Diduga Terjangkit Pes, Pekerja Laboratorium Rusia Meninggal, 200 Orang Diobservasi

Diduga Terjangkit Pes, Pekerja Laboratorium Rusia Meninggal, 200 Orang Diobservasi. Foto: viaAP/nbcnews.

M-Radar News, Internasional – Kematian seorang pekerja di Institut Anti-Wabah Siberia dan Timur Jauh di wilayah Irkutsk, Rusia, memicu langkah karantina dan pengawasan medis terhadap sejumlah orang yang diketahui melakukan kontak dengan korban.

Pekerja perempuan tersebut meninggal dunia pekan lalu setelah mengalami pneumonia yang hingga kini belum diketahui penyebabnya. Kondisi tersebut memicu perhatian karena korban diketahui bekerja di sebuah institusi yang menangani penelitian dan pengawasan penyakit menular.

Baca juga:

Gubernur wilayah Irkutsk, Igor Kobsev mengatakan, belum ditemukan mikroorganisme yang berkaitan dengan aktivitas profesional korban. Ia juga menyebut, tidak ada kasus baru dengan gejala serupa yang dilaporkan di antara pekerja lain di institut tersebut.

Menurut Kobsev, kondisi sanitasi dan epidemiologi di wilayah Irkutsk saat ini masih stabil. Pemerintah daerah terus memantau situasi untuk memastikan tidak terjadi penyebaran penyakit.

Sementara itu, fasilitas rawat inap yang diduga menjadi tempat korban menjalani perawatan telah ditutup sementara untuk karantina. Langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya pencegahan dan pemeriksaan terhadap kemungkinan penularan.

Wali Kota Distrik Kota Shelekhov, Maksim Modin mengatakan, hampir 200 orang yang pernah melakukan kontak dengan korban telah ditempatkan di bawah pengawasan medis.

“Mereka menjalani pemantauan sebagai langkah pencegahan guna mendeteksi kemungkinan munculnya gejala penyakit,” ujar Maksim Modin dikutib nbcnews, Senin (5/10/2026).

Sejumlah media Rusia menyebut, korban berusia 28 tahun dan telah mengungkap identitasnya. Namun, informasi mengenai usia dan identitas tersebut belum dikonfirmasi secara resmi oleh otoritas setempat.

Kasus ini juga mendapat perhatian dari Amerika Serikat. Departemen Luar Negeri AS meminta pemerintah Rusia, memberikan informasi yang lebih terbuka mengenai kondisi tersebut, terutama terkait penyebab kematian dan kemungkinan adanya penularan.

“Banyak detail yang belum dikonfirmasi,” ujar juru bicara Departemen Luar Negeri AS, seraya mengatakan, pihaknya mengetahui adanya laporan mengenai kematian yang diduga berkaitan dengan wabah pneumonia di wilayah Irkutsk.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan, pemerintah Amerika Serikat terus memantau perkembangan kasus tersebut. Menurutnya, meskipun perjalanan antara AS dan Rusia saat ini sangat terbatas, penyakit menular tetap berpotensi menyebar apabila terjadi penularan antarmanusia.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga mengaku telah mengetahui laporan mengenai kematian seorang pekerja laboratorium akibat pneumonia berat. Namun, WHO menegaskan belum ada penyebab kematian yang dikonfirmasi secara resmi.

Di Rusia, juru bicara Presiden Vladimir Putin, Dmitry Peskov mengatakan, penyelidikan terhadap kasus tersebut ditangani oleh Rospotrebnadzor. Ia meminta masyarakat mengacu pada keterangan resmi lembaga tersebut, dan tidak terpengaruh rumor maupun spekulasi.

Baca juga:

Mantan Koordinator Respons Covid-19 Gedung Putih, Dr. Ashish Jha menilai, masih diperlukan informasi lebih lengkap untuk memastikan apakah kasus tersebut merupakan kejadian tunggal atau bagian dari penularan yang lebih luas.

Jha mengatakan, apabila kasus tersebut hanya terjadi pada satu orang dan tidak ditemukan kematian maupun infeksi tambahan, kemungkinan besar situasinya dapat berakhir sebagai kasus terisolasi.

Namun, ia menilai investigasi tetap penting untuk mengetahui sumber penyakit dan memastikan tidak ada risiko penularan lebih lanjut.

Ia juga menyoroti pentingnya memastikan tidak adanya keterkaitan dengan aktivitas senjata biologis. Menurut Jha, apabila ditemukan program senjata biologis di fasilitas tersebut, kondisi itu akan menjadi perhatian yang jauh lebih serius.

Pneumonia yang disebabkan bakteri penyebab penyakit pes dapat menular antarmanusia melalui droplet pernapasan, terutama ketika penderita batuk atau bersin.

Penyakit tersebut membutuhkan penanganan medis secara cepat, dengan antibiotik untuk menekan risiko komplikasi dan kematian.

WHO sebelumnya melaporkan bahwa sepanjang 2019 hingga 2025, sebanyak 10 negara melaporkan lebih dari 3.800 kasus dugaan pes pada manusia.

Enam negara kemudian memiliki kasus yang terkonfirmasi, dengan sebagian besar kasus terjadi di Republik Demokratik Kongo dan Madagaskar.

Dalam periode tersebut, WHO mencatat sedikitnya 423 kematian terkait wabah pes yang terkonfirmasi di negara-negara tersebut.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial M-Radar News.

Baca juga:
Tutup