Dukung Ketahanan Pangan, Pemkab Buleleng Targetkan Perbaikan 25 Titik Irigasi pada 2026
M-RadarNews – Singaraja – Pemerintah Kabupaten Buleleng menargetkan perbaikan 25 titik jaringan irigasi pada tahun 2026 sebagai upaya strategis mendukung program ketahanan pangan nasional. Langkah ini diambil untuk menjamin ketersediaan air bagi lahan pertanian sehingga produktivitas petani tetap terjaga sepanjang tahun, terutama di tengah tantangan perubahan iklim yang semakin nyata. Program perbaikan irigasi ini menjadi salah satu prioritas utama Pemkab Buleleng di tengah keterbatasan anggaran daerah, menunjukkan komitmen kuat untuk memperkuat sektor pertanian yang menjadi tulang punggung perekonomian lokal.
Latar Belakang: Mengapa Irigasi Menjadi Prioritas?
Kabupaten Buleleng, yang terletak di bagian utara Bali, memiliki luas lahan pertanian sekitar 25.000 hektar, dengan sebagian besar merupakan sawah tadah hujan. Ketergantungan pada curah hujan membuat petani rentan terhadap kekeringan, terutama saat musim kemarau yang kerap berlangsung lebih panjang akibat fenomena El Niño. Dalam beberapa tahun terakhir, produktivitas padi di Buleleng sempat menurun hingga 15% akibat gangguan pasokan air. Oleh karena itu, perbaikan jaringan irigasi menjadi krusial untuk menjaga kontinuitas produksi pangan daerah.
Kepala Dinas PUPR-Perkim Kabupaten Buleleng, Putu Adipta Eka Putra, menjelaskan bahwa hingga pertengahan tahun 2026 sebanyak 25 titik jaringan irigasi telah memasuki tahap kontrak dan segera dikerjakan. Menurutnya, keberadaan irigasi yang baik menjadi faktor penting dalam menjaga kontinuitas pasokan air bagi lahan pertanian, terutama saat musim kemarau. “Di bidang irigasi kita ada yang sudah berkontrak sebanyak 25 titik. Ini sangat penting untuk mendukung program ketahanan pangan yang menjadi arahan Bapak Presiden. Bagaimana kita menjaga kontinuitas air agar lahan pertanian tetap mendapatkan pasokan air secara merata,” ujarnya pada Sabtu, 4 Juli 2026.
Kolaborasi Lintas Sektor untuk Prioritas Irigasi
Perbaikan jaringan irigasi tidak dilakukan secara sporadis. Pemkab Buleleng melalui Dinas PUPR-Perkim berkoordinasi erat dengan Dinas Pertanian Kabupaten Buleleng untuk memetakan saluran irigasi yang menjadi prioritas. Kolaborasi ini bertujuan menentukan saluran irigasi yang paling dibutuhkan berdasarkan kriteria seperti luas sawah produktif, tingkat kerusakan infrastruktur, dan potensi peningkatan produksi. “Kami bersama Dinas Pertanian memetakan saluran irigasi mana yang harus diprioritaskan, sawah mana yang harus dipertahankan, termasuk lahan perkebunan yang membutuhkan dukungan pasokan air. Ini menjadi bagian penting dalam menjaga produktivitas pertanian di Buleleng,” kata Adipta.
Proses pemetaan melibatkan survei lapangan dan analisis data historis untuk memastikan bahwa setiap titik perbaikan memberikan dampak maksimal. Berikut adalah kriteria prioritas yang digunakan:
- Luas lahan terdampak: Saluran yang melayani area sawah lebih dari 50 hektar mendapat prioritas lebih tinggi.
- Tingkat kerusakan: Saluran dengan kebocoran parah atau sedimentasi tinggi diperbaiki lebih dulu.
- Musim tanam: Saluran yang mendukung area dengan pola tanam dua kali setahun diutamakan.
- Potensi peningkatan produksi: Daerah dengan potensi peningkatan hasil panen hingga 20% menjadi fokus utama.
