Lantik 38 Eselon III & VI, Gubernur Jatim Ingatkan Pejabat Agar Peka Terhadap Nasib Nelayan Akibat Dampak Covid-19
JATIM, (M-RADARNEWS.COM),- Untuk mengisi kekosongan pejabat agar keberlangsungan organisasi dan program berjalan, meski dalam kondisi musibah Covid-19. Gubernur Khofifah Indar Parawansa melantik 38 eselon III dan IV pada Dinas Kelautan dan Perikanan Jawa Timur (Jatim).
“Saya ingatkan kepada pejabat yang barusan dilantik agar peka terhadap nasib nelayan akibatnya dampak Covid-19, khususnya mereka yang berada di kepulauan,” terangnya di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Selasa (07/04/2020).
Dikatakannya, meski daya beli masyarakat turun akibat krisis Covid-19, jangan sampai hal itu berdampak pada berkurangnya pemenuhan gizi masyarakat. Usahakan konsumsi ikan terus terpenuhi, sehingga pasca pandemi Covid-19 tak ada lagi masalah baru seperti terjadinya stunting.
Lebih lanjut Khofifah menambahkan, kepekaan atas permasalah yang dialami nelayan, merupakan wujud tanggung jawab atas jabatan yang diemban. “Usahakan jangan sampai nasib dan kesejahteraan nelayan kita tidak terperhatikan akibat Covid-19,” ujar Gubernur Khofifah.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Jatim, Muhammad Gunawan Saleh mengatakan, untuk tetap memenuhi kebutuhan gizi masyarakat, saat ini pihaknya tengah menjalin kerjasama dengan Dinas Sosial Jatim melalui pemanfaatan dana bantuan tunai bagi masyarakat miskin.
Dari nominal bantuan yang diberikan oleh pemerintah, dana bantuan senilai Rp 50.000 dimanfaatkan untuk membeli ikan. “Kami telah berkoordinasi dengan Dinas Kelautan dan Perikanan dikabupaten dan kota, terkait pemenuhan dan pasokan ikannya,” katanya.
Khusus nasib nelayan di kepulauan, dalam minggu-minggu ini tim akan melakukan verifikasi lapangan terkait penyaluran bantuan dan program akibat krisis Covid-19.
“Nelayan di kepulauan memang mereka merasakan dampak akibat krisis Covid-19, karena hasil tangkapan ikan mereka tidak bisa dijual,” pungkasnya.
Misalnya di Kepulauan Raas, Masalembu di Madura, mereka memilih tidak melaut karena hasil tangkapannya tidak bisa dijual. Jika semula hasil tangkapannya dijual ke Pulau Bali, karena restoran dan hotel di Bali tutup, akhirnya mereka memilih untuk tidak melaut. (tim/jnr/kmf)








