Kepala BNPT Ungkap Perempuan dan Anak Jadi Target Empuk Perekrutan Teroris
M-Radar News, Jakarta – Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Pol (Purn) Eddy Hartono menyatakan, bahwa perempuan, anak, dan remaja menjadi sasaran utama kelompok teror dalam proses perekrutan.
Hal ini disampaikan Eddy saat Penguatan Kolaborasi Pelaksanaan Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Penanggulangan Ekstremisme Berbasis Kekerasan (RAN PE) Fase II di Gedung Tribrata, Jakarta, Senin (27/7/2026).
Menurut Eddy, perubahan pola ancaman terorisme membuat kelompok ekstrem memanfaatkan internet sebagai media utama perekrutan. “Perempuan, anak, remaja menjadi sasaran efektif untuk, tadi itu, dilakukan rekrutmen,” katanya.
Ia menambahkan, media dan internet menjadi sarana efektif untuk melakukan rekrutmen, propaganda, dan pendanaan teror. “Dan oleh sebab itu, tadi Pak Menko juga mengatakan bahwa media, internet, ini menjadi sarana yang efektif untuk melakukan rekrutmen, propaganda, dan pendanaan teror,” ujarnya.
Karena itu, BNPT menjadikan isu perlindungan perempuan, anak, dan remaja sebagai salah satu fokus dalam pelaksanaan RAN PE Fase II. Selain pemerintah pusat, pemerintah daerah juga diharapkan aktif menjalankan program pencegahan melalui penyusunan Rencana Aksi Daerah (RAD).
“Di mana dalam RAN PE ini, dalam arahan Bapak Presiden menekankan dengan prinsip-prinsip whole-of-government and whole-of-society approach. Jadi antara pemerintah, masyarakat, dan elemen masyarakat, terutama media, tokoh masyarakat, tokoh akademisi, sama-sama melakukan upaya pencegahan ya,” ujar Eddy.
Eddy menjelaskan, strategi pencegahan harus melibatkan semua pihak. Pendekatan whole-of-government and whole-of-society menuntut kolaborasi lintas sektor. Pemerintah pusat dan daerah, bersama tokoh agama, tokoh masyarakat, akademisi, dan media, harus aktif dalam upaya pencegahan.
Sementara itu, BNPT terus memperkuat program deradikalisasi dan kontra-radikalisasi yang menyasar kelompok rentan. Perempuan, anak, dan remaja dinilai paling mudah terpapar propaganda radikal di dunia maya. Oleh karena itu, literasi digital dan pendidikan toleransi menjadi kunci.
Selain itu, BNPT juga mendorong peran keluarga dalam membentengi anggota keluarga dari pengaruh radikalisme. Orang tua diminta aktif mengawasi aktivitas anak di internet dan menanamkan nilai-nilai kebangsaan sejak dini.
Eddy menekankan, pencegahan tidak bisa dilakukan sendiri oleh BNPT. Dibutuhkan sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan elemen lainnya. “Media, tokoh masyarakat, tokoh akademisi, sama-sama melakukan upaya pencegahan,” ujarnya.
Menurutnya, kelompok teror terus beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Mereka memanfaatkan platform digital untuk menyebarkan propaganda dan merekrut anggota. Anak muda menjadi target karena mudah dipengaruhi melalui konten-konten radikal di media sosial.
Data BNPT menunjukkan, dalam beberapa tahun terakhir, keterlibatan perempuan dalam aksi teror meningkat. Perempuan tidak hanya menjadi korban, tetapi juga pelaku. Mereka direkrut melalui pendekatan emosional dan ideologis.
Eddy mengingatkan, ancaman terorisme tidak hanya berasal dari kelompok tertentu, tetapi juga dari individu yang terpapar radikalisme secara daring. Fenomena lone wolf atau serigala tunggal menjadi tantangan baru bagi aparat keamanan.
Karena itu, BNPT mengajak seluruh komponen bangsa untuk waspada. Masyarakat diimbau melaporkan konten atau aktivitas mencurigakan di internet kepada pihak berwenang. “Kita semua harus bersama-sama mencegah radikalisme dan terorisme,” ujar Eddy.
Pemerintah juga terus mendorong implementasi RAN PE di daerah. Hingga saat ini, sejumlah provinsi telah menyusun RAD dan mulai menjalankan program pencegahan. Namun, masih banyak daerah yang perlu didorong.
BNPT berharap, dengan kolaborasi yang kuat, upaya pencegahan dapat berjalan efektif. Perlindungan terhadap perempuan, anak, dan remaja menjadi prioritas agar mereka tidak terjebak dalam jaringan teror.
Pada kesempatan yang sama, Eddy juga mengingatkan bahwa pendanaan terorisme kini banyak dilakukan melalui transaksi digital. Kelompok teror memanfaatkan cryptocurrency dan platform pembayaran online. Oleh karena itu, pengawasan terhadap aliran dana mencurigakan perlu diperketat.
“Pendanaan teror juga melalui media, internet. Jadi kita harus waspada,” ujarnya.
Meski demikian, Eddy optimistis dengan kerja sama semua pihak, ancaman terorisme dapat ditekan. Ia mengajak masyarakat tidak takut, tetapi tetap waspada dan proaktif dalam menjaga keamanan.
“Yang terpenting, kita semua memiliki tanggung jawab yang sama untuk mencegah terorisme,” pungkasnya.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial M-Radar News.












