Di Balik Butiran Garam Les, Ekonomi Desa yang Kembali Berdenyut

Di Balik Butiran Garam Les, Ekonomi Desa yang Kembali Berdenyut

M-RADARNEWS.COM, BALI – Di pesisir utara Bali, tepatnya di Desa Les, Kecamatan Tejakula, Buleleng, terdapat sebuah tradisi yang telah berlangsung selama berabad-abad: pembuatan garam secara tradisional yang dikenal dengan sebutan uyah palungan. Proses ini mengandalkan alam, kesabaran, dan keterampilan turun-temurun. Namun, di balik butiran garam yang tampak sederhana, tersimpan denyut ekonomi desa yang kembali berdetak kencang.

Artikel ini akan mengupas tuntas bagaimana garam Les tidak hanya menjadi produk unggulan, tetapi juga simbol kebangkitan ekonomi lokal yang didukung oleh inovasi digital dan kemitraan strategis.

Petani garam seperti Wayan Selamat (55) telah akrab dengan ladang garam sejak usia lima tahun. Ia tumbuh dengan pemandangan palungan palung kayu atau batang kelapa yang disusun rapi di tepi pantai. Proses pembuatan garam dimulai dengan pengambilan air laut (ngewayahang), yang kemudian disaring melalui tabung bambu untuk menghilangkan kotoran. Air bersih tersebut lalu dituangkan ke palungan dan dijemur di bawah terik matahari. Butiran garam mulai terbentuk secara alami dalam waktu beberapa hari, tergantung intensitas cahaya matahari.

Wayan Selamat menjelaskan, bahwa kualitas garam sangat bergantung pada cuaca. “Kalau matahari sedang bagus, cepat sekali mengkristalnya. Garamnya lebih putih dan lebih bersih,” ujarnya.

Setiap musim kemarau, petani di Desa Les dapat menghasilkan dua hingga tiga ton garam per panen. Angka ini menunjukkan bahwa tradisi tetap produktif di era modern.

Sebelum adanya intervensi BUMDes dan digitalisasi, rantai distribusi garam Les sangat panjang dan merugikan petani. Para tengkulak sering membeli garam dengan harga murah, lalu menjualnya kembali dengan keuntungan besar. Petani hanya menerima sebagian kecil dari nilai jual akhir. Selain itu, pembayaran sering dilakukan secara tunai dan lambat, membuat petani kesulitan memutar modal.

Nyoman Sutawan (61), seorang pengepul garam di Desa Les, menceritakan pengalamannya. “Dulu sempat kesulitan memutar modal, apalagi saat pembelian garam dari petani sedang ramai-ramainya,” kenangnya.

Ia bahkan harus meminjam uang dari rentenir dengan bunga tinggi untuk membeli garam dari petani. Kondisi ini membuat banyak petani enggan melanjutkan tradisi, dan generasi muda mulai meninggalkan profesi ini.

Kepala Desa Les, Gede Adi Wistara menyadari, bahwa diperlukan sebuah terobosan untuk menyelamatkan industri garam tradisional. Pada tahun 2020, pemerintah desa membentuk Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang bertugas mengelola pemasaran garam palungan. BUMDes bertindak sebagai penghubung antara petani, pengepul, dan pasar. Garam yang dibeli dari petani dikemas dengan merek dagang khusus, sehingga memiliki nilai tambah.

“Skema ini menjadi upaya desa untuk memperpendek rantai distribusi sekaligus meningkatkan nilai jual produk lokal agar petani tidak selalu berada di posisi paling bawah dalam struktur keuntungan,” jelas Gede Adi Wistara.

Selain itu, BUMDes juga membuka akses ke pasar yang lebih luas, termasuk ke hotel-hotel di Bali dan bahkan ke luar negeri seperti Jepang.

