SLF 2026 Ajak Publik Membaca Ulang Lontar Stri Sasana dan Peran Perempuan dalam Tradisi Bali

SLF 2026 Ajak Publik Membaca Ulang Lontar Stri Sasana dan Peran Perempuan dalam Tradisi Bali

M-RadarNews – Singaraja – Singaraja Literary Festival (SLF) kembali hadir pada tahun 2026 dengan tema yang menggugah: “Stri Sasana Energi Keseimbangan Semesta”. Festival yang akan berlangsung pada 3-5 Juli 2026 ini tidak sekadar menjadi ajang literasi biasa, melainkan sebuah gerakan intelektual untuk mengajak publik membaca ulang naskah kuno Bali, Lontar Stri Sasana, dan merefleksikan peran perempuan dalam tradisi serta peradaban kontemporer.

Menggali Makna Stri Sasana

Secara etimologis, “Stri” berarti perempuan, sedangkan “Sasana” merujuk pada ajaran, aturan, etika, atau landasan moral. Lontar Stri Sasana selama ini kerap dipahami sebagai kumpulan pedoman bagi perempuan Bali dalam bersikap dan bertindak. Namun, Pendiri sekaligus Direktur SLF, Kadek Sonia Piscayanti, menegaskan bahwa interpretasi tersebut terlalu sempit. “Stri Sasana tidak dapat dimaknai hanya sebagai kumpulan aturan mengenai perempuan. Naskah ini juga memuat nilai tentang ketangguhan, kebijaksanaan, dan peran perempuan dalam kehidupan sosial,” ujarnya dalam konferensi pers, Senin, 22 Juni 2026.

Menurut Sonia, dalam kosmologi Bali, perempuan dipandang sebagai energi penciptaan, pemeliharaan, dan keberlanjutan kehidupan. Oleh karena itu, kepemimpinan dan suara perempuan memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan sosial, budaya, maupun lingkungan. SLF 2026 ingin menunjukkan bahwa feminisme tidak selalu bertentangan dengan tradisi. Justru tradisi dapat menjadi sumber pengetahuan untuk membaca kembali nilai-nilai kesetaraan yang hidup dalam masyarakat.

Membaca Ulang Naskah Kuno dalam Konteks Kekinian

Salah satu misi utama SLF 2026 adalah menghadirkan ruang diskusi kritis terhadap Lontar Stri Sasana. Festival tidak bermaksud mengagungkan seluruh isi manuskrip atau menghakiminya dengan ukuran masa kini. Sebaliknya, SLF ingin mengajak para akademisi, filolog, pegiat budaya, dan masyarakat umum untuk menelaah nilai-nilai yang masih relevan dan dapat diadaptasi dalam kehidupan modern.

“Kami tidak ingin memposisikan perempuan sebagai objek. Justru kami ingin menunjukkan bahwa perempuan sejak lama hadir sebagai bagian penting dalam bangunan pengetahuan dan peradaban Bali,” tambah Sonia.

Ragam Program SLF 2026

SLF 2026 akan menyajikan 42 program yang dirancang untuk memperkaya wawasan peserta. Berikut adalah tabel jadwal acara utama:

Tanggal Program Pembicara/Instruktur
3 Juli 2026 Diskusi Sastra: “Stri Sasana dan Feminisme Bali” Kadek Sonia Piscayanti, Dr. Ni Luh Sutjiati Beratha
4 Juli 2026 Kuliah Umum: “Perempuan dalam Manuskrip Bali Prof. Dr. I Nyoman Sedana
4 Juli 2026 Lokakarya Membaca Lontar Tim Filolog Universitas Udayana
5 Juli 2026 Pameran Manuskrip dan Pertunjukan Seni Sanggar Seni Bali

Selain itu, terdapat pula lokakarya penulisan kreatif, diskusi panel tentang kepemimpinan perempuan, dan pertunjukan seni tradisional yang mengangkat tema keseimbangan semesta.

Dampak dan Implikasi bagi Masyarakat Bali dan Indonesia

Pengangkatan tema Stri Sasana di SLF 2026 diharapkan memberikan dampak positif dalam beberapa aspek:

  • Revitalisasi Warisan Budaya: Mendorong minat masyarakat, terutama generasi muda, untuk mempelajari dan melestarikan naskah kuno Bali.
  • Dialog Gender Berbasis Tradisi: Membuka ruang diskusi tentang kesetaraan gender yang tidak meninggalkan akar budaya lokal, sehingga lebih mudah diterima oleh masyarakat tradisional.
  • Penguatan Ekonomi Kreatif: Festival ini juga menjadi ajang promosi bagi para penulis, seniman, dan pegiat budaya, serta menarik wisatawan literasi ke Singaraja.
  • Inspirasi bagi Festival Lain: SLF dapat menjadi model bagi festival literasi di daerah lain untuk mengangkat manuskrip lokal sebagai tema sentral.

Dalam jangka panjang, diskusi kritis tentang Stri Sasana diharapkan mampu mengubah paradigma bahwa tradisi dan modernitas dapat berjalan beriringan. Perempuan Bali, yang selama ini sering ditempatkan dalam peran domestik, dapat melihat kembali bahwa naskah kuno mereka justru mengakui peran strategis perempuan dalam tatanan sosial.

Kronologi Persiapan SLF 2026

Berikut adalah kronologi peristiwa penting menjelang SLF 2026:

  • Januari 2026: Tim kurator SLF memutuskan tema Stri Sasana setelah melakukan riset mendalam terhadap manuskrip Bali.
  • Maret 2026: Sosialisasi tema kepada publik melalui media sosial dan pertemuan dengan pegiat budaya.
  • Mei 2026: Konfirmasi partisipasi 42 pembicara dan instruktur dari berbagai daerah.
  • 22 Juni 2026: Konferensi pers resmi di Singaraja.
  • 3-5 Juli 2026: Pelaksanaan festival.

Proses persiapan yang matang menunjukkan keseriusan penyelenggara dalam menghadirkan diskusi yang bermakna dan berdampak luas.

Penutup: Tradisi sebagai Sumber Pencerahan

SLF 2026 bukan sekadar festival literasi biasa. Dengan mengangkat Lontar Stri Sasana, festival ini mengajak kita untuk merenung: bagaimana warisan leluhur dapat menjadi cermin bagi perjuangan perempuan masa kini? Di tengah arus globalisasi yang kerap mengikis nilai lokal, justru tradisi dapat menjadi oase pengetahuan yang relevan. Stri Sasana mengingatkan bahwa perempuan bukanlah pelengkap, melainkan energi keseimbangan semesta. Melalui diskusi, lokakarya, dan pertunjukan, SLF 2026 berharap dapat menanamkan pemahaman bahwa menghargai perempuan adalah bagian dari menghargai peradaban itu sendiri.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial M-Radar News.

Tutup