ini agak lumayan karena kemarin tidak berjualan,” ujarnya.

Meski sempat libur selama satu hari, dia masih meraup keuntungan bersih separo dari keuntungan berjualan sebelum Gerakan Boyolali di Rumah Saja. Dari omzet berjualan Rp4-5 juta, dia mampu meraup keuntungan Rp1-1,5 juta dari hasil berjualan dua kuintal ayam setiap harinya. (red/hm)

Facebook Comments Box