Salah satu perubahan paling signifikan adalah digitalisasi sistem pembayaran. Sejak bekerja sama dengan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI), transaksi antara pengepul dan petani kini dilakukan secara non-tunai melalui aplikasi Wondr by BNI. Nyoman Sutawan mengaku sangat terbantu dengan sistem ini.

“Sekarang lebih mudah, pembayaran ke petani bisa langsung lewat sistem digital. Jadi tidak menunggu lama, semua lebih cepat dan jelas,” katanya.

Selain itu, BNI juga menyalurkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) kepada Nyoman Sutawan. Awalnya ia meminjam Rp20 juta untuk modal membeli garam dari petani. “Awalnya saya pinjam Rp20 juta, saya putar untuk beli garam dari petani, lalu saya jual lagi. Dari situ pelan-pelan usaha ini bisa jalan sampai sekarang,” ujarnya.

Dengan adanya akses pembiayaan, arus perputaran usaha menjadi lebih stabil, dan Nyoman dapat membeli hasil produksi petani secara lebih cepat.

Untuk memberikan gambaran yang lebih jelas, berikut adalah data produksi dan dampak ekonomi dari garam Les:

Indikator Sebelum BUMDes Setelah BUMDes
Harga jual garam/kg Rp 5.000 Rp 15.000
Jumlah petani aktif 20 orang 50 orang
Produksi per musim 1 ton 3 ton
Pendapatan petani/bulan Rp 500.000 Rp 2.000.000
Jangkauan pasar Lokal Nasional & Internasional

Keberhasilan BUMDes dan digitalisasi tidak hanya berdampak pada sektor garam, tetapi juga pada pariwisata Desa Les. Banyak wisatawan yang datang untuk melihat langsung proses pembuatan garam tradisional. Mereka tidak hanya membeli garam, tetapi juga menginap di homestay dan menikmati kuliner lokal. Hal ini mendorong pertumbuhan usaha kecil seperti warung, penginapan, dan jasa transportasi.

“Sekarang garam ini nggak cuma dijual di pasar lokal, tapi juga sudah banyak dibeli wisatawan yang datang ke Desa Les. Mereka biasanya lihat prosesnya dulu, terus sekalian beli,” ujar Nyoman Sutawan sembari mengatakan, Desa Les bahkan dinobatkan sebagai Juara Umum Desa Wisata Terbaik dalam Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2024.

Keberhasilan Desa Les menjadi model bagi desa-desa lain di Indonesia. Kunci utama adalah kolaborasi antara petani, BUMDes, dan perbankan. Digitalisasi transaksi dan akses kredit memungkinkan petani untuk fokus pada produksi tanpa khawatir masalah pembayaran. Sementara itu, BUMDes memastikan produk memiliki nilai tambah dan pemasaran yang luas.

Corporate Secretary BNI, Okki Rushartomo, menegaskan komitmen perseroan dalam mendukung UMKM. “Dengan strategi inklusif, pembiayaan berbasis sektor produktif, hingga inovasi digital, BNI akan terus mendukung UMKM agar mampu tumbuh berkelanjutan dan meningkatkan kontribusinya bagi perekonomian nasional,” ujarnya.

Hingga triwulan pertama 2025, penyaluran kredit UMKM BNI mencapai Rp919,3 triliun, tumbuh 20,1 persen year-on-year.

Desa Les bukan lagi sekadar desa tua di pesisir Buleleng. Ia telah bertransformasi menjadi ruang yang terus bergerak, tempat ekonomi rakyat tumbuh perlahan, dan harapan tidak lagi terdengar seperti janji, melainkan mulai terlihat dalam kehidupan sehari-hari.

Dari butiran garam yang dijemur di palungan, hingga transaksi digital yang mulus, semuanya berpadu menciptakan simfoni ekonomi yang harmonis. Di balik setiap butiran garam, ada cerita tentang ketahanan, inovasi, dan kebersamaan yang membuat ekonomi desa kembali berdenyut. (*)

Tutup