Profil Pavel Durov, Pendiri Telegram yang Jadi Buronan Rusia
M-Radar News – Pavel Durov, pendiri sekaligus CEO Telegram, resmi masuk daftar buronan internasional Rusia setelah Dinas Keamanan Federal Rusia (FSB) mendakwanya atas tuduhan memfasilitasi aktivitas terorisme. Tak lama setelah pengumuman tersebut, akun resmi Telegram di platform X mengunggah foto Durov yang mengacungkan jari tengah sebagai respons simbolis.
Pavel Durov lahir di St. Petersburg, Rusia, pada 10 Oktober 1984. Ia dikenal sebagai pendiri jejaring sosial VKontakte (VK) pada 2006 yang menjadi media sosial terbesar di Rusia. Hubungannya dengan Kremlin memburuk setelah ia menolak menyerahkan data pengguna dan membatasi aktivitas oposisi di VK. Pada 2014, ia dipecat dari posisi CEO VK dan kemudian meninggalkan Rusia. Bersama kakaknya, Nikolai Durov, ia meluncurkan Telegram pada 2013, sebuah aplikasi pesan instan yang mengutamakan enkripsi dan privasi.
Kronologi Tuduhan FSB
Pada Rabu, 29 Juli 2026, FSB mengumumkan bahwa Durov didakwa berdasarkan Pasal 205.1 KUHP Rusia tentang bantuan terhadap aktivitas terorisme. FSB menuding Telegram gagal menghapus kanal, grup, dan bot yang digunakan oleh badan intelijen Ukraina serta kelompok teroris dan ekstremis untuk merencanakan aksi sabotase, serangan teroris, pembunuhan massal, dan penipuan siber di wilayah Rusia. Saluran tersebut juga disebut digunakan untuk merekrut warga Rusia, termasuk melalui chatbot kencan “Daivinchik/Leo”. FSB mengklaim 46 warga Rusia berusia 12 hingga 22 tahun telah ditangkap dalam setahun terakhir karena terlibat.
Respons Telegram
Hingga berita ini ditulis, Telegram maupun Durov belum mengeluarkan pernyataan resmi. Namun, akun resmi Telegram di X mengunggah foto Durov dengan gestur jari tengah tanpa caption, yang ditafsirkan sebagai sindiran terhadap tuduhan Rusia. Telegram yang berbasis di Dubai telah menjadi platform komunikasi penting bagi kedua belah pihak dalam konflik Rusia-Ukraina, kerap disebut sebagai “medan perang virtual”.
Durov memiliki kewarganegaraan Rusia, Uni Emirat Arab, dan Prancis. Ia menghabiskan lebih dari US$200 juta dari hasil penjualan saham VK untuk membangun Telegram. Kini Telegram memiliki lebih dari satu miliar pengguna aktif di seluruh dunia.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial M-Radar News.












