CIMSA UNEJ Tingkatkan Kesadaran Kesehatan Petani Jember lewat Program ANALGESIC
M-Radar News – Jember – Sektor pertanian merupakan tulang punggung ketahanan pangan nasional. Namun, di balik hasil panen yang melimpah, tersimpan tantangan kesehatan yang kerap terabaikan bagi para petani. Menanggapi hal tersebut, SCORP CIMSA FK UNEJ melalui program pengabdian masyarakat ANALGESIC (Raising Health Awareness in Agricultural Society) terus menggencarkan edukasi mengenai pentingnya praktik pertanian sehat bagi masyarakat di Desa Gumuksari, Kecamatan Kalisat, Jember.
Latar Belakang: Petani dan Risiko Kesehatan yang Terlupakan
Petani di Indonesia, khususnya di Jember, menghadapi risiko kesehatan yang signifikan akibat paparan bahan kimia pertanian. Data dari Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa kasus gangguan pernapasan dan dermatitis pada petani cukup tinggi, namun kesadaran akan penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) masih rendah. Program ANALGESIC hadir untuk menjembatani kesenjangan ini.
Dialog Interaktif di RRI Jember
Dalam dialog program Jaga Malam di Pro 2 RRI Jember pada Jumat, 26 Juni 2026, Kepala Bidang SCORP CIMSA FK UNEJ, Rakha Nazwar Alam, menegaskan bahwa kesehatan petani tidak bisa dipisahkan dari keberlangsungan lingkungan. Rakha menjelaskan bahwa paparan bahan kimia dapat terjadi melalui tiga jalur: inhalasi (terhirup), absorpsi (melalui kulit), dan ingesti (tertelan). “Jika terus-menerus tanpa masker atau sarung tangan, petani berisiko terkena gangguan pernapasan, dermatitis kontak pada kulit, hingga masalah otot dan sendi,” ujar Rakha.
Edukasi dan Workshop Praktis
Melalui program ANALGESIC, mahasiswa kedokteran UNEJ bersama komunitas NANDURO memberikan edukasi mengenai manfaat pupuk organik sebagai alternatif yang lebih aman dan berkelanjutan. Penggunaan pupuk kimia secara berlebihan tidak hanya mengancam kesehatan manusia, tetapi juga berdampak buruk bagi ekosistem lingkungan, seperti pencemaran air dan penurunan kualitas kesuburan tanah dalam jangka panjang. Sebaliknya, pupuk organik yang dapat dibuat dari limbah rumah tangga berperan penting dalam memperbaiki struktur tanah dan meningkatkan aktivitas mikroorganisme yang bermanfaat.
Kegiatan ANALGESIC tidak hanya sekadar memberikan teori, tetapi juga mengadakan workshop praktis pembuatan pupuk mandiri. Hal ini sejalan dengan konsep One Health, di mana kesehatan manusia sangat bergantung pada kesehatan lingkungan yang terjaga.
Jenis Risiko Kesehatan pada Petani
| Jenis Risiko | Penyebab | Dampak |
|---|---|---|
| Gangguan Pernapasan | Inhalasi pestisida dan debu pertanian | Bronkitis kronis, asma, penurunan fungsi paru |
| Dermatitis Kontak | Kontak kulit dengan pupuk kimia | Iritasi, ruam, infeksi sekunder |
| Gangguan Muskuloskeletal | Postur kerja tidak ergonomis | Nyeri punggung, cedera sendi |
| Keracunan Akut | Tertelan atau terhirup pestisida dosis tinggi | Mual, muntah, gangguan saraf, kematian |
Dampak dan Implikasi Program
Program ANALGESIC diharapkan menjadi investasi jangka panjang. Petani yang sehat akan lebih produktif, yang pada akhirnya menjaga ketahanan pangan nasional secara berkelanjutan. Masyarakat Jember diajak untuk mulai menerapkan pertanian sehat yang lebih ramah lingkungan, dimulai dari langkah-langkah kecil di rumah tangga sendiri. Keberhasilan program ini dapat menjadi model bagi daerah pertanian lain di Indonesia.
Langkah-Langkah Praktis Pertanian Sehat
- Gunakan APD: masker, sarung tangan, pakaian lengan panjang, sepatu boots.
- Beralih ke pupuk organik buatan sendiri dari limbah dapur.
- Cuci tangan setelah kontak dengan bahan kimia.
- Rutin memeriksakan kesehatan ke fasilitas terdekat.
Rakha menambahkan, “Sebagai mahasiswa kedokteran, kami berperan sebagai health advocate dan agent of change. Kami ingin memastikan bahwa produktivitas pertanian tetap terjaga tanpa harus mengorbankan kesehatan petani itu sendiri.” Program ini merupakan wujud nyata kontribusi mahasiswa dalam pembangunan kesehatan masyarakat.
Dengan pendekatan yang holistik dan partisipatif, ANALGESIC tidak hanya meningkatkan kesadaran, tetapi juga membekali petani dengan keterampilan praktis. Inisiatif ini diharapkan dapat menginspirasi lebih banyak pihak untuk peduli terhadap kesehatan petani yang selama ini menjadi pahlawan pangan tanpa tanda jasa.







