6 Negara Nordik dan 3 Konfederasi Tekan Gianni Infantino Mundur dari FIFA
M-Radar News – Tekanan terhadap Gianni Infantino, Presiden FIFA, terus meningkat tajam dari berbagai pihak, termasuk enam asosiasi sepak bola negara Nordik dan tiga konfederasi utama sepak bola dunia yang kini mempertimbangkan langkah mosi tidak percaya.
Enam asosiasi sepak bola dari Denmark, Finlandia, Islandia, Norwegia, Swedia, dan Kepulauan Faroe secara resmi menyatakan kehilangan kepercayaan terhadap kepemimpinan Infantino. Pernyataan bersama ini dikeluarkan setelah pertemuan di Helsinki pada 23 Agustus 2026, menyoroti keprihatinan serius terkait tata kelola dan proses pengambilan keputusan FIFA di tingkat tertinggi.
Salah satu isu utama yang menjadi sorotan adalah rencana FIFA membuka kepemilikan kompetisi, termasuk Piala Dunia, kepada investor swasta. Meski rencana tersebut sudah ditarik, keenam negara Nordik mendesak adanya jaminan yang mengikat agar tata kelola dan kompetisi FIFA tidak kembali terbuka untuk investasi swasta. Mereka juga mendukung tuntutan investigasi eksternal independen terhadap proposal FIFA Enterprise serta peninjauan menyeluruh tata kelola FIFA.
Selain tekanan dari negara Nordik, tiga konfederasi besar yaitu UEFA, AFC, dan CONCACAF mempertimbangkan mosi tidak percaya terhadap Infantino. Jika dilaksanakan, ini akan menjadi preseden baru karena sepanjang sejarah FIFA selama 122 tahun belum pernah ada pemungutan suara mosi tidak percaya terhadap presiden yang sedang menjabat.
Opsi yang dipertimbangkan bagi Infantino adalah mundur secara sukarela dan tidak mencalonkan diri kembali pada Kongres FIFA Maret 2027, atau menghadapi upaya pencopotan melalui mosi tidak percaya. Meski demikian, Infantino masih mendapat dukungan kuat dari sejumlah asosiasi, terutama dari Afrika dan Amerika Selatan.
Kemarahan publik juga semakin meningkat. Berbagai kelompok suporter meluncurkan petisi daring menuntut Infantino mundur dan mendesak reformasi besar di FIFA. Petisi ini muncul setelah Infantino membatalkan rencana kontroversial melibatkan investasi swasta dalam pengelolaan turnamen FIFA, yang dianggap sebagai pengkhianatan terhadap dunia sepak bola oleh para suporter.
Di dalam tubuh FIFA sendiri, konflik juga muncul. Salah satu Wakil Presiden FIFA, Sandor Csanyi dari Hungaria, secara resmi mencabut dukungannya terhadap Infantino. Csanyi menyatakan kepercayaannya terhadap kepemimpinan Infantino telah runtuh, terutama setelah pemecatan kontroversial terhadap COO FIFA, Kevin Lamour, yang mengkritik rencana investasi swasta Infantino. Csanyi menilai pemecatan tersebut menunjukkan kelemahan serius dalam etika dan kepemimpinan FIFA.
Di sisi lain, salah satu sekutu dekat Infantino, Véron Mosengo-Omba, Presiden Federasi Sepak Bola Kongo, menyatakan dukungannya kepada Infantino. Namun, Mosengo-Omba juga mengkritik rencana FIFA Forward Enterprise yang hendak menjual hak komersial Piala Dunia kepada investor swasta. Ia menegaskan bahwa dukungan untuk Infantino tidak berarti persetujuan terhadap seluruh kebijakan yang diambil.
Situasi ini menandai gejolak terbesar dalam sejarah FIFA, dengan berbagai pihak dari tingkat nasional hingga konfederasi menuntut reformasi tata kelola dan kepemimpinan yang lebih transparan dan melayani kepentingan sepak bola, bukan hanya kepentingan bisnis semata. Proses menuju Kongres FIFA 2027 akan menjadi momen penting menentukan masa depan organisasi sepak bola dunia tersebut.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial M-Radar News.












