Zelenskyy Kecam Kesepakatan Solar Trump-Putin Usai Rusia Serangan Rusia ke Ukraina
M-Radar News, Internasional – Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy mengecam keras kesepakatan impor solar skala besar antara Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin.
Zelenskyy menilai, kelonggaran sanksi tersebut menjadi bahan bakar bagi Moskow untuk melanjutkan agresi, yang dibuktikan dengan serangan bom luncur Rusia ke pemukiman warga sipil di Zaporizhzhia.
Serangan udara Rusia di wilayah tenggara Ukraina, pada Sabtu pagi tersebut menewaskan sedikitnya 20 orang, termasuk tiga anak-anak. Serangan itu juga memicu pemadaman listrik skala besar di ibu kota Kyiv.
”Hari ini, Rusia menyampaikan ‘terima kasih’ atas pencabutan sanksi ekspor diesel dengan menjatuhkan lima bom luncur di gedung perumahan Zaporizhzhia,” ujar Zelenskyy dikutib theguardian, pada Sabtu (10/10/2026).
Menurutnya, setiap pelonggaran tekanan keuangan hanya akan dinilai Moskow sebagai lampu hijau untuk memperpanjang perang.
Kesepakatan solar yang diumumkan Trump pada Jumat tersebut mengejutkan Kyiv, sebab diumumkan saat negosiator Ukraina tengah berada di Miami, untuk pembicaraan damai.
Trump mengklaim langkah itu diperlukan demi menekan harga bahan bakar domestik AS, menjelang pemilihan paruh waktu November.
Eskalasi Ketegangan Trump-Zelenskyy
Hubungan Washington dan Kyiv kian memanas, setelah Trump menyalahkan Zelenskyy atas tingginya harga solar global dan lambatnya proses perdamaian. Trump, bahkan secara terbuka menyarankan agar Ukraina mengganti kepemimpinannya.
”Saya sarankan mereka mencari pemimpin baru yang bisa membuat kesepakatan,” kata Trump.
Laporan Financial Times menyebutkan bahwa dalam pertemuan di Miami, utusan Trump, Steve Witkoff dan Jared Kushner bahkan mengancam akan memutus berbagi intelijen AS jika Ukraina tidak menghentikan serangan terhadap kilang minyak Rusia.
Reaksi Keras Uni Eropa dan Sekutu NATO
Langkah sepihak Washington, memicu keresahan di kalangan sekutu Eropa. Diplomat tertinggi Uni Eropa, Kaja Kallas, menegaskan bahwa Eropa tidak akan mengurangi tekanan terhadap Moskow.
”Ini bukan saatnya mengurangi tekanan pada Rusia. Pada Senin mendatang, Uni Eropa berencana menyetujui daftar sanksi terbesar sejak awal perang, yang mencakup 1.600 individu dan entitas baru,” tegas Kallas.
Penyesalan serupa disampaikan Perdana Menteri Swedia, Ulf Kristersson yang mengingatkan, bahwa pendapatan energi merupakan sumber pendanaan vital bagi mesin perang Rusia.
Sementara itu, Pemerintah Jerman menegaskan komitmennya untuk tetap memberlakukan sanksi ketat terhadap Moskow.
Berbeda dengan respons Barat, Kremlin menyambut hangat kesepakatan tersebut. Ajudan Kebijakan Luar Negeri Kremlin, Yuri Ushakov menggambarkan pembicaraan telepon antara Trump dan Putin berlangsung “substantif dan ramah.”
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial M-Radar News.















