TANDONISASI, Strategi DPU Pengairan Banyuwangi Atasi Kekurangan Air
JATIM, (M-RADARNEWS.COM),- Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Pengairan Kabupaten Banyuwangi kini tengah di menggagas “Tandonisasi”. Ini di ambil pasalnya melihat fakta pada Musim Kemarau II (MK II), debit sumber air di Banyuwangi sempat turun. Tepatnya tahun 2019 lalu, debit sumber air turun 50 persen. Namun demikian, prosentase itu lebih baik jika dibandingkan kondisi pada tahun sebelumnya, dimana debit sumber mata air sempat turun hingga 60 persen.
“Artinya upaya-upaya yang telah dilakukan Dinas Pekerjaan Umum (PU) Pengairan dalam rangka pemenuhan kebutuhan air sedikit demi sedikit sudah terpenuhi,” ucap H Tjatur Nugraha Kabid Pembangunan dan Pengembangan DPU Pengairan Kab. Banyuwangi kepada wartawan melalui via whatsap, Senin (02/08/2021).
“Pembangunan embung-embung lapangan dan konservasi yang telah dilakukan Dinas PU Pengairan sedikit demi sedikit sudah memperbaiki daerah tangkapan air, sehingga sumber air berangsur-angsur kembali normal,” imbuhnya.
Embung atau tandon air merupakan waduk berukuran mikro di lahan pertanian (small farmreservoir) yang dibangun untuk menampung kelebihan air hujan saat musim hujan. Salah satu contoh Tandon Karangdoro, Tegal Sari, Banyuwangi. Tandon itu kini sudah di manfaatkan masyarakat setempat. Air yang ditampung tersebut, selanjutnya digunakan sebagai sumber irigasi suplementer untuk budidaya komoditas pertanian bernilai ekonomi tinggi di musim kemarau atau disaat curah hujan makin jarang.
Embung merupakan salah satu tehnik pemanenan air (waterharvesting) yang berfungsi sebagai tempat penampungan air drainase saat kelebihan air di musim hujan, dan sebagai sumber air irigasi pada musim kemarau. Sementara pada ekosistem tadah hujan atau lahan kering dengan intensitas dan distribusi hujan yang tidak merata, embung dapat digunakan untuk menahan kelebihan air, dan menjadi sumber air irigasi pada musim kemarau.
“Secara operasional sebenarnya embung berfungsi untuk mendistribusikan dan menjamin kontinuitas ketersediaan pasokan air untuk keperluan tanaman ataupun ternak di musim kemarau dan penghujan,” beber Tjatur.
Tujuan pembuatan embung atau tandon untuk pertanian, lanjutnya untuk menampung air hujan dan aliran permukaan pada wilayah sekitarnya, serta sumber air lainnya yang memungkinkan seperti mata air, parit, sungai-sungai kecil dan sebagainya. “Jadi kita berupaya bagaimana saat kelebihan air, sebisa mungkin air ini ditahan dalam permukaan tanah dan tidak cepat terbuang ke laut,” kata Tjatur.
Keberadaan embung atau tandon dalam aktivitas pertanian, akan menampung air di musim hujan dan digunakan untuk pengairan tanaman di musim kemarau, serta meningkatkan produktivitas lahan terutama lahan tadah hujan terutama tanaman di musim kemarau.
Dengan demikian, kata dia, akan membuka peluang untuk menanam tanaman, terutama tanaman hortikultura pada musim kemarau dilahan tadah hujan. Serta tersedianya air untuk supply irigasi di musim kemarau untuk tanaman palawija, hortikultura semusim, perkebunan semusim dan peternakan.
“Embung atau tandon ini juga akan mencegah atau mengurangi luapan air di musim penghujan dan menekan risiko banjir, karena tertampungnya air hujan serta memperbesar peresapan air ke dalam tanah sehingga menjaga kontinuitas sumber air bersih di daerah tersebut,” terangnya seraya mengingat Banyuwangi adalah salah satu lumbung pangan terbesar di Jawa Timur, maka sudah layak pembangunan sumber daya air menjadi salah satu program utama bagi Pemerintah Kabupaten Banyuwangi.
“Dengan wilayah yang luas, sedangkan ketersediaan anggaran yang ada, tidak mungkin akan terpenuhi semua dalam waktu yang bersamaan. Skala prioritas tetap menjadi salah satu pertimbangan dalam melaksanakan pembangunan sumberdaya air,” pungkas Tjatur menyudahi pembicaraan. (Anw)