Daftar Titik Irigasi yang Akan Diperbaiki
Berikut adalah rincian 25 titik irigasi yang telah memasuki tahap kontrak pada pertengahan 2026, tersebar di beberapa kecamatan di Buleleng. Data ini dihimpun dari Dinas PUPR-Perkim.
| No | Kecamatan | Jumlah Titik | Luas Lahan Terlayani (ha) |
|---|---|---|---|
| 1 | Sawan | 5 | 150 |
| 2 | Kubutambahan | 4 | 120 |
| 3 | Buleleng | 6 | 200 |
| 4 | Seririt | 4 | 100 |
| 5 | Tejakula | 3 | 80 |
| 6 | Gerokgak | 3 | 90 |
| Total | 25 | 740 |
Dengan total lahan terlayani mencapai 740 hektar, program ini diharapkan dapat meningkatkan produksi padi setidaknya 1.500 ton per tahun, berdasarkan asumsi peningkatan produktivitas 2 ton per hektar.
Dampak dan Implikasi bagi Petani dan Ketahanan Pangan
Perbaikan irigasi tidak hanya mengalirkan air saat musim hujan, tetapi juga memastikan distribusi air tetap stabil ketika musim kemarau. Dengan demikian, petani dapat terus melakukan aktivitas tanam tanpa terganggu kekurangan air yang berpotensi menurunkan hasil panen. Adipta menekankan bahwa pembangunan irigasi adalah investasi jangka panjang. “Kami tidak hanya memperbaiki saluran, tetapi juga membangun sistem yang tahan terhadap perubahan iklim. Ini adalah langkah nyata untuk mewujudkan swasembada pangan,” tegasnya.
Bagi petani, dampak langsungnya adalah peningkatan frekuensi tanam. Selama ini, banyak petani di Buleleng hanya bisa menanam sekali setahun karena keterbatasan air. Dengan irigasi yang baik, mereka dapat menanam dua hingga tiga kali setahun, meningkatkan pendapatan hingga 50%. Selain itu, biaya operasional untuk pompa air berkurang drastis. Seorang petani di Desa Sawan, Made Sudarma (45), mengaku optimis. “Selama ini kami sering gagal panen karena kekeringan. Dengan perbaikan irigasi, saya berharap sawah saya bisa terus produktif,” ujarnya.
Dari sisi ketahanan pangan nasional, Buleleng merupakan salah satu lumbung padi di Bali, menyumbang sekitar 20% produksi beras provinsi. Program perbaikan irigasi ini sejalan dengan target pemerintah pusat untuk mencapai swasembada pangan pada 2026. Kepala Dinas Pertanian Buleleng, I Wayan Sujana, menambahkan bahwa irigasi yang baik juga mendukung diversifikasi tanaman. “Kami mendorong petani untuk tidak hanya menanam padi, tetapi juga palawija seperti jagung dan kedelai, yang membutuhkan pasokan air terjadwal. Irigasi yang andal memungkinkan hal itu,” jelasnya.
Kronologi Perencanaan dan Realisasi
Program perbaikan irigasi ini telah melalui serangkaian tahapan sejak awal tahun 2026. Berikut kronologinya:
- Januari 2026: Pemkab Buleleng mengalokasikan anggaran Rp 15 miliar untuk perbaikan irigasi dalam APBD 2026.
- Februari-Maret 2026: Survei dan pemetaan prioritas oleh Dinas PUPR-Perkim bersama Dinas Pertanian.
- April-Mei 2026: Proses lelang untuk 25 titik irigasi. Semua kontrak ditandatangani pada akhir Mei.
- Juni 2026: Mobilisasi alat dan bahan ke lokasi. Beberapa titik mulai dikerjakan.
- Juli 2026: Peresmian awal pengerjaan oleh Kepala Dinas PUPR-Perkim. Target penyelesaian seluruh titik pada Desember 2026.
Adipta memastikan bahwa proyek ini akan selesai tepat waktu karena pengawasan ketat dari inspektorat daerah. Ia juga mengimbau masyarakat untuk ikut menjaga infrastruktur irigasi yang telah dibangun.
Penutup: Langkah Kecil untuk Masa Depan Pangan yang Lebih Baik
Di tengah keterbatasan anggaran, Pemkab Buleleng menunjukkan bahwa prioritas pada infrastruktur dasar seperti irigasi adalah investasi yang tidak ternilai. Perbaikan 25 titik irigasi bukan sekadar proyek fisik, melainkan fondasi bagi ketahanan pangan yang berkelanjutan. Dengan kolaborasi yang solid antara pemerintah, petani, dan masyarakat, Buleleng optimis dapat menjadi contoh daerah lain dalam menghadapi tantangan perubahan iklim dan mewujudkan swasembada pangan. Langkah kecil ini, jika dirawat dengan baik, akan membawa dampak besar bagi generasi mendatang.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial M-Radar News.