Orderan Seragam, Penjahit di Magetan Pilih Tak Naikkan Tarif Meski Biaya Meningkat

Orderan Seragam, Penjahit di Magetan Pilih Tak Naikkan Tarif Meski Biaya Meningkat

M-Radar News, Memasuki tahun ajaran baru, usaha jahit seragam sekolah di Kabupaten Magetan kebanjiran pesanan. Namun, di tengah kenaikan harga benang dan kebutuhan pokok, para penjahit memilih tidak menaikkan ongkos jahit demi meringankan beban orang tua siswa.

Di Rumah Jahit Indah, Jalan Kelud, Magetan, aktivitas menjahit berlangsung sejak pagi hingga malam. Tumpukan kain seragam memenuhi ruang kerja, sementara daftar pesanan terus bertambah.

Pemilik Rumah Jahit Indah, Edi Purwanto, mengatakan pesanan datang hampir bersamaan dari berbagai jenjang pendidikan, mulai SD, MI, SMP hingga SMA. “Kalau musim masuk sekolah seperti ini semua penjahit pasti ramai. Pesanannya datang bersamaan, sementara tenaga kami terbatas,” katanya.

Edi mengaku sudah menghentikan penerimaan pesanan sejak sekitar sepekan terakhir. Keputusan itu diambil agar seluruh pesanan yang sudah diterima dapat selesai tepat waktu. “Daripada terlambat, lebih baik sementara kami tutup order karena kapasitas sudah penuh,” ujarnya.

Saat ini usahanya hanya didukung dua penjahit dan seorang pekerja yang khusus memasang kancing. Dalam sehari, satu penjahit rata-rata hanya mampu menyelesaikan satu hingga satu setengah stel seragam karena seluruh proses dikerjakan mulai dari pengukuran, pemotongan hingga tahap akhir.

Menurut Edi, mencari tenaga jahit yang berpengalaman juga tidak mudah. Meski sudah membuka lowongan melalui media sosial, hingga kini belum menemukan pekerja yang sesuai kebutuhan. “Saya butuh penjahit yang benar-benar sudah terbiasa membuat seragam sekolah. Tidak semua yang bisa menjahit langsung bisa mengerjakannya dengan hasil yang rapi,” katanya.

Meski biaya produksi terus meningkat, Edi tetap mempertahankan tarif jahit Rp150 ribu hingga Rp160 ribu per stel. Harga benang memang naik sekitar Rp2.000 hingga Rp3.000 per kotak, tetapi ia memilih tidak membebankan kenaikan biaya tersebut kepada pelanggan. “Kalau ongkos jahit ikut naik, kasihan orang tua yang sedang banyak pengeluaran untuk sekolah. Saya lebih memilih menjaga pelanggan,” ujarnya.

Pengalaman hampir tiga dekade membuat Edi merasakan perubahan biaya produksi yang cukup besar. Saat membuka usaha pada 1997, ongkos jahit seragam hanya sekitar Rp7.000 per stel.

Sementara itu, kondisi serupa juga dialami Sri Mulyani, penjahit di Pasar Baru Magetan. Selama beberapa hari terakhir ia disibukkan pesanan jahit seragam sekaligus jasa permak pakaian agar seragam lama masih bisa digunakan. “Selain membuat seragam baru, banyak juga yang mengecilkan atau membesarkan seragam anak supaya bisa dipakai lagi,” katanya.

Setiap hari, Sri bersama suaminya mampu menyelesaikan satu hingga dua stel seragam. Tarif jahit di kiosnya tetap Rp150 ribu per stel dan tidak berubah selama tiga tahun terakhir. Menurutnya, sebelumnya ongkos jahit dipatok Rp125 ribu per stel.

Meski harga benang dan kebutuhan pokok terus naik, ia memilih tidak menaikkan tarif karena memahami kondisi ekonomi masyarakat. “Memang kami ikut terdampak kenaikan harga bahan dan kebutuhan sehari-hari. Tetapi kami juga tahu orang tua sekarang harus mengeluarkan banyak biaya saat tahun ajaran baru, jadi tarif tetap kami pertahankan,” ujarnya.

Bagi para penjahit di Magetan, musim penerimaan siswa baru tidak hanya menjadi momen meningkatnya pendapatan, tetapi juga kesempatan membantu masyarakat. Dengan mempertahankan tarif jahit, mereka berharap orang tua tetap dapat memenuhi kebutuhan seragam sekolah tanpa terbebani biaya yang semakin tinggi.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial M-Radar News.

Tutup