BALI, (M-RADARNEWS.COM),- Terkait mencuatnya kabar berita tentang Bali yang dijual murah oleh sekelompok pengusaha nakal asal Tiongkok, permasalahan ini bisa dianggap merugikan bagi pelaku atau perusahaan industri pariwisata di Bali.

Sebuah acara teras dialog yang diselenggarakan oleh tim Media Center YYDiaz yang beralamat di Jalan Tukad Musi I/5 Renon, Denpasar pada, Minggu malam, 9 Desember 2018. Acara dialog tersebut bertemakan “Patgulipat di Balik Industri Pariwisata Bali”, selaku Moderator Syamsuddin Kalilauw dengan menghadirkan Narasumber diantaranya, Heri Sudiarto (ASITA) dan Ngurah Paramartha (Praktisi).

Heri Sudiarto dari Asosiasi Travel Agent Indonesia (ASITA) mengungkapkan, bahwa saat ini isu yang mencuat bukan persoalan murah atau mahal. Namun, dalam praktiknya ada ‘Pemaksaan’ terhadap turis Tiongkok yang berkunjung ke Bali. Praktik tak sehat itu dilakukan sendiri oleh mafia Tiongkok yang berbisnis di Bali, praktik ini yang bisa merusak perusahaan industri pariwisata.

“Soal harga itu mahal atau murah semuanya sudah ada segmen masing-masing. Namun faktanya ada temuan pelanggaran hukum dari para mafia atau oknum,” jelas Heri Sudiarto, Minggu (9/12/2018) malam.

Menurut Heri, turis Tiongkok yang masuk ke Bali saat ini tak sampai 1 persen dari pemegang paspor di negeri tirai bambu tersebut yang jumlahnya mencapai sekitar 200 juta orang. Menurutnya, Tiongkok menjadi pasar potensial bagi perkembangan pariwisata, untuk kedepannya terutama di Bali.
Pertumbuhan ekonomi di China, menurut Heri, diprediksi akan maju pesat di tahun 2035. Kondisi itu diyakini akan semakin menambah jumlah ‘orang kaya baru’ di Tiongkok menjadi 750 juta orang untuk kelas ekonomi menengah keatas.

Meski beberapa Toko Tiongkok di Bali dilarang beroperasi pasca penertiban yang dilakukan Pemerintah Provinsi Bali, namun Heri meyakinkan, hal itu bukan jadi alasan wisatawan oriental itu mengurungkan niatnya ke Bali.
Persoalan sepinya kunjungan ke Bali di akhir November hingga Desember tahun ini, kata Heri, lebih dipicu soal isu bencana alam yang terjadi di Lombok, serta gempa dan tsunami yang terjadi Palu dan Donggala.

“Tidak ada rasa jera dari turis Tiongkok. Malahan mereka berterima kasih kepada pemerintah kita di Bali dan berharap konsisten dengan upaya penertiban praktik ilegal ini,” terang Heri.

Pada kesempatan yang sama, Praktisi Ngurah Paramartha mengatakan, selama ini untuk target kedatangan atau para pengunjung wisatawan selalu menjadi tolok ukur mapannya bisnis pariwisata di Bali. Apalagi Bali sendiri sudah menjadi salah satu negara yang dituju, terutama sangat dikenal sebagai tempat wisata yang indah.

“Soal praktik nakal ini dari tahun ke tahun tidak pernah ada solusi. Sebenarnya, kita punya cukup banyak pengawasan mulai dari wisatawan masuk ke Bali melalui bandara sampai mereka pulang kembali ke negaranya,” ujarnya Ngurah Paramartha. (Yd/*)

Facebook Comments Box