Tradisi Mebanten Harian: Roda Penggerak Ribuan UMKM di Bali yang Terancam
M-RadarNews – Denpasar – Tradisi mebanten harian yang telah mengakar dalam kehidupan masyarakat Hindu di Bali ternyata bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan juga menjadi roda penggerak ekonomi kerakyatan yang menopang ribuan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Wacana pengurangan intensitas sesajen harian yang sempat viral di media sosial beberapa waktu lalu, jika benar-benar diterapkan, berpotensi memicu dampak domino yang melumpuhkan sektor ekonomi berbasis budaya di tingkat akar rumput. Hal ini disampaikan oleh Penyuluh Agama Hindu Kanwil Kementerian Agama (Kemenag) Kota Denpasar, Dr. I Nyoman Arya, S.Ag., M.Pd.H., dalam program Obrolan Komunitas di Pro 4 RRI Denpasar, Selasa, 30 Juni 2026.
Rantai Pasok Upakara: Dari Hulu ke Hilir
Menurut Nyoman Arya, rantai pasok kebutuhan upakara tradisional telah menjadi tumpuan hidup utama bagi ribuan pekerja informal di seluruh kabupaten dan kota di Bali. Mulai dari petani bunga, pedagang busung (janur), perajin semat, hingga pembuat sarana canang—semuanya bergantung pada konsistensi umat yang membeli sarana sesajen harian. Struktur pasar tradisional di Bali sangat bergantung pada permintaan canang dan banten lainnya untuk memenuhi kewajiban ritual di merajan (sanggah) maupun tempat usaha. Jika kuantitas kebutuhan pasar tiba-tiba dipangkas secara drastis atas nama efisiensi keluarga, maka stabilitas pendapatan para pelaku usaha mikro akan langsung terguncang hebat.
Nyoman Arya menggarisbawahi pentingnya melihat aspek finansial masyarakat kecil dari kelangsungan tradisi ini. “Mebanten adalah bentuk distribusi kesejahteraan berbasis budaya dan spiritual. Perputaran uangnya langsung mengalir ke kantong petani bunga, pedagang busung, hingga perajin semat,” ujarnya.
Dampak Ekonomi: Sektor Pertanian dan Perempuan Terancam
Sektor pertanian lokal, khususnya budidaya bunga gemitir dan pacar air, akan menjadi korban pertama yang merasakan hantaman ekonomi apabila gerakan pembatasan mebanten meluas. Lesunya serapan pasar di tingkat domestik juga akan mematikan produktivitas para perempuan pembuat sarana upakara dari janur, yang selama ini memanfaatkan waktu luangnya untuk mencari tambahan penghasilan. Kemiskinan struktural baru dikhawatirkan muncul apabila profesi-profesi tradisional seperti serati banten kehilangan ruang kerja akibat simplifikasi ritual yang berlebihan.
Berikut adalah gambaran rantai pasok dan dampak ekonominya:
| Pelaku Ekonomi | Peran dalam Rantai Pasok | Potensi Dampak Jika Mebanten Dikurangi |
|---|---|---|
| Petani bunga (gemitir, pacar air, dll) | Pemasok bahan baku utama canang | Penurunan pendapatan hingga 50-70% |
| Pedagang busung (janur) | Penyedia daun janur untuk sarana banten | Lesunya permintaan, harga jatuh |
| Perajin semat (lidi, tusuk) | Pembuat alat penyemat canang | Kehilangan pasar, produksi terhenti |
| Pembuat canang (ibu rumah tangga) | Perajin sarana sesajen harian | Hilangnya tambahan penghasilan keluarga |
| Serati banten (ahli banten) | Penyedia banten lengkap untuk upacara | Kehilangan pekerjaan utama |
Kronologi Wacana dan Respons
Wacana pengurangan intensitas mebanten harian mulai mencuat di media sosial pada pertengahan Juni 2026. Beberapa pihak menilai bahwa pembuatan canang setiap hari menyita waktu dan biaya, sehingga perlu disederhanakan. Namun, pernyataan Nyoman Arya pada 30 Juni 2026 di RRI Denpasar menjadi respons resmi pertama dari Kemenag yang menyoroti dampak ekonomi dari wacana tersebut. Sejak itu, diskusi publik semakin hangat, dengan banyak pihak mendukung pelestarian tradisi demi menjaga ekosistem ekonomi kerakyatan.
Implikasi Sosial dan Budaya
Di balik aspek ekonomi, mebanten juga memiliki makna spiritual yang dalam. Bagi umat Hindu, canang harian bukan sekadar sesajen, melainkan wujud bhakti dan syukur kepada Sang Pencipta. Menghilangkan atau mengurangi tradisi ini dapat mengikis nilai-nilai budaya yang diwariskan turun-temurun. Nyoman Arya mengingatkan bahwa perlindungan terhadap eksistensi ekosistem ekonomi kreatif keagamaan harus diperjuangkan demi menjaga ketahanan finansial masyarakat Bali. “Kemandirian ekonomi umat Hindu justru lahir dari konsistensi merawat tradisi luhur yang menciptakan lapangan kerja mandiri. Pengurangan aktivitas mebanten berdampak langsung pada hilangnya pendapatan ribuan usaha mikro, sehingga kita harus tetap mempertahankan budaya ini demi tegaknya kesejahteraan rakyat kecil,” tutup Nyoman Arya.
Dampak Lebih Luas: Ancaman Kemiskinan Struktural
Jika wacana pengurangan mebanten diimplementasikan tanpa kajian komprehensif, dikhawatirkan akan muncul kemiskinan struktural baru. Profesi tradisional seperti serati banten—yang biasanya dikuasai oleh perempuan paruh baya—akan kehilangan ruang kerja. Mereka sulit beralih ke sektor lain karena keterbatasan keterampilan. Sementara itu, petani bunga yang lahannya sudah terlanjur ditanami tanaman hias khusus untuk upakara akan mengalami kerugian besar. Pemerintah daerah perlu segera melakukan pemetaan dan menyusun strategi mitigasi agar tradisi ini tetap lestari tanpa mengorbankan kesejahteraan masyarakat.
Di sisi lain, inovasi seperti penggunaan bahan daur ulang atau pengembangan banten instan yang tetap mempertahankan nilai sakral bisa menjadi solusi. Namun, langkah tersebut harus melibatkan tokoh agama, pelaku UMKM, dan akademisi agar tidak menghilangkan esensi spiritual mebanten.
Pada akhirnya, mebanten harian bukanlah sekadar ritual yang bisa dihilangkan begitu saja. Ia adalah denyut nadi ekonomi kerakyatan Bali yang telah berdenyut selama berabad-abad. Menjaga tradisi ini berarti menjaga kesejahteraan ribuan keluarga dari hulu ke hilir. Semua pihak, mulai dari pemerintah, tokoh agama, hingga masyarakat, perlu duduk bersama untuk menemukan keseimbangan antara efisiensi dan kelestarian budaya. Sebab, di balik setiap canang yang tersusun rapi, ada cerita tentang kerja keras, ketekunan, dan harapan akan kehidupan yang lebih baik.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial M-Radar News.