Penampilan Tabuh Kreasi Eling Ilang Duta Tabanan Sita Perhatian Penonton
M-RadarNews, Bali – Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-48 Tahun 2026 pada hari ke-18, Selasa, 30 Juni 2026 malam, menghadirkan pertunjukan yang memukau di Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Provinsi Bali. Acara Rekasadana atau Pergelaran Utsawa (Parade) Gong Kebyar Wanita menampilkan duta dari Kabupaten Bangli dan Kabupaten Tabanan sebagai pendamping. Namun, sorotan utama malam itu jatuh pada penampilan Sekaa Gong Remaja Tri Yowana Sandhi dari Desa Baturiti, Kecamatan Kerambitan, Kabupaten Tabanan. Mereka menyajikan Tari Kreasi Eling Ilang, sebuah karya yang tidak hanya memanjakan mata dan telinga, tetapi juga menyentuh jiwa para penonton yang memenuhi arena.
Makna Mendalam di Balik Tari Kreasi Eling Ilang
Tari Kreasi Eling Ilang bukan sekadar tarian biasa. Karya ini merepresentasikan konsep Jiwa Sida Parisudha, yaitu tujuan akhir setiap manusia yang terlahir ke dunia. Jiwa Sida Parisudha melambangkan kesempurnaan atau tingkat pelepasan dari keterikatan duniawi yang tidak mudah diraih.
Menurut penata tari I Putu Suta Muliartawan, pencapaian tersebut dapat ditempuh melalui banyak jalan, dan salah satunya adalah eling. Eling berarti kesadaran penuh terhadap segala dharma yang dijalankan dalam swadharma masing-masing.
Misalnya, ketika seseorang menjadi pemimpin, ia harus memimpin dengan dharma, tidak memihak pada golongan tertentu demi kepentingan pribadi. Namun, ketika eling atau kesadaran itu ilang, maka kepercayaan pun akan mulai memudar.
Interpretasi Musikal dan Filosofis
Dalam konteks musikal, tabuh kreasi ini melambangkan kebebasan murni dalam berkesenian Bali, khususnya seni gamelan. Meskipun bebas, para seniman tetap eling, artinya tidak meninggalkan uger-uger (aturan) dan tatanan penggarapan musik tradisional Bali. Mereka tidak menutup telinga dan mata terhadap perkembangan kreatif, demi kelestarian kesenian tradisional yang diwarisi. Perpaduan antara kebebasan dan disiplin inilah yang membuat penampilan Duta Tabanan begitu memikat.
Kronologi Pertunjukan Malam Itu
Berikut adalah kronologi acara pada malam pertunjukan:
| Waktu | Acara | Keterangan |
|---|---|---|
| 19.00 WITA | Pembukaan oleh panitia PKB | Sambutan dan doa |
| 19.30 WITA | Penampilan Duta Kabupaten Bangli | Menampilkan tari kreasi daerah |
| 20.15 WITA | Penampilan Duta Kabupaten Tabanan | Menyajikan Tari Kreasi Eling Ilang |
| 21.00 WITA | Penutupan | Penonton tetap bertahan hingga akhir |
Dampak dan Implikasi bagi Masyarakat dan Industri Seni Bali
Penampilan ini tidak hanya menghibur, tetapi juga memberikan dampak positif bagi masyarakat dan industri seni Bali. Beberapa dampak tersebut antara lain:
- Peningkatan Apresiasi Seni: Masyarakat semakin tertarik pada seni tradisional Bali, terutama generasi muda yang menyaksikan kreativitas tanpa meninggalkan pakem.
- Inspirasi bagi Seniman Lain: Karya Eling Ilang menjadi contoh bagaimana kebebasan berkreasi dapat berjalan seiring dengan pelestarian tradisi.
- Promosi Pariwisata Budaya: Acara seperti PKB menarik wisatawan domestik dan mancanegara, sehingga mendukung sektor pariwisata Bali.
- Penguatan Identitas Daerah: Kabupaten Tabanan berhasil menunjukkan potensi seni budayanya, yang dapat menjadi kebanggaan dan daya tarik daerah.
Profil Kreator di Balik Tari Eling Ilang
Tari Kreasi Eling Ilang digarap oleh penata muda berbakat, I Putu Suta Muliartawan. Ia berhasil memadukan unsur tradisional dan kontemporer tanpa menghilangkan esensi filosofis. Pembina kelompok, I Putu Agus Wahyu Budiyasa, turut memberikan arahan sehingga penampilan berjalan sempurna. Keduanya adalah contoh seniman yang eling terhadap warisan budaya, namun tetap terbuka pada inovasi.
Respons Penonton yang Antusias
Sepanjang pertunjukan, penonton yang memenuhi Ardha Candra tidak henti-hentinya memberikan tepuk tangan. Bahkan hingga pertunjukan berakhir, mereka tetap setia di kursi masing-masing, seolah enggan meninggalkan suasana magis yang tercipta. Seorang penonton asal Denpasar, Ni Wayan Sari, mengungkapkan kekagumannya: “Tarian ini sangat dalam maknanya. Saya merasa terhubung dengan pesan tentang kesadaran dan tanggung jawab sebagai manusia. Musiknya juga sangat indah.”
Malam itu, di panggung Ardha Candra, Tari Kreasi Eling Ilang tidak hanya menjadi hiburan, melainkan juga medium refleksi bagi siapa pun yang menyaksikannya. Di tengah gemuruh gamelan dan gemulai gerakan penari, pesan tentang pentingnya eling kesadaran penuh dalam setiap langkah kehidupan tertanam dalam benak para penonton. PKB ke-48 kembali membuktikan, bahwa seni tradisional Bali bukanlah masa lalu yang statis, melainkan entitas hidup yang terus berkembang, menginspirasi, dan menyatukan. Ketika eling dijaga, seni pun abadi.










