Area Proyek Masih Dipenuhi Tumpukan Material Bekas Pembongkaran dan Besi Tampak Terlihat Berkarat

M-RADARNEWS.COM, JATIM – Pembangunan Proyek Revitalisasi Pasar Induk Banyuwangi dan Asrama Inggrisan Banyuwangi, yang menggunakan sumber dana APBN 2024-2025 (multiyears) kini mulai jadi jorotan. Pasalnya, proyek senilai Rp152 miliar hingga awal Maret 2025 ini progres masih mencapai sekitar 30 persen. Akankah proyek ini selesai tepat pada waktunya?

Dengan sisa waktu yang tinggal tujuh bulan lagi, kemungkinan besar proyek revitalisasi ini akan molor. Belum lagi saat ini telah memasuki bulan Ramadan sekaligus menjelang hari raya Idul Fitri 1446 Hijriah, sudah pasti para pekerja menjalani libur panjang untuk merayakan lebaran serta mudik lebaran 2025.

Capaian progres pengerjaan proyek revitalisasi ini, tak luput pula dapat sorotan dari pakar konstruksi Andi Purnama, S.H., S.T., M.M. Dia menilai kontraktor yang tidak bekerja secara profesional, sudah dipastikan menjadi penyebab utama keterlambatan pembangunan.

“Kontraktor tidak profesional, menjadi penyebab utama keterlambatan,” ujar Andi, saat ditemui di kantornya, Jumat (07/02025).

Pantauan m-radarnews di lokasi proyek, pada Minggu (09/03/2025), pelaksanaan pembangunan proyek revitalisasi ini tampak tertutup rapat di kelilingi pagar pembatas yang seakan-akan sulit untuk ditembus. Dari kejauhan, tampak pula alat berat dan tumpukan material di antaranya seperti besi yang terlihat berkarat.

Pembangunan proyek Revitalisasi Pasar Induk Banyuwangi dan Asrama Inggrisan Banyuwangi, tampak terlihat alat berat dan tumpukan material.

Saat ditanya soal besi yang terlihat seperti betkarat, Andi sangat menyayangkan dengan keadaan besi yang terlihat sudah berkarat akibat cuaca yang ekstrem. Sementara area proyek juga dipenuhi puing bekas bongkaran, menghambat pergerakan pekerja dan pengiriman material.

“Korosi pada bahan bangunan akan berbahaya, karena dapat merusak ikatan besi dan beton yang bisa terdampak pada penurunan kualitas bangunan,” ungkap Andi.

Kendati demikian, Andi juga mempertanyakan kesiapan PT Lince Romauli Raya sebagai pemenang tender. Ia menduga, minimnya persiapan dan perencanaan menjadi akar masalah keterlambatan.

“Kondisi lokasi proyek yang tidak teratur dan ketiadaan tempat penyimpanan material yang layak adalah bukti ketidakprofesionalan. Bagaimana mungkin proyek bisa berjalan lancar jika lokasi masih banyak puing. Bahan material pun, seperti begel, besi spiral, borpile saja sudah berkarat?” tandasnya.

Untuk diketahui, Proyek Revitalisasi Pasar Induk Banyuwangi dan Asrama Inggrisan Banyuwangi ini dilakukan oleh Kementerian PUPR melalui Balai Prasarana Permukiman Wilayah Jawa Timur (BPPW Jatim) dan sebagai satuan kerja (satker) pelaksana PPW II Jatim. Dan sedangkan untuk pembongkaran dan relokasi pedagang ditanggung oleh Pemerintah Daerah.

Selaku kontraktor PT Lince Romauli Raya, No. Kontrak: 569/SPK/Cb.166.6/2024. Nilai kontrak Rp152.000.000.000,00,- dengan masa pelaksanaan 365 hari (1 Oktober 2024–1 Oktober 2025), sedangkan untuk masa pemeliharaan 180 hari, dan selaku manajemen konstruksi PT Bina Karya KSO PT Delta Buana Konsultan, sumber dana/tahun anggaran APBN/2024-2025. (by/*)

Spread the love