Orang Tua Perlu Bijak Kenalkan Anak pada Dunia Digital
M-Radar News, Madiun – Ketertarikan anak terhadap gadget tidak muncul tanpa alasan. Psikolog Robik Anwar Dani, M.Psi., Psikolog, menjelaskan bahwa gadget memberikan hiburan dan stimulasi yang mudah diakses, membuat anak sangat tertarik.
Robik yang juga Founder psikologanak.id dan dosen Psikologi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS) Kampus Madiun mengatakan, dalam satu perangkat sudah tersedia berbagai kebutuhan hiburan. “Kapan kita mau mencari sesuatu, semuanya bisa didapatkan. Itulah yang membuat anak sangat tertarik dengan gadget,” ujarnya, Minggu (12/7/2026).
Menurut Robik, daya tarik utama gadget adalah stimulasi visual dan audio yang mudah diakses. Anak sangat responsif terhadap rangsangan sensorik. Manusia memiliki lima sistem sensorik: visual, auditorik, peraba, penciuman, dan pengecap. Dari kelima sensor tersebut, gadget paling banyak merangsang indra penglihatan dan pendengaran.
“Anak sangat cepat terstimulasi secara visual. Gadget menjadi sumber stimulasi visual yang sangat mudah diperoleh. Ketika mereka mendapat stimulasi itu, muncul reward instan. Hanya dengan melihat layar, mereka sudah merasa terhibur,” jelasnya.
Akibatnya, perhatian anak menjadi sangat terfokus pada layar dan suara. Tidak sedikit anak yang tetap asyik menatap layar meski dipanggil orang tuanya. “Konten di gadget bergerak sangat cepat sehingga anak semakin terpaku pada visual dan auditorinya. Itu sebabnya kadang dipanggil pun tidak merespons karena fokusnya tersedot ke layar,” katanya.
Meski demikian, Robik menegaskan solusi bukanlah melarang anak menggunakan gadget sepenuhnya. Anak-anak yang lahir pada era sekarang merupakan generasi digital native sehingga tetap perlu mengenal teknologi. Namun, pengenalan gadget harus disesuaikan dengan tahapan usia dan perkembangan anak.
“Boleh mengenalkan gadget karena mereka adalah digital native. Tetapi perhatikan dulu usianya. Jangan anak usia dua tahun langsung diberikan handphone. Nantinya justru orang tua sendiri yang akan kerepotan,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa penggunaan gadget terlalu dini tanpa pendampingan dapat berdampak pada perkembangan kemampuan berbahasa anak. Dalam praktiknya sebagai psikolog, Robik cukup sering menerima keluhan dari orang tua mengenai anak yang mengalami keterlambatan berbicara.
“Banyak orang tua mengeluhkan anak usia tiga atau empat tahun belum bisa berbicara dengan baik. Setelah ditelusuri, salah satu stimulasi yang paling dominan diberikan adalah gadget,” ungkapnya.
Karena itu, ia mengimbau orang tua agar tidak menjadikan gadget sebagai pengasuh utama anak. Pendampingan, interaksi langsung, bermain bersama, serta komunikasi tatap muka tetap menjadi stimulasi terbaik untuk mendukung tumbuh kembang anak.
“Anak memang harus berinteraksi dengan teknologi karena mereka hidup di era digital. Tetapi penggunaan gadget tetap harus dibatasi, disesuaikan dengan usia, dan selalu didampingi orang tua agar manfaatnya lebih besar daripada risikonya,” sebutnya.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial M-Radar News.










