Adu Sandya Gita Bangli dan Tabanan Meriahkan PKB 2026: Filosofi Damar Kurung vs Sidhaning Don
M-RadarNews, Bali – Panggung Terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Provinsi Bali menjadi saksi perhelatan akbar Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-48. Pada Selasa malam, dua duta kabupaten, Bangli dan Tabanan, unjuk kebolehan dalam Gong Kebyar Wanita. Bukan sekadar pertunjukan, malam itu adalah adu Sandya Gita, sebuah nyanyian sakral yang menggetarkan jiwa ribuan penonton yang hadir langsung maupun via streaming YouTube RRI Denpasar.
Dua Duta, Dua Filosofi Hidup
Bangli diwakili oleh Sanggar Sakura Dewata dari Br. Sukajiwa, Desa Yangapi, Kecamatan Tembuku, sementara Tabanan diwakili oleh Sekaa Gong Remaja Tri Yowana Sandhi, Desa Baturiti, Kecamatan Kerambitan. Masing-masing membawakan tiga sajian: tabuh kreasi, tari kreasi, dan Sandya Gita. Puncak acara adalah adu Sandya Gita, di mana Bangli membawakan “Damar Kurung” dan Tabanan “Sidhaning Don”.
Damar Kurung: Cahaya Suci Perjalanan Atma
“Damar Kurung” karya Bangli melambangkan cahaya suci yang menuntun atma (roh) menuju asal kehidupan. Dalam tradisi Pitra Yadnya, damar (lentera) digunakan sebagai sarana memohon kepada Sanghyang Citta agar tidak meluas, sehingga roh mendapat jalan terbaik menuju Budalaya. Nyala api damar kurung menjadi simbol doa, penghormatan, dan keikhlasan keluarga dalam melepas jiwa. Konsep parisudhaning jiwa atau penyucian atma menjadi inti garapan ini, mengingatkan bahwa kematian bukanlah akhir, melainkan transisi menuju Sunia Loka atau punarbhawa (reinkarnasi).
Sidhaning Don: Berjalan Lurus Tanpa Hambatan
Sementara itu, Tabanan menyuguhkan “Sidhaning Don” yang berarti berjalan lurus tanpa gangguan. Karya ini menekankan bahwa Atma Kertih, sebagai fondasi Sad Kertih, tidak hanya bicara soal kematian, melainkan karma semasa hidup. Perbuatan baik saat hidup menentukan pahala yang menjadi bekal roh menuju kemurnian. “Sidhaning Don” mengajak manusia untuk eling pada dharma dan swadharma, sehingga perjalanan roh menuju kebebasan menjadi mulus.
Kronologi Pertunjukan
Acara dimulai pukul 19.00 WITA dengan tabuh kreasi dari kedua duta. Setelah itu, tari kreasi memukau penonton dengan gerakan dinamis. Puncak acara adalah Sandya Gita yang dimulai sekitar pukul 21.00. Kedua kelompok tampil bergantian, masing-masing membawakan komposisi vokal yang sarat makna spiritual. Penonton memberikan tepuk tangan meriah setelah penampilan terakhir.
Dampak dan Implikasi bagi Masyarakat Bali
PKB bukan sekadar ajang kompetisi, melainkan wadah pelestarian budaya. Adu Sandya Gita ini mengingatkan generasi muda akan nilai-nilai luhur Hindu Bali. Bagi seniman, ini adalah panggung untuk berkreasi dan berinovasi. Bagi pemerintah, acara ini memperkuat identitas budaya Bali di mata nasional dan internasional. Apresiasi penonton, baik langsung maupun daring, menunjukkan bahwa seni tradisional masih relevan di era digital.
Data Perbandingan Dua Duta
| Aspek | Bangli (Sanggar Sakura Dewata) | Tabanan (Sekaa Gong Remaja Tri Yowana Sandhi) |
|---|---|---|
| Judul Sandya Gita | Damar Kurung | Sidhaning Don |
| Filosofi Utama | Cahaya suci penuntun atma | Perjalanan lurus tanpa hambatan |
| Konsep Kunci | Parisudhaning jiwa, Pitra Yadnya | Atma Kertih, karma semasa hidup |
| Simbol | Nyala api damar kurung | Jalan lurus, dharma |
Antusiasme terlihat dari membludaknya penonton di Ardha Candra. Mereka yang tidak bisa hadir bisa menyaksikan melalui kanal YouTube RRI Denpasar. Komentar positif membanjiri kolom chat, memuji kedalaman filosofi dan kualitas artistik kedua penampil. Hal ini membuktikan bahwa Sandya Gita mampu menyentuh hati lintas generasi.
Malam itu, Ardha Candra bukan sekadar panggung, melainkan ruang kontemplasi. Damar Kurung dan Sidhaning Don mengingatkan bahwa hidup adalah perjalanan suci yang harus dilalui dengan keikhlasan dan keteguhan dharma. PKB 2026 telah memberikan warisan tak ternilai: dialog antara seni dan spiritualitas yang terus bergema di jiwa setiap penonton.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial M-Radar News.










