Jadwal Penganyar Piodalan Pura Agung Jagatnatha Buleleng Dimulai 30 Juni 2026

Jadwal Penganyar Piodalan Pura Agung Jagatnatha Buleleng Dimulai 30 Juni 2026

M-Radar News – Singaraja – Piodalan Pura Agung Jagatnatha Kabupaten Buleleng tahun 2026 akan segera berlangsung dengan puncak pelaksanaan pada Purnama Kaesa, Senin 29 Juni 2026. Rangkaian suci ini kemudian dilanjutkan dengan Ngaturang Penganyar dari masing-masing kecamatan se-Kabupaten Buleleng, mulai Selasa, 30 Juni 2026 hingga Rabu, 8 Juli 2026. Kegiatan ini menjadi momen penting bagi umat Hindu di Buleleng untuk mempersembahkan banten penganyar sebagai wujud bhakti dan partisipasi kolektif.

Makna dan Latar Belakang Piodalan

Piodalan Pura Agung Jagatnatha Buleleng merupakan perayaan tahunan yang diadakan setiap Purnama Kaesa. Pura ini adalah pusat spiritual Hindu di Kabupaten Buleleng, terletak di pusat kota Singaraja. Piodalan tidak hanya sekadar upacara keagamaan, tetapi juga menjadi ajang memperkuat sradha (keyakinan) dan bhakti umat, serta menjaga kesucian kawasan pura. Tradisi Ngaturang Penganyar sendiri memiliki akar sejarah panjang, di mana setiap kecamatan bergiliran menghaturkan sembah bhakti dalam bentuk banten dan runtutan sesuai ketentuan adat.

Jadwal Lengkap Ngaturang Penganyar

Berdasarkan pemberitahuan Prajuru Pura Agung Jagatnatha Buleleng, rangkaian Ngaturang Penganyar dijadwalkan sebagai berikut:

Tanggal Hari Kecamatan Wuku Waktu
30 Juni 2026 Selasa Gerokgak Anggara Pon Langkir 15.00 – selesai
1 Juli 2026 Rabu Seririt Buda Wage Langkir 15.00 – selesai
2 Juli 2026 Kamis Banjar Wraspati Kliwon Langkir 15.00 – selesai
3 Juli 2026 Jumat Busungbiu Sukra Umanis Langkir 15.00 – selesai
4 Juli 2026 Sabtu Sukasada Saniscara Paing Langkir 15.00 – selesai
5 Juli 2026 Minggu Sawan Redite Pon Medangsia 15.00 – selesai
6 Juli 2026 Senin Kubutambahan Soma Wage Medangsia 15.00 – selesai
7 Juli 2026 Selasa Tejakula Anggara Kliwon Medangsia 15.00 – selesai
8 Juli 2026 Rabu Buleleng Buda Umanis Medangsia 14.00 – selesai

Khusus Kecamatan Buleleng, waktu ngaturang penganyar dimajukan satu jam lebih awal, yaitu pukul 14.00 WITA. Hal ini dikarenakan terdapat rangkaian kegiatan terkait ngiringang Ida Bhatara ngaturang suci penerus sidhakarya serta ngantukang Bhatara Tirtha saking kahyangan jagat Bali ke Segara Pabeyan (eks Pelabuhan Buleleng).

Kronologi dan Rangkaian Acara

  • 29 Juni 2026 (Purnama Kaesa): Puncak piodalan di Pura Agung Jagatnatha Buleleng. Upacara inti berlangsung khidmat dipimpin oleh sulinggih dan prajuru pura.
  • 30 Juni – 8 Juli 2026: Ngaturang Penganyar oleh sembilan kecamatan secara bergiliran setiap sore hari.
  • 8 Juli 2026 (khusus Kecamatan Buleleng): Selain penganyar, juga ada prosesi ngiringang Bhatara ke Segara Pabeyan untuk melaksanakan upacara tirtha yatra.

Dampak dan Implikasi bagi Masyarakat

Piodalan ini bukan hanya ritual keagamaan, melainkan juga memiliki dampak sosial dan ekonomi. Secara sosial, kegiatan ini mempererat tali persaudaraan antarwarga kecamatan dan antarwarga desa. Gotong royong dalam menyiapkan banten dan perlengkapan upacara menjadi momen kebersamaan yang memperkuat kohesi sosial. Dari sisi ekonomi, perputaran uang terjadi melalui pembelian sesajen, busana adat, dan konsumsi. Pedagang kecil di sekitar pura dan pasar tradisional mendapatkan berkah ekonomi. Selain itu, pariwisata spiritual juga terdampak positif, karena pura menjadi tujuan wisata religi bagi wisatawan domestik dan mancanegara. Pemerintah daerah diharapkan dapat mengelola potensi ini dengan baik, misalnya dengan menyediakan infrastruktur pendukung seperti area parkir dan kebersihan lingkungan.

Harapan Panitia dan Pesan Moral

Panitia berharap seluruh rangkaian Piodalan Pura Agung Jagatnatha Buleleng dapat berjalan lancar, tertib, dan khidmat. Momentum piodalan ini juga diharapkan menjadi kesempatan bagi umat Hindu untuk meningkatkan sradha dan bhakti serta menjaga kesucian dan kebersihan kawasan pura. Bagi masyarakat umum, piodalan mengajarkan nilai-nilai ketulusan, kebersamaan, dan penghormatan terhadap tradisi leluhur. Dengan mengikuti jadwal yang telah ditetapkan, umat dapat berpartisipasi secara tepat waktu dan khusyuk.

Piodalan Pura Agung Jagatnatha Buleleng 2026 bukan sekadar perayaan tahunan, melainkan cerminan kekayaan budaya Bali yang terus hidup dan diwariskan. Dari puncak Purnama Kaesa hingga rangkaian Penganyar, setiap langkah adalah napas spiritual yang menghubungkan manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam. Di tengah modernitas, tradisi ini tetap relevan sebagai pengingat akan harmoni dan keseimbangan hidup.

Tutup