Hapus Gengsi Ritual, Umat Hindu Bali Jangan Tertekan Standar Sosial Banten
M-RadarNews – Denpasar – Fenomena tekanan psikologis akibat standar sosial yang tinggi dalam pembuatan sarana upakara (banten) di kalangan umat Hindu Bali modern semakin mengemuka. Banyak keluarga di perkotaan merasa terbebani secara mental karena anggapan keliru bahwa kualitas spiritualitas seseorang diukur dari besar kecilnya fisik banten yang dihaturkan. Hal ini mendorong sebagian masyarakat untuk mengusulkan pengurangan tradisi mebanten, sebuah langkah yang dinilai ekstrem oleh para penyuluh agama.
Fenomena Tekanan Sosial dalam Ritual Hindu Bali
Dr. I Nyoman Arya, S.Ag., M.Pd.H., Penyuluh Agama Hindu Kanwil Kementerian Agama (Kemenag) Kota Denpasar, mengungkapkan bahwa banyak keluarga di perkotaan merasa tertekan karena standar sosial pembuatan banten dinaikkan secara artifisial. “Ada keluarga yang merasa sangat tertekan karena standar sosial dalam membuat banten sengaja ditinggikan secara artifisial, padahal kemampuan ekonomi setiap kepala keluarga jelas berbeda-beda,” ujarnya dalam acara Obrolan Komunitas di Pro 4 RRI Denpasar, Selasa, 30 Juni 2026.
Tekanan ini tidak hanya berdampak pada kondisi mental, tetapi juga memicu usulan untuk membatasi ritual harian. Padahal, menurut Nyoman Arya, esensi persembahan terletak pada ketulusan pikiran, bukan pada kemegahan materi yang dipamerkan.
Akar Masalah: Miskonsepsi tentang Kualitas Spiritual
Salah satu penyebab utama tekanan ini adalah miskonsepsi bahwa semakin besar dan mewah banten, semakin tinggi nilai spiritualnya. Pandangan ini mengabaikan ajaran Hindu yang menekankan ketulusan hati (bhakti) sebagai inti persembahan. Nyoman Arya menjelaskan, “Masyarakat harus berani menyesuaikan ukuran banten sesuai kemampuan keuangan, agar spiritualitas tetap terjaga melalui edukasi yang tepat, bukan malah meniadakan tradisi luhur yang sudah berjalan.”
Untuk mengatasi miskonsepsi ini, diperlukan edukasi masif yang mencerahkan umat tentang fleksibilitas upakara. Sastra Hindu telah menyediakan tingkatan upakara yang beragam, mulai dari Utama, Madya, hingga Nista. Bahkan, tingkatan terkecil seperti Nistaning Nista pun dianggap sah dan tidak mengurangi nilai pemujaan.
Tingkatan Upakara dalam Hindu: Solusi Fleksibilitas
| Tingkatan | Deskripsi | Contoh Sarana |
|---|---|---|
| Utama | Persembahan lengkap dengan sarana terbaik, sesuai kemampuan maksimal | Banten lengkap dengan sesaji, buah, bunga, dan dupa |
| Madya | Persembahan sederhana namun tetap bermakna, tanpa mengurangi esensi | Banten dengan beberapa jenis sesaji utama |
| Nista | Persembahan minimalis, fokus pada ketulusan hati | Banten kecil dengan satu jenis sesaji atau kembang |
| Nistaning Nista | Persembahan paling sederhana, cukup dengan segenggam bunga atau air suci | Bunga, air, dan dupa secukupnya |
Dampak Psikologis dan Sosial dari Standar Banten yang Tinggi
Tekanan untuk memenuhi standar sosial banten berdampak luas, tidak hanya pada individu tetapi juga pada keluarga dan komunitas. Beberapa dampak yang teridentifikasi meliputi:
- Stres dan kecemasan: Keluarga merasa cemas jika tidak mampu menyediakan banten sesuai standar lingkungan.
- Beban finansial: Pengeluaran untuk upakara membengkak, mengganggu anggaran rumah tangga.
- Konflik internal: Perbedaan pendapat antar anggota keluarga mengenai skala upakara dapat memicu pertengkaran.
- Usulan ekstrem: Sebagian masyarakat memilih untuk mengurangi atau bahkan menghentikan ritual harian daripada menanggung beban sosial.
Jika dibiarkan, fenomena ini dapat mengikis praktik keagamaan yang telah diwariskan turun-temurun. Oleh karena itu, diperlukan langkah konkret untuk mengembalikan esensi spiritual dalam berupakara.
Peran Edukasi dan Sosialisasi
Nyoman Arya menekankan pentingnya edukasi yang berkelanjutan, baik melalui tokoh agama, media, maupun lembaga pendidikan. “Umat harus diberikan pemahaman bahwa menghaturkan tingkatan terkecil seperti Nistaning Nista sama sekali tidak mengurangi nilai pemujaan di hadapan Tuhan,” tegasnya. Penyederhanaan banten secara bijaksana dengan membuang unsur gengsi dinilai jauh lebih sehat bagi keharmonisan internal keluarga daripada menghentikan kewajiban Nitya Yadnya itu sendiri.
Langkah-langkah yang dapat dilakukan antara lain:
- Mengadakan penyuluhan rutin di pura dan banjar tentang fleksibilitas upakara.
- Menggunakan media sosial untuk menyebarkan pemahaman yang benar tentang esensi banten.
- Melibatkan tokoh masyarakat untuk memberi contoh dalam menyederhanakan ritual tanpa mengurangi makna.
- Mendorong dialog antarkeluarga dan komunitas untuk mengurangi tekanan sosial.
Implikasi bagi Masyarakat Hindu Bali
Jika edukasi ini berhasil, diharapkan umat Hindu Bali dapat menjalankan swadharma spiritualnya secara tenang, tanpa dibayangi ketakutan dinilai rendah oleh orang lain. Keharmonisan keluarga akan terjaga, dan tradisi mebanten tetap lestari tanpa menjadi beban. Lebih jauh lagi, hal ini dapat memperkuat identitas keagamaan yang berbasis pada ketulusan, bukan pada kemewahan materi.
Pemerintah daerah dan Kemenag diharapkan turut mendukung program edukasi ini melalui kebijakan yang mendorong kesederhanaan dalam upakara, misalnya dengan memberikan penghargaan kepada keluarga yang menerapkan upakara sederhana namun khusyuk.
Pada akhirnya, esensi sejati dari persembahan dalam Hindu adalah wujud syukur dan bhakti kepada Tuhan. Dengan menghapus gengsi ritual dan menyesuaikan banten sesuai kemampuan, umat dapat merasakan kedamaian batin yang lebih dalam. Tradisi luhur ini tidak perlu dihilangkan, melainkan diluruskan agar tetap relevan di tengah dinamika zaman. Seperti diingatkan Nyoman Arya, “Spiritualitas tetap terjaga melalui edukasi yang tepat, bukan dengan meniadakan tradisi.”
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial M-Radar News.