Panen Teba Modern, Wujud Komitmen Spenpraja menuju Sekolah Bersih dan Tertata
Mengawali Tahun Ajaran Baru dengan Aksi Lingkungan
M-Radar News – Singaraja – SMP Negeri 4 Singaraja (Spensaraja) kembali menunjukkan komitmennya sebagai sekolah yang peduli lingkungan. Menjelang penerimaan murid baru tahun ajaran 2026/2027, seluruh warga sekolah—guru dan murid—bergotong royong dalam serangkaian kegiatan positif. Puncaknya adalah panen hasil Teba Modern, sebuah sistem pengelolaan sampah organik yang telah berjalan secara berkelanjutan. Kegiatan ini bukan sekadar seremoni, melainkan bagian dari implementasi Program Pembatasan Timbulan Sampah Plastik Sekali Pakai (PSP) dan Pengelolaan Sampah Berbasis Sumber (PSBS) yang terus digalakkan di sekolah tersebut.
Apa Itu Teba Modern?
Teba Modern adalah inovasi pengelolaan sampah organik yang mengadaptasi konsep tradisional Bali (teba) dengan teknologi sederhana. Di Spenpraja, sampah organik dari kantin, kebun, dan sisa makanan dikumpulkan dalam lubang-lubang resapan yang dirancang khusus. Proses pengomposan alami menghasilkan pupuk kompos berkualitas yang langsung dimanfaatkan untuk memupuk tanaman di lingkungan sekolah. Sistem ini tidak hanya mengurangi volume sampah yang dikirim ke TPA, tetapi juga mengedukasi siswa tentang siklus alam yang berkelanjutan.
Kronologi Kegiatan: Dari Panen hingga Pembuatan Pupuk
Rangkaian kegiatan dimulai pada pagi hari dengan panen Teba Modern. Guru dan murid bersama-sama membongkar lubang kompos yang telah berusia sekitar 3 bulan. Hasilnya, kompos matang berwarna hitam dan berbau tanah siap digunakan. Setelah panen, kegiatan berlanjut dengan pembuatan Eco Enzyme dan Pupuk Organik Cair (POC). Bahan-bahan organik seperti kulit buah dan sisa sayuran yang biasanya terbuang, kini diolah menjadi produk bernilai tambah. Eco Enzyme, hasil fermentasi gula merah dan air, bermanfaat sebagai pembersih alami dan penyubur tanaman. Sementara POC digunakan untuk menyiram tanaman di taman sekolah.
Berikut adalah data hasil panen dan produksi yang berhasil dicatat:
| Jenis Kegiatan | Volume (kg/liter) | Manfaat |
|---|---|---|
| Panen Kompos Teba Modern | 150 kg | Pupuk untuk 200 tanaman di sekolah |
| Eco Enzyme | 50 liter | Pembersih lantai dan pupuk cair |
| POC (Pupuk Organik Cair) | 30 liter | Penyubur tanaman hias dan sayuran |
Dampak Positif bagi Lingkungan dan Pendidikan
Kegiatan ini memberikan dampak signifikan, baik secara ekologis maupun edukatif. Dari sisi lingkungan, sekolah berhasil mengurangi timbulan sampah organik hingga 60% setiap bulannya. Sampah yang tadinya menjadi masalah kini berubah menjadi sumber daya. Secara edukatif, siswa mendapatkan pengalaman belajar langsung (experiential learning) tentang pentingnya pengelolaan sampah yang ramah lingkungan. Mereka tidak hanya mendengar teori di kelas, tetapi juga mempraktikkan langsung cara mengolah sampah menjadi sesuatu yang berguna.
Kepala SMP Negeri 4 Singaraja, I Wayan Suastra, S.Pd., M.Pd., menyatakan, “Kami ingin menanamkan kesadaran lingkungan sejak dini. Dengan kegiatan seperti ini, siswa belajar bahwa sampah bukanlah akhir, tetapi awal dari sesuatu yang bermanfaat.” Pernyataan ini menegaskan visi sekolah untuk mencetak generasi yang peduli lingkungan.
Persiapan Menyambut Murid Baru
Selain kegiatan lingkungan, panitia juga sibuk menata ruang pelayanan untuk daftar ulang murid baru. Ruang kelas, aula, dan area pendaftaran ditata rapi dan nyaman. Meja dan kursi disusun dengan jarak aman, serta petugas ditempatkan di setiap titik untuk memandu orang tua dan calon murid. Persiapan ini penting untuk memberikan kesan pertama yang positif bagi masyarakat. Sekolah tidak hanya ingin dikenal sebagai institusi pendidikan, tetapi juga sebagai tempat yang bersih, tertata, dan ramah.
Berikut adalah jadwal dan persiapan daftar ulang:
- Tanggal: 10-15 Juni 2026
- Waktu: 08.00 – 14.00 WITA
- Tempat: Aula SMP Negeri 4 Singaraja
- Dokumen yang dibawa: Fotokopi KK, Akta Kelahiran, dan rapor SD
Implikasi bagi Sekolah dan Masyarakat Sekitar
Keberhasilan program Teba Modern dan kegiatan lingkungan lainnya membawa implikasi luas. Bagi sekolah, ini menjadi bukti bahwa pengelolaan sampah berbasis sumber dapat berjalan efektif jika didukung oleh seluruh warga sekolah. Prestasi ini juga dapat menjadi model bagi sekolah lain di Bali bahkan Indonesia. Bagi masyarakat sekitar, keberadaan sekolah yang bersih dan hijau meningkatkan kualitas lingkungan tempat tinggal mereka. Selain itu, hasil kompos dan Eco Enzyme dapat dibagikan kepada warga sekitar, sehingga terjalin hubungan timbal balik yang positif.
Ke depan, Spenpraja berencana memperluas program dengan melibatkan orang tua murid dan komunitas lokal. Misalnya, mengadakan pelatihan pembuatan Eco Enzyme bagi warga sekitar. Hal ini sejalan dengan program pemerintah Kabupaten Buleleng yang gencar mendorong sekolah adiwiyata.
Penutup: Langkah Kecil, Dampak Besar
Panen Teba Modern di SMP Negeri 4 Singaraja bukanlah sekadar kegiatan rutin. Ini adalah wujud nyata komitmen sekolah dalam membangun budaya bersih, hijau, dan tertata. Melalui aksi sederhana namun konsisten, Spenpraja membuktikan bahwa pendidikan lingkungan tidak harus mahal dan rumit. Dengan melibatkan seluruh elemen sekolah, mereka berhasil menciptakan ekosistem belajar yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga peka terhadap lingkungan. Semoga langkah ini menginspirasi sekolah-sekolah lain untuk melakukan hal serupa.










