Presiden Trump Tolak Tawaran Iran Buka Kembali Selat Hormuz

Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump menolak proposal Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz. Foto: istimewa

M-Radar News, Internasional – Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump mengatakan telah menolak proposal Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz. Pernyataan tersebut disampaikan setelah pejabat Iran, mengindikasikan jalur pelayaran strategis itu dapat kembali dibuka dalam waktu beberapa hari jika tercapai kesepakatan.

Trump menyampaikan hal tersebut kepada wartawan saat hendak menaiki Marine One di halaman Gedung Putih. Sebelumnya, AS dan Iran melakukan pembicaraan tidak langsung di sela-sela Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York.

“Saya menolak kesepakatan mereka. Mereka ingin membuat kesepakatan di mana mereka segera membuka selat karena mereka mengalami kerugian yang sangat besar,” kata Trump dikutib nbcnews, pada Sabtu (26/9/2026).

Menurut Trump, Iran menginginkan Selat Hormuz segera dibuka karena penutupan jalur tersebut berdampak besar terhadap pemasukan negara tersebut.

“Yang mereka inginkan adalah segera membuka Selat Hormuz. Tahukah Anda mengapa? Karena mereka sedang sekarat. Tahukah Anda mengapa mereka sekarat? Karena mereka tidak memiliki pemasukan uang karena mereka mendapatkan uang mereka dari Selat Hormuz,” ujarnya.

Trump juga mengklaim Amerika Serikat, telah melakukan blokade besar terhadap Iran. Pernyataan tersebut muncul setelah The Wall Street Journal sebelumnya melaporkan, bahwa Trump menolak tawaran Iran, untuk menghidupkan kembali gencatan senjata sekaligus membuka kembali Selat Hormuz.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran Abbas Araghchi mengatakan, bahwa pembukaan kembali Selat Hormuz bergantung pada keputusan Amerika Serikat.

“Jika syarat-syarat yang diperlukan terpenuhi, selat tersebut dapat dibuka kembali dan jalur pelayaran normal dapat dipulihkan dalam waktu tujuh hari,” kata Araghchi.

Araghchi mengatakan, Iran telah menyampaikan rencana konkret selama tujuh hari kepada AS melalui mediator Qatar. Menurutnya, rencana tersebut dapat segera dijalankan apabila Washington menyetujuinya.

Ia menjelaskan, salah satu tuntutan Iran adalah agar AS memenuhi komitmen yang sebelumnya disepakati dalam nota kesepahaman pada Juni, terkait rencana gencatan senjata sementara antara kedua negara. Kesepakatan tersebut kemudian runtuh beberapa hari setelah serangan baru terjadi.

Salah satu ketentuan dalam rencana tersebut adalah penerimaan AS terhadap rute transit maritim melalui Selat Hormuz yang telah disepakati Iran dan Oman, kata Araghchi.

Di sisi lain, seorang pejabat AS mengatakan, pemerintahan Trump masih melakukan pembicaraan melalui mediator. Menurut pejabat tersebut, proses negosiasi berlangsung positif dan konstruktif, tetapi Washington tidak terburu-buru mencapai kesepakatan.

“Amerika Serikat berada dalam posisi yang sangat kuat dengan kendali atas Selat Hormuz, jadi kami tidak terburu-buru,” kata pejabat tersebut, seraya menambahkan, hampir 40 juta barel minyak telah melewati selat tersebut dalam 48 jam terakhir.

Ketegangan terkait Selat Hormuz terjadi di tengah konflik antara AS dan Iran. Sebelumnya, Trump mengatakan masih mempertimbangkan pilihan antara menghancurkan Iran atau mencapai kesepakatan.

Pada Sabtu pagi, Trump juga mengunggah gambar Selat Hormuz melalui akun Truth Social miliknya dan memberi label kawasan tersebut sebagai “Selat Trump”.

Dalam wawancara dengan Al Jazeera, Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan, penyelesaian persoalan Selat Hormuz masih dapat dicapai melalui negosiasi. Namun, ia memperingatkan bahwa Iran tidak sepenuhnya percaya terhadap pembicaraan dengan Washington.

Pemerintahan Trump sebelumnya menyatakan tujuan serangan terhadap Iran, adalah mencegah negara tersebut mengembangkan senjata nuklir. Setelah konflik dimulai, Iran memblokir Selat Hormuz, jalur strategis yang sebelum konflik dilaporkan menjadi jalur transit sekitar 20 persen minyak dunia.

Penutupan selat tersebut kemudian memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi dan perekonomian global. Pezeshkian juga mengisyaratkan, bahwa Iran terbuka terhadap kesepakatan dengan AS untuk mengakhiri konflik sebelum pemilu paruh waktu AS pada November.

“Kami tidak ingin hal ini sampai ke pemilihan sela,” kata Pezeshkian dalam pertemuan dengan NBC News dan sejumlah organisasi media.

Sementara itu, Trump sebelumnya mengatakan yakin Iran tidak akan mencapai kesepakatan untuk mengakhiri konflik sebelum pemilu paruh waktu.

“Saya yakin kita akan membuat kesepakatan tepat setelah pemilihan karena tidak masuk akal bagi mereka untuk tidak melakukannya,” kata Trump.

Di tengah ketegangan tersebut, AS pekan ini juga mengumumkan sanksi terhadap perusahaan global yang melakukan bisnis dengan maskapai penerbangan Iran. Kebijakan tersebut ditujukan untuk membatasi operasional armada sipil Iran di berbagai negara.

Pemerintah Irak mengatakan, sedang bernegosiasi dengan AS untuk memulihkan penerbangan kemanusiaan menuju dan dari Iran. Langkah itu dilakukan setelah maskapai penerbangan Iran dilarang terbang ke sejumlah negara tetangga sebagai dampak dari sanksi AS.

Sedangkan Kantor Perdana Menteri Irak mengatakan, pihaknya berupaya mendapatkan pengecualian bagi sejumlah bandara di Irak, agar penerbangan dapat kembali dilakukan untuk kebutuhan kemanusiaan, termasuk perawatan medis, pendidikan, ziarah keagamaan, dan kepentingan warga sipil.

Sementara itu, kantor berita Iran Tasnim melaporkan penerbangan menuju Oman, Georgia, dan Azerbaijan juga telah dihentikan.

Perkembangan tersebut menunjukkan dampak konflik AS-Iran tidak hanya berimbas pada jalur perdagangan dan energi global, tetapi juga mulai memengaruhi konektivitas penerbangan sipil di kawasan Timur Tengah.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial M-Radar News.

Tutup