Kesadaran Diri Bentengi Generasi Muda Dari Pinjol dan Judol

Kesadaran Diri Bentengi Generasi Muda Dari Pinjol dan Judol

M-Radar News – Singaraja – Kemajuan teknologi digital telah membawa kemudahan luar biasa dalam kehidupan sehari-hari, termasuk akses terhadap layanan keuangan. Namun, di balik kemudahan tersebut, muncul ancaman serius berupa maraknya pinjaman online (pinjol) dan judi online (judol) yang semakin mudah dijangkau oleh berbagai kalangan, terutama generasi muda. Psikolog Laras Purnamasari, S.Psi., M.Psi., dalam Obrolan SPADA RRI Singaraja, Kamis, 25 Juni 2026, menegaskan bahwa persoalan ini tidak cukup diselesaikan hanya dengan penegakan hukum, tetapi memerlukan penguatan kesadaran diri dan kemampuan mengelola tekanan hidup.

Fenomena Pinjol dan Judol di Indonesia

Maraknya pinjol dan judol telah menjadi isu nasional yang memprihatinkan. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat bahwa jumlah pinjaman online ilegal terus meningkat, dengan kerugian masyarakat mencapai triliunan rupiah. Sementara itu, judi online tidak hanya merugikan secara finansial, tetapi juga menyebabkan gangguan mental dan sosial. Generasi muda, yang akrab dengan teknologi, menjadi sasaran empuk karena mudah tergiur dengan janji keuntungan instan.

Aspek Pinjol Ilegal Judol
Dampak Finansial Bunga tinggi, denda, jeratan utang Kerugian uang, kecanduan
Dampak Psikologis Stres, depresi, kecemasan Kecanduan, gangguan kontrol diri
Kelompok Rentan Generasi muda, masyarakat ekonomi rendah Semua kalangan, terutama usia produktif

Penyebab Terjerumus: Tekanan Hidup dan Literasi Rendah

Menurut Laras, banyak orang sebenarnya memahami risiko pinjol dan judol, tetapi tetap memilih mencobanya karena merasa tidak memiliki alternatif lain. Tekanan ekonomi, tuntutan gaya hidup, hingga keinginan memperoleh hasil secara cepat membuat seseorang lebih mudah mengambil keputusan impulsif. “Sering kali seseorang berpikir bulan depan pasti ada uang untuk membayar pinjaman, atau merasa sekali lagi bermain judi pasti akan menang. Padahal pola pikir seperti itu justru menjadi awal munculnya masalah yang lebih besar,” ujar Laras.

Selain tekanan ekonomi, rendahnya literasi keuangan juga menjadi faktor besar. Banyak masyarakat belum memahami konsekuensi bunga pinjaman, denda keterlambatan, maupun dampak psikologis ketika utang terus bertambah. Di sisi lain, judi online memanfaatkan rasa penasaran dan harapan memperoleh keuntungan instan sehingga memicu kecanduan. “Kalau seseorang terus berharap keberuntungan datang tanpa melihat kenyataan, maka ia akan sulit keluar dari lingkaran tersebut. Karena itu kesadaran diri menjadi pondasi paling penting untuk menghentikan kebiasaan tersebut,” kata Laras.

Dampak dan Implikasi bagi Generasi Muda

Jeratan pinjol dan judol tidak hanya berdampak pada kondisi keuangan, tetapi juga kesehatan mental dan hubungan sosial. Generasi muda yang terjerat utang pinjol seringkali mengalami stres berat, bahkan tidak sedikit yang berujung pada tindakan bunuh diri. Sementara itu, kecanduan judol dapat mengganggu produktivitas, merusak relasi dengan keluarga, dan memicu tindakan kriminal. Implikasi jangka panjangnya adalah menurunnya kualitas sumber daya manusia Indonesia.

Langkah Pencegahan: Kesadaran Diri dan Literasi Keuangan

Laras menjelaskan bahwa pencegahan dapat dimulai dari kebiasaan sederhana, seperti:

  • Menyusun anggaran bulanan secara disiplin.
  • Membedakan kebutuhan dan keinginan.
  • Mempelajari legalitas layanan keuangan sebelum menggunakannya.

Bagi mereka yang mulai merasa kehilangan kontrol akibat judi online, langkah yang disarankan meliputi:

  1. Segera memutus akses terhadap aplikasi atau situs perjudian.
  2. Meminta dukungan dari keluarga maupun teman terdekat.
  3. Mengisi waktu dengan kegiatan yang lebih positif, seperti olahraga atau hobi.
  4. Jika kondisi sudah mengganggu aktivitas sehari-hari, bantuan psikolog atau tenaga profesional menjadi langkah yang sangat dianjurkan.

Peran Pemerintah dan Masyarakat

Penegakan hukum terhadap pinjol dan judol ilegal harus terus digencarkan. Namun, Laras menekankan bahwa pendekatan preventif melalui edukasi literasi keuangan dan penguatan kesehatan mental jauh lebih efektif. Pemerintah, lembaga pendidikan, dan media memiliki peran strategis dalam menyebarluaskan informasi tentang bahaya pinjol dan judol serta cara menghindarinya. Program-program seperti “Gerakan Sadar Finansial” perlu diperluas hingga ke pelosok daerah.

Penutup: Jalan Panjang Menuju Kemandirian Finansial

Di penghujung dialog, Laras mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, untuk tidak mudah tergiur dengan janji keuntungan instan. Menurutnya, keberhasilan finansial dibangun melalui proses, perencanaan, dan kedisiplinan, bukan melalui jalan pintas yang justru berpotensi merugikan diri sendiri. Dengan meningkatkan self-awareness, memperkuat literasi keuangan, serta menjaga kesehatan mental, generasi muda diharapkan mampu menghadapi berbagai tekanan ekonomi secara lebih bijaksana tanpa harus terjebak dalam praktik pinjaman online maupun judi online. Kesadaran diri adalah benteng paling kokoh dalam menghadapi godaan instan di era digital. Mari bersama-sama membangun generasi yang cerdas finansial dan kuat mental.

Tutup