Jalani Revalidasi Perdana UNESCO, Asesor Apresiasi Komitmen Banyuwangi Jaga Standar Pengelolaan Geopark Ijen

Dua asesor UNESCO, yakni Dr. Andreas Schüller dari Jerman dan Qinling Zhongnanshan dari China, memulai proses revalidasi Geopark Ijen. Foto: dok/ist.

M-Radar News, Banyuwangi – Geopark Ijen menjalani revalidasi perdana sebagai bagian dari UNESCO Global Geopark (UGG). Proses evaluasi yang berlangsung pada 3-6 Agustus 2026 itu dipimpin dua asesor UNESCO, yakni Dr. Andreas Schüller dari Jerman dan Qinling Zhongnanshan dari China.

Kedatangan kedua asesor menjadi bagian dari evaluasi berkala yang wajib dilakukan setiap empat tahun sejak Geopark Ijen resmi menyandang status UNESCO Global Geopark pada 2023. Melalui revalidasi ini, UNESCO akan menilai konsistensi pengelolaan kawasan agar tetap memenuhi standar geopark dunia.

Hasil penilaian akan menentukan status Geopark Ijen, yakni Green Card apabila seluruh indikator terpenuhi, Yellow Card jika masih diperlukan sejumlah perbaikan dalam kurun dua tahun, atau Red Card apabila status UNESCO Global Geopark dicabut.

Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani mengatakan, revalidasi ini menjadi kesempatan penting untuk menunjukkan keseriusan Banyuwangi dalam menjaga kualitas pengelolaan Geopark Ijen secara berkelanjutan.

Menurut Ipuk, sejak ditetapkan sebagai UNESCO Global Geopark pada 2023, pengelolaan kawasan terus diperkuat melalui sinergi pemerintah, masyarakat, akademisi, dan berbagai pemangku kepentingan. Seluruh program diarahkan pada tiga pilar utama, yakni konservasi, edukasi, dan pemberdayaan masyarakat.

“Pengelolaan ekosistem UGG Ijen dilakukan dengan mengintegrasikan alam, budaya, dan masyarakat dalam satu kesatuan yang berkelanjutan,” ujar Ipuk, pada Selasa (4/8/2026).

Selama proses asesmen, kedua asesor mengunjungi sejumlah geosite dan lokasi pendukung geopark. Pada hari pertama, Senin (3/8/2026), mereka meninjau Pusat Informasi Geologi Geopark Ijen (PIGGI), Desa Adat Kemiren, hingga sentra ekonomi kreatif di Banyuwangi.

Memasuki hari kedua, Selasa (4/8/2026), penilaian berlanjut ke kawasan Taman Nasional Alas Purwo dan Teluk Pangpang di Grajagan yang menjadi bagian penting dari bentang alam Geopark Ijen.

Sebelumnya, kedua asesor disambut dalam acara welcoming dinner di Pendopo Sabha Swagata, pada Minggu (2/8/2026). Acara tersebut dihadiri Bupati Bondowoso Abdul Hamid Wahid beserta jajaran, serta perwakilan Bappenas dan Pemerintah Provinsi Jawa Timur.

Dr. Andreas Schüller mengaku terpesona dengan panorama Banyuwangi yang ia nikmati selama perjalanan kereta api dari Surabaya menuju Banyuwangi.

“Kami mendapatkan gambaran awal tentang wilayah Anda yang sangat luar biasa ini. Pemandangan yang indah, ladang-ladang, tanaman, perkebunan kopi, dan di balik awan, dalam remang-remang kami bisa melihat beberapa gunung besar,” katanya.

Ia juga menilai, Banyuwangi berhasil menunjukkan komitmen kuat dalam mengelola Geopark Ijen setelah memperoleh pengakuan UNESCO.

Menurut Andreas, geopark bukan sekadar melindungi warisan geologi, tetapi juga menjadi ruang untuk mengembangkan pendidikan, melestarikan budaya, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Geopark bukan hanya tentang geologi, tetapi juga tentang masyarakat, di mana masyarakat menjadi aktornya. Saya melihat komitmen yang kuat dari Ibu Bupati dan seluruh pihak dalam hal ini. Itu adalah awal yang sempurna dalam misi evaluasi ini,” ujarnya.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial M-Radar News.

Tutup