M-RADARNEWS.COM, JATENG – Gubernur Jawa Tengah (Jateng), Ahmad Luthfi bersama para aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Pemprov Jateng, mulai menerapkan kebiasaan baru dengan berangkat kerja menggunakan sepeda. Langkah ini menjadi bagian dari gerakan hemat energi yang tengah digencarkan di wilayahnya.
Pada Kamis (09/04/2026) pagi, deretan pesepeda ASN terlihat melintas di ruas-ruas jalan Kota Semarang menuju kantor pemerintahan. Di antara mereka tampak Kepala Bagian Hukum Setda Jateng, Haerudin yang kini rutin menempuh perjalanan sekitar 17 kilometer dari rumahnya di kawasan Pudak Payung, arah Ungaran.
“Perjalanannya sekitar satu jam. Lumayan melelahkan, tapi menjadi tantangan dan pengalaman baru,” ujar Haerudin saat ditemui di halaman Kantor Gubernur Jateng.
Haerudin mengaku harus menyesuaikan waktu keberangkatan. Jika sebelumnya pukul 06.15 WIB masih cukup, kini ia mulai mengayuh sepeda sebelum pukul enam. Meski begitu, ia menilai perubahan kecil itu membawa dampak positif bagi pola kerja ASN.
“Selain hemat energi, ini membentuk budaya kerja. Kita memberi contoh bahwa hidup hemat bisa dimulai dari hal kecil,” ucapnya.
Ia menambahkan, bersepeda ke kantor sekaligus menjadi edukasi bagi ASN untuk lebih disiplin dalam penggunaan energi. “Saatnya kita membudayakan bekerja dengan hemat energi. Kita harus memberi contoh kepada masyarakat,” tegas Haerudin.
Gubernur Ahmad Luthfi yang juga turut serta dalam kegiatan gowes tersebut. Mengendarai sepeda berwarna hitam, ia mengayuh bersama Sekda Sumarno, Kepala Dinas Komunikasi, Informasi, dan Digital Agung Hariyadi, serta sejumlah pejabat lainnya.
Sesampainya di kantor, Gubernur Luthfi menegaskan, bahwa gerakan hemat energi tidak boleh berhenti sebagai kampanye sesaat atau formalitas surat edaran.
“Ini bukan hanya perintah, tetapi harus dibudayakan. Bisa melalui olahraga, bekerja tepat waktu, termasuk skema WFH (work from home),” jelasnya.
Luthfi menjelaskan, bahwa kebiasaan hemat energi selaras dengan agenda besar Pemprov Jateng dalam memperkuat kemandirian energi daerah. Saat ini, ratusan desa mandiri energi telah terbentuk. Di sektor industri, pemerintah provinsi juga mendorong pemanfaatan energi terbarukan melalui insentif pajak.
Di sisi lain, Gubernur menyoroti persoalan distribusi LPG 3 kilogram yang masih sering dikeluhkan masyarakat. Ia menyebut bahwa berdasarkan data, stok LPG subsidi sebenarnya sangat mencukupi.
“Ketersediaan sebenarnya mencukupi, bahkan hingga enam kali kebutuhan. Masalahnya ada pada penyalahgunaan di lapangan,” tegasnya.
Gubernur Luthfi kembali mengingatkan, bahwa LPG 3 kilogram hanya diperuntukkan bagi rumah tangga, nelayan kecil, dan pelaku usaha mikro. “Penimbunan maupun penggunaan oleh pelaku usaha besar tidak akan kami toleransi,” tandasnya. (ed/**)
