Ahli Gizi: Data Akurat Jadi Kunci Penanganan Stunting di Bali
M-RadarNews – Denpasar – Penanganan stunting di Bali menghadapi tantangan serius terkait ketersediaan data yang akurat dan terkini. Meskipun berbagai program nasional telah digulirkan, peningkatan prevalensi stunting dari 7,2 persen pada 2023 menjadi 8,7 persen pada 2024 berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) menunjukkan perlunya evaluasi mendalam terhadap strategi yang dijalankan. Ahli Gizi sekaligus Akademisi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, Dr. Ni Ketut Sutiari, S.KM, M.Si, menegaskan bahwa data yang baik adalah fondasi utama dalam menentukan kebijakan yang tepat sasaran.
Realitas di Lapangan: Data SSGI 2024 Jadi Patokan
Dr. Ni Ketut Sutiari mengungkapkan bahwa hingga saat ini data SSGI tahun 2024 masih menjadi acuan utama untuk melihat kondisi stunting di Bali. “Data terbaru yang bisa kita gunakan masih SSGI tahun 2024. Untuk Bali terjadi peningkatan dari 7,2 persen pada tahun 2023 menjadi 8,7 persen pada tahun 2024. Sementara untuk data setelah itu belum ada pembaruan, sehingga kita belum bisa memastikan perkembangan prevalensi stunting berikutnya,” ujarnya pada Jumat, 3 Juli 2026. Keterbatasan data terkini ini menjadi kendala dalam memonitor efektivitas intervensi yang telah dilakukan.
Tantangan Unik Setiap Daerah di Bali
Bali terdiri dari sembilan kabupaten/kota dengan karakteristik geografis, sosial, dan ekonomi yang beragam. Menurut Dr. Sutiari, setiap daerah memiliki tantangan yang berbeda dalam upaya menurunkan angka stunting sehingga penanganannya tidak bisa disamaratakan. Misalnya, daerah perkotaan seperti Denpasar menghadapi masalah pola makan modern yang kurang bergizi, sementara daerah pedesaan di Karangasem atau Bangli lebih terkendala akses terhadap pangan bergizi dan layanan kesehatan. “Setiap daerah memiliki tantangan yang berbeda sehingga penanganannya juga perlu disesuaikan,” tegasnya.
Peran Posyandu dan Pemutakhiran Data
Posyandu sebagai garda terdepan dalam pemantauan pertumbuhan anak memiliki peran krusial. Dr. Sutiari menambahkan, “Yang perlu menjadi perhatian adalah pemutakhiran data. Data yang baik akan menggambarkan kondisi sebenarnya sehingga program yang dijalankan bisa lebih tepat sasaran.” Sayangnya, banyak posyandu yang masih terkendala dalam pencatatan dan pelaporan data secara digital, sehingga informasi yang masuk ke pusat seringkali tidak akurat atau terlambat. Penguatan kapasitas kader posyandu dalam penggunaan teknologi informasi menjadi salah satu solusi yang mendesak.
| Tahun | Prevalensi Stunting Bali (SSGI) | Keterangan |
|---|---|---|
| 2023 | 7,2% | Data SSGI |
| 2024 | 8,7% | Data SSGI terbaru |
Program Nasional yang Berjalan
Pemerintah pusat melalui Kementerian Kesehatan telah menjalankan berbagai program intervensi gizi yang menyasar kelompok sasaran strategis, yaitu:
- Remaja putri: Pemberian tablet tambah darah dan edukasi gizi.
- Calon pengantin: Skrining kesehatan dan konseling gizi pranikah.
- Ibu hamil: Pemberian makanan tambahan (PMT) dan suplemen zat besi.
- Ibu menyusui: Dukungan ASI eksklusif dan MP-ASI.
- Balita: Pemantauan pertumbuhan di posyandu dan PMT pemulihan bagi yang underweight.
Namun, efektivitas program-program ini sangat bergantung pada akurasi data sasaran. Tanpa data yang valid, bantuan bisa salah sasaran atau tidak tepat waktu. Dr. Sutiari menekankan perlunya integrasi data antara posyandu, puskesmas, dan dinas kesehatan kabupaten/kota agar informasi mengalir secara real-time.
Dampak dan Implikasi bagi Masyarakat Bali
Jika stunting tidak tertangani dengan baik, dampak jangka panjangnya sangat serius. Anak yang mengalami stunting berisiko memiliki kemampuan kognitif yang rendah, produktivitas yang menurun saat dewasa, dan rentan terhadap penyakit degeneratif. Hal ini pada akhirnya akan membebani sistem kesehatan dan menghambat pertumbuhan ekonomi Bali. Sektor pariwisata yang menjadi andalan Bali juga akan terpengaruh karena kualitas sumber daya manusia yang rendah tidak mampu bersaing di industri jasa yang semakin kompetitif.
Selain itu, peningkatan prevalensi stunting dapat menurunkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Bali yang selama ini termasuk salah satu yang tertinggi di Indonesia. Oleh karena itu, investasi pada data yang akurat dan intervensi gizi yang tepat merupakan langkah strategis untuk mempertahankan posisi Bali sebagai provinsi dengan kualitas hidup yang baik.
Langkah ke Depan: Rekomendasi Ahli
Dr. Ni Ketut Sutiari merekomendasikan beberapa langkah konkret yang dapat diambil oleh pemerintah daerah dan pemangku kepentingan:
- Mempercepat digitalisasi pencatatan di posyandu dan puskesmas.
- Melakukan pelatihan berkelanjutan bagi kader posyandu dalam pengelolaan data.
- Mengadakan survei gizi lokal secara berkala (misal setiap 6 bulan) untuk melengkapi data SSGI.
- Menyelaraskan program intervensi dengan karakteristik spesifik setiap kabupaten/kota.
- Melibatkan akademisi dalam analisis data dan evaluasi program.
Dengan langkah-langkah tersebut, diharapkan penanganan stunting di Bali dapat lebih responsif dan efektif.
Penutup
Data yang akurat bukan sekadar angka, melainkan cermin kondisi riil masyarakat. Di Bali, di mana pembangunan kesehatan telah menjadi prioritas, kenaikan prevalensi stunting menjadi alarm yang tidak boleh diabaikan. Melalui komitmen bersama antara pemerintah, akademisi, tenaga kesehatan, dan masyarakat, tantangan ini dapat diatasi. Kuncinya ada pada data yang valid, intervensi yang tepat sasaran, dan sinergi lintas sektor. Masa depan generasi Bali bergantung pada langkah nyata yang diambil hari ini.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial M-Radar News.