Pembangunan Rumah Pompa Lippo Sidoarjo Dikebut, Ditarget Rampung Awal Desember

Pembangunan rumah pompa di kawasan Lippo Kabupaten Sidoarjo. Foto: dok/ist

M-Radar News, Sidoarjo – Pembangunan rumah pompa di kawasan Lippo Sidoarjo terus dikebut. Proyek yang sebelumnya mendapat perhatian Wakil Bupati (Wabup) Sidoarjo, Mimik Idayana terkait kualitas material tersebut kini menunjukkan progres di atas target.

Hingga Rabu (7/10/2026), pembangunan rumah pompa telah memasuki tahap pengerjaan fondasi dan persiapan pengecoran. Proyek tersebut menggunakan material besi D16 dan D13 serta beton siap pakai (readymix).

Baca juga:

Rumah pompa ini nantinya difungsikan untuk mengatasi genangan banjir di kawasan bawah Tol Lippo Sidoarjo. Kapasitas genangan yang ditangani diperkirakan mencapai sekitar 1.300 meter kubik.

Pelaksana Proyek Rumah Pompa Lippo, Desra Wahyu Hidayat, S.T., mengatakan, pekerjaan sejauh ini berjalan dengan baik. Bahkan, progres pembangunan disebut berada di atas target yang telah ditetapkan.

“Meskipun terdapat kendala teknis berupa gangguan utilitas, seperti pipa PDAM dan kabel, yang menghambat manuver alat berat, kami tetap optimistis dapat menyelesaikan pekerjaan lebih cepat dari target kontrak pada Desember,” kata Desra saat ditemui di lokasi proyek.

Menurut Desra, percepatan pekerjaan dilakukan untuk mengantisipasi musim hujan sekaligus meminimalkan risiko banjir. Meski dikebut, kualitas pekerjaan tetap menjadi perhatian melalui pengawasan konsultan di lapangan.

“Pompa sudah datang dan siap dipasang. Kalau dihitung dengan pompa, progresnya sekitar 60-65 persen. Namun, untuk pekerjaan konstruksi rumah pompanya sendiri saat ini sekitar 26,67 persen dan belum termasuk pemasangan pompa,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur CV Alaric Karya, Ir. Bisri Musthofa, S.T., M.T., mengatakan, realisasi progres konstruksi rumah pompa saat ini mencapai 26,67 persen. Angka tersebut disebut surplus 17,093 persen dari target.

“Minggu ini kami menargetkan surplus bisa mencapai 20-22 persen dengan adanya tambahan pekerjaan fondasi dan persiapan pengecoran rumah pompa,” kata Bisri.

Bisri menjelaskan, kontrak pekerjaan tersebut berakhir pada 16 Desember 2026. Namun, kontraktor berupaya menyelesaikan proyek lebih cepat, yakni pada akhir November atau paling lambat awal Desember.

“Target kontrak berakhir pada 16 Desember. Namun, kami berupaya mempercepat penyelesaian hingga akhir November atau awal Desember untuk mengantisipasi musim hujan,” terangnya.

Ia menjelaskan, pembangunan rumah pompa tersebut ditujukan untuk mengatasi persoalan banjir yang kerap terjadi di kawasan bawah Tol Lippo akibat tingginya volume air hujan.

Dalam proses pengerjaan, kontraktor menghadapi sejumlah kendala teknis. Salah satunya longsor saat proses penggalian yang menyebabkan pipa PDAM mengalami kerusakan.

“Kendala yang sering kami hadapi adalah longsor saat penggalian yang menyebabkan pipa PDAM jebol. Ini sudah terjadi tiga kali,” ungkap Bisri.

Selain itu, keberadaan kabel listrik dan kabel jaringan internet milik sejumlah provider juga menghambat pergerakan alat berat di sekitar lokasi proyek.

“Selain itu, keberadaan kabel listrik dan kabel jaringan internet milik provider juga menghambat pergerakan alat berat di sekitar lokasi proyek,” tambahnya.

Baca juga:

Bisri mengungkapkan, koordinasi dengan pihak terkait, termasuk PLN dan Telkom, terus dilakukan. Untuk sementara, kabel yang mengganggu pekerjaan diikat agar alat berat tetap dapat melakukan manuver di lokasi.

“Untuk kualitas pekerjaan tetap terjaga karena ada pengawasan ketat setiap hari oleh konsultan dan pengawas dari dinas,” ujarnya.

Terkait material pasir yang sebelumnya menjadi perhatian Wakil Bupati Sidoarjo Mimik Idayana, Bisri menjelaskan, bahwa kontraktor awalnya menggunakan pasir pasang yang didatangkan dari wilayah Pasuruan dan Mojokerto.

“Secara teknis pasir tersebut sudah sesuai spesifikasi. Namun, setelah ada masukan terkait kualitas material, kami melakukan penggantian,” ucapnya.

Kontraktor kemudian mengganti material tersebut dengan pasir dari Lumajang. Menurut Bisri, pasir tersebut memiliki harga lebih mahal dan lebih sulit diperoleh, tetapi dipilih untuk meningkatkan kualitas pekerjaan.

“Demi memenuhi permintaan dan menjaga kualitas, kami mengganti material menjadi pasir Lumajang. Meskipun lebih mahal dan lebih sulit didapat, langkah ini kami ambil untuk memberikan kualitas terbaik,” jelasnya.

Pergantian material tersebut juga membuat kontraktor melakukan penyesuaian komposisi campuran semen. Bisri mengatakan, campuran yang sebelumnya menggunakan perbandingan 1:4 sesuai spesifikasi kemudian disesuaikan menjadi 1:3 dengan kadar semen lebih banyak.

“Karena karakteristik pasir Lumajang berbeda, kami melakukan penyesuaian komposisi campuran semen. Dari yang awalnya 1:4 menjadi 1:3 agar hasil pasangan lebih kuat, tidak mudah rapuh, dan lebih mudah diaplikasikan di lapangan,” jelasnya.

Lebih lanjut, Bisri menegaskan, bahwa kontraktor bersikap kooperatif terhadap masukan Wakil Bupati Sidoarjo, khususnya terkait kualitas material.

“Atensi dari Bu Wabup kami respons dengan melakukan perbaikan kualitas material, termasuk mengganti pasir dan menyesuaikan komposisi campuran semen dengan menambah kadar semen,” tandasnya.

Menurut Bisri, perubahan material dan komposisi campuran tersebut berdampak terhadap biaya serta operasional proyek. Namun, langkah itu dilakukan untuk memastikan kualitas bangunan tetap memenuhi standar.

“Meskipun perubahan ini meningkatkan biaya dan kesulitan operasional, langkah tersebut kami ambil untuk memastikan standar kualitas bangunan lebih baik dan memenuhi ekspektasi pengawas serta pemberi tugas,” pungkasnya.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial M-Radar News.

Baca juga:
Tutup