Piodalan ke-33 Pura Agung Jagatnatha Buleleng: Umat Diajak Jaga Kebersihan dan Kesucian Pura
M-Radar News – Singaraja – Pura Agung Jagatnatha Buleleng, pura terbesar di Kabupaten Buleleng, akan menggelar Piodalan ke-33 pada Purnama Kaesa, Senin 29 Juni 2026. Ketua Panitia Piodalan, I Gede Sandhiyasa, mengajak seluruh umat Hindu untuk tangkil (bersembahyang) dan turut serta dalam rangkaian upacara yang berlangsung hingga 8 Juli 2026. Namun, di balik kemeriahan ritual, ada pesan penting yang disampaikan: menjaga kebersihan, kesucian pura, dan menerapkan konsep Tri Hita Karana.
Makna Piodalan bagi Umat Hindu Buleleng
Piodalan di Pura Agung Jagatnatha bukan sekadar upacara rutin tahunan. Menurut Sandhiyasa, meskipun tahun ini tidak tergolong upacara besar, momentum ini sangat penting karena pura tersebut merupakan pusat persembahyangan umat Hindu di Buleleng. “Walaupun ini bukan upacara besar, piodalan di Pura Agung Jagatnatha merupakan momentum yang sangat penting karena pura ini adalah pura terbesar di Kabupaten Buleleng,” ujarnya kepada RRI, Jumat (26/6/2026).
Ia menambahkan, kehadiran umat tidak hanya sebagai bentuk bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, tetapi juga sebagai doa bersama untuk keselamatan, kesejahteraan, dan keharmonisan masyarakat Buleleng. “Piodalan ini menjadi momentum bagi umat untuk meningkatkan sradha dan bhakti melalui persembahyangan bersama. Mudah-mudahan dengan kehadiran umat untuk ngaturang sembah bhakti, Bhuana Agung dan Bhuana Alit senantiasa memperoleh kerahayuan dan kesejahteraan bersama,” katanya.
Jadwal Rangkaian Piodalan ke-33
| Tanggal | Kegiatan |
|---|---|
| 29 Juni 2026 (Purnama Kaesa) | Puncak Piodalan |
| 30 Juni – 8 Juli 2026 | Penganyar dari masing-masing kecamatan se-Kabupaten Buleleng |
Setelah puncak upacara, rangkaian dilanjutkan dengan penganyar (persembahan) dari setiap kecamatan. Hal ini menunjukkan partisipasi luas umat Hindu dari seluruh pelosok Buleleng.
Imbauan Menjaga Kebersihan dan Ketertiban
Sandhiyasa mengingatkan pentingnya menjaga ketertiban dan kebersihan selama berada di kawasan pura. Umat diharapkan memperhatikan tata busana sembahyang sesuai etika serta ketentuan yang berlaku. “Pada saat tangkil kami harapkan nantinya mengikuti ketentuan, terutama tata busana. Juga peduli pada program pemerintah terkait pemilahan sampah agar tidak mengotori areal pura. Sampah organik dipisahkan dengan sampah anorganik,” ucapnya.
Langkah ini sejalan dengan program pemerintah daerah tentang pengelolaan sampah. Panitia menyediakan tempat sampah terpisah dan mengajak umat untuk aktif memilah. Menurut Sandhiyasa, menjaga kebersihan lingkungan pura merupakan bagian dari penerapan nilai-nilai Hindu yang menekankan keseimbangan antara Bhuana Agung (makrokosmos) dan Bhuana Alit (mikrokosmos), sekaligus bentuk tanggung jawab bersama dalam menjaga kesucian tempat ibadah.
Tri Hita Karana: Harmoni dalam Setiap Aspek
Lebih lanjut, Sandhiyasa mengajak umat menjadikan piodalan sebagai momentum memperkuat penerapan konsep Tri Hita Karana, yakni menjaga keharmonisan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan lingkungan. “Termasuk bagaimana meningkatkan hubungan kita sesuai konsep Tri Hita Karana, hubungan dengan Tuhan, hubungan dengan sesama, dan palemahan atau lingkungan,” ujarnya.
Konsep ini menjadi fondasi dalam setiap kegiatan keagamaan Hindu. Dengan menjaga kebersihan, umat tidak hanya menjalankan kewajiban ritual, tetapi juga merawat lingkungan sebagai wujud cinta kasih kepada alam.
Dampak dan Implikasi bagi Masyarakat Buleleng
Piodalan ini diharapkan membawa dampak positif bagi masyarakat Buleleng, tidak hanya secara spiritual tetapi juga sosial dan lingkungan. Beberapa implikasi yang dapat dipetik antara lain:
- Peningkatan Kesadaran Lingkungan: Ajakan memilah sampah di area pura dapat menjadi contoh bagi kegiatan keagamaan lainnya dan mendorong kebiasaan bersih di masyarakat.
- Penguatan Identitas Budaya: Pura Agung Jagatnatha sebagai pusat persembahyangan memperkuat identitas Hindu di Buleleng dan menjadi daya tarik wisata religi.
- Kerukunan Sosial: Partisipasi umat dari berbagai kecamatan mempererat tali persaudaraan dan gotong royong.
- Kesejahteraan Spiritual: Doa bersama untuk keselamatan dan kesejahteraan diharapkan membawa ketenangan batin bagi umat.
Penutup
Piodalan ke-33 Pura Agung Jagatnatha Buleleng bukanlah sekadar ritual tahunan, melainkan panggilan untuk merenungkan kembali hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam. Di tengah gemerlap persembahan dan kidung suci, pesan sederhana namun mendalam tentang kebersihan dan kesucian menjadi pengingat bahwa bhakti sejati juga diwujudkan dalam tindakan nyata menjaga lingkungan. Semoga rangkaian piodalan berlangsung lancar, khidmat, dan membawa kerahayuan bagi seluruh umat Hindu serta masyarakat Buleleng.







