Festival Islami di Bulan Ramadan 1444H, Banyuwangi Gelar Lomba Seni Musik Patrol dan Kuntulan
JATIM, (M-RADARNEWS),- Bulan Suci Ramadan membawa pengaruh tradisi di tengah masyarakat. Bermacam-macam tradisi yang lahir dari pergesekan budaya agama dengan budaya lokal telah melahirkan sebuah budaya yang memiliki keunikannya tersendiri. Demikian juga dengan kesenian tradisi yang ada di masyarakat Islam Banyuwangi ketika akan membangunkan masyarakat untuk melakukan ibadah Sahur, yaitu Patrol.
Tahun ini, Dalam rangka memeriahkan bulan suci Ramadan 1444H / 2023M, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyuwangi kembali menggelar “Festival Islami” dengan mengangkat seni musik tradisional yakni Patrol dan tari Kuntulan khas Banyuwangi. Kesenian patrol merupakan salah satu jenis musik khas Banyuwangi yang tetap hidup dan berkembang sampai sekarang.
Kesenian patrol adalah jenis musik rakyat yang lebih bersifat ritmis, tanpa peralatan diatonik. Seluruh instrumennya terbuat dari bambu. Bentuk alatnya meliputi katir, gong, kempul, angklung renteng, kethuk, kendang, dan seruling.
Komposisi ini merupakan aktivitas budaya Osing, masyarakat asli Banyuwangi, yang ditampilkan pada malam bulan Ramadan, baik untuk ronda siskamling maupun membangunkan orang sahur. Syair-syair yang dinyanyikan mengambil dari Kitab Berjanji dan lagu-lagu daerah Banyuwangi dengan teknis tabun sistim timpalan.

Dari sekian kesenian musik tradisional Banyuwangi itu, Patrol termasuk salah satu jenis musik tradisional yang tetap bertahan (eksis) di tengah goncangan modernisasi. Artinya, musik patrol masih banyak diminati masyarakat (tradisional), selain karena keunikan simbolisasinya (pakaian, alat-alat musik, dll) juga karena mengusung makna filosofis yang sangat menyentuh hati. Nilai-nilai natural-filosofis kesenian tradisional ini terletak pada gaya (style) permainan dan lantunan musiknya.
Festival patrol ini menjadi bagian untuk menghidupkan tradisi dan menjadi atraksi budaya yang menarik, dapat membangun interaksi sosial warga untuk menjadi hiburan dan sarana pemulihan ekonomi warga. Acara festival tersebut juga sebagai bentuk untuk menjaga budaya lokal atau kearifan lokal yang perlu dipertahankan, karena merupakan tradisi unik dan menarik khususnya di Banyuwangi.
“Kita sengaja angkat tradisi ini dalam sebuah festival, agar ada pendekatan keagamaan dan moral budaya. Dulu sejarah agama Islam yang di bawa Wali Songo masuk melalui pendekatan budaya, ada Gamelan, Wayang Kulit, Tembang dan yang lainnya. Dan kita ingin di Banyuwangi ini juga melakukan yang sama,” kata Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani dalam sambutannya yang diwakili Sekda Banyuwangi Mujiono saat membuka atraksi patrol dan kuntulan di Halaman Depan Stadion Diponegoro, Rabu malam (05/04/2023).
Sekda Mujiono mengatakan, tradisi patrol ini akan terus dihadirkan dan kembangkan sebagai syiar Islam. Bagi kami, syiar Islam yang dikemas dalam budaya patrol akan lebih mengenal di hati masyarakat. “Tradisi patrol ini juga tidak bisa hilang, Kami ingin musik patroli ini terus dimainkan oleh anak-anak kami dan generasi penerus. Untuk itu, festival ini semoga setiap tahun bisa digelar agar musik seni patrol ini tetap hidup diantara warga kita semuanya,” tambahnya.

Selain patrol, kuntulan juga merupakan seni pertunjukan musik dan tarian yang hidup dan berkembang di Banyuwangi. Tarian tradisional yang dipadukan dengan musik Hadrah di iringi dengan rebana dan kluncing sambil melantunkan lagu-lagu Islami dan Banyuwangi
Kuntulan merupakan seni pertunjukan musik dan tarian yang hidup dan berkembang di Banyuwangi. Kuntulan merupakan potret budaya musik tradisi yang unik, karena di dalamnya menyatukan elemen-elemen musik dari berbagai kebudayaan, di antaranya budaya musik Jawa, Bali dan budaya Osing, masyarakat pribumi asli Banyuwangi.
Untuk diketahui, sejak 1-25 Maret 2023, sedikitnya 25 Kecamatan di Banyuwangi mengirimkan grup patrol dan kuntulan untuk dilombakan. Mereka semua memasuki tahap penjurian awal dengan mengirimkan video perform ditempat masing-masing. Lalu, diambil 10 besar untuk tampil di panggung penjurian final di Halaman Depan Stadion Diponegoro, Banyuwangi.
Kemudian setelah tampil dan melakukan aksi atraksi di panggung, peserta tersebut melakukan atraksi berkeliling kampung. Sambil berkeliling, tak jarang mereka melantunkan lagu-lagu Banyuwangi dan juga sholawatan seperti sedang membangunkan sahur. (yd/sh)








