BMKG Waspadai Karhutla, Ribuan Titik Panas Terdeteksi di Sejumlah Wilayah

BMKG Waspadai Karhutla, Ribuan Titik Panas Terdeteksi di Sejumlah Wilayah. Foto: bmkg

M-Radar News, Jakarta – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di tengah musim kemarau yang masih berlangsung di sebagian besar wilayah Indonesia.

Peringatan tersebut disampaikan menyusul masih terdeteksinya sebaran asap dan tingginya konsentrasi titik panas (hotspot) yang ada di sejumlah wilayah.

Dalam prakiraan cuaca sepekan yang disampaikan Sabtu (12/9/2026), BMKG mencatat berdasarkan pemantauan selama 10 hari terakhir, titