Persiapan Vaksin Merah Putih, Rektor Unair: Diprediksi 10 Hingga 11 Bulan Lagi

JATIM, (M-RADARNEWS.COM),-            Universitas Airlanga (Unair) Surabaya terus berupaya melakukan terobosan dan inovasi dalam mengendalikan, penanganan dan pencegahan. Salah satu upaya tersebut yaitu adalah program pengadaan vaksin. Dalam  hal ini, Unair sebagai tim peneliti tidak berdiri sendiri dan banyak pihak yang terlibat diantaranya Kementerian riset dan teknologi (Kemenristek).

Rektor Unair Prof. Dr. Mohammad Nasih mengatakan, vaksin ini adalah bagian dan komitmen program jangka panjang Unair dalam penanganan Covid ini. Proses panjang, jalan berliku, dan beberapa kali berganti metode.

“Dari semua proses ini, yang terpenting Unair tidak akan terlalu jauh ikut dalam proses produksi masalnya. Posisi Unair berada dalam proses penyiapan dan semua dilakukan dengan benar dan mendapatkan rekomendasi dari Balai Penelitian Obat dan Makanan (BPOM),” ujarnya, Selasa (20/04/2021).

Perihal kapan waktu vaksin bisa digunakan, diprediksi sekitar 10 hingga 11 bulan lagi. Mengingat tahap praklinis bukanlah tahap yang sederhana dan sebentar. Jadi proses ini masih panjang agar efektivitas vaksin bisa benar-benar maksimal. “Mohon doanya, semua harap bersabar dan semoga vaksin merah putih bisa segera dimanfaatkan oleh semua kalangan,” katanya.

Sementara itu, dalam kesempatan yang sama Prof. Dr. Ni Nyoman Tri Puspaningsih selaku Koordinator Produk Riset Covid-19 mengatakan perjalanan riset vaksin merah putih Unair merupakan perjalanan panjang dengan tim besar. Ada tiga platform yang dikembangkan oleh Unair.

“Dalam mengumpulkan kandidat vaksin setidaknya ada 8 platform. Unair mengambil 3 yakni classical dan next generation. Semua intinya untuk mendapatkan bagian protein bagian virus yang merupakan bagian antigen dan disuntikkan untuk tubuh kita mendapatkan antibodi,” ujarnya.

Menurutnya, dari tiga platform, ada satu yang sudah jalan sampai uji praklinik. Maka ini yang dipercepat. Namun yang lain tetap terus berjalan. Karena kita tidak tahu ke depannya, jadi tetap kita jalankan.

“Inactivited (yang sudah jalan) ini tidak sembarangan. Meski sering digunakan, atau virus dimatikan juga tidak mudah. Dalam melakukan hal ini, perlu terobosan teknologi. Dan Alhamdulillah berhasil dengan banyak sampel dari RSUD dr. Soetomo, RSUA, dan LPT,” tambahnya.

Terkait evektivitas vaksin terhadap variasi baru Covid-19, desain vaksin sudah disiapkan untuk menyikapi varian baru yang muncul dari berbagai negara. Munculnya varian baru di tempat lain, sudah diantisipasi oleh tim peneliti. Stren kita sudah siapkan agar evikasi vaksin tinggi dan bisa antisipasi dengan varian baru.

“Mohon doanya, semoga preklinik memberikan hasil yang bagus,” harapnya. (red/jnr/kmf)

Tutup