Presiden Trump Batalkan Rencana Siaran Langsung Eksekusi Pelaku Penembakan Fort Hood
M-Radar News, Internasional – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan, bahwa eksekusi terhadap Nidal Malik Hasan, pelaku penembakan yang menewaskan sejumlah personel militer di pangkalan militer Fort Hood, Texas, pada 2009, tidak akan disiarkan secara langsung.
Pernyataan Trump, pada Kamis (15/10/2026), menandai perubahan sikap pemerintahannya. Pekan lalu, Pentagon menyatakan bahwa eksekusi itu akan dilakukan secara terbuka dan disiarkan langsung. Trump juga sempat menyatakan dukungannya terhadap rencana tersebut.
Jika terlaksana, eksekusi itu akan menjadi eksekusi publik pertama di AS sejak 1936. Selama ini, pemerintah AS secara bergantian mengkritik sejumlah negara asing yang menerapkan eksekusi di depan umum.
Dalam unggahannya, Trump menyebut Hasan sebagai “orang yang sangat jahat dan keji”. Ia juga menuduh pemerintahan mantan Presiden Barack Obama melakukan “kegagalan intelijen” menjelang serangan di Texas yang menewaskan 13 orang.
“Meski saya berpikir bahwa menayangkan eksekusi secara langsung dapat menjadi peringatan keras bagi dunia tentang bagaimana Amerika menangani teroris dan sampah masyarakat seperti Hasan, banyak orang baik yang lebih memilih untuk tidak menyaksikan kematiannya melalui siaran langsung maupun media visual lainnya,” tulis Trump.
Trump menegaskan, bahwa eksekusi Hasan tetap akan dilaksanakan sesuai jadwal, tetapi tidak disiarkan secara langsung. “Dia akan dieksekusi sesuai jadwal oleh regu tembak, tetapi peristiwa ini tidak akan disiarkan langsung,” tulis Trump.
Ia menambahkan, bahwa keluarga korban dapat menyaksikan pelaksanaan eksekusi tersebut.
Pekan lalu, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengumumkan, bahwa eksekusi itu akan dilakukan secara “terbuka”.
“Orang-orang perlu memahami bahwa ada konsekuensi serius atas tindakan seperti ini,” kata Hegseth dalam wawancara dengan tokoh media sayap kanan, Jack Posobiec.
Hegseth juga menyebutkan, bahwa eksekusi dijadwalkan berlangsung pada 3 Desember pukul 13.00 waktu setempat atau pukul 18.00 GMT. Waktu tersebut bertepatan dengan waktu terjadinya penembakan pada 2009.
Pengumuman rencana siaran langsung eksekusi itu menuai kecaman dari sejumlah anggota parlemen, termasuk dari Partai Republik yang dipimpin Trump.
Melalui unggahan di platform X, Senator Republik John Curtis memperingatkan bahwa “peradaban akan terkikis ketika masyarakat mulai menikmati eksekusi sebagai bentuk hiburan”.
Wakil Presiden AS, JD Vance sebelumnya juga meragukan kemungkinan rencana eksekusi publik tersebut akan terlaksana. Ia mengatakan, tidak akan menontonnya jika siaran itu benar-benar dilakukan.
Sejumlah pakar hukum menilai siaran langsung eksekusi berpotensi melanggar hukum federal AS yang mengatur penyiaran materi cabul, tidak senonoh, atau mengandung gambaran grafis.
Mereka juga menyoroti sulitnya memastikan, bahwa siaran tersebut tidak dapat diakses oleh anak masih usia di bawah umur.
Para pengkritik turut mempertanyakan klaim Hegseth bahwa eksekusi publik dapat memberikan efek jera. Menurut mereka, penayangan tersebut justru berisiko mengagungkan pelaku dan menginspirasi orang lain untuk melakukan tindakan serupa.
Penolakan terhadap rencana itu juga tercermin dalam jajak pendapat ABC News-Washington Post-Ipsos.
Hasil survei tersebut menunjukkan bahwa hanya 18 persen responden mendukung penayangan eksekusi secara langsung, sedangkan 80 persen lainnya menolak rencana tersebut.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial M-Radar News.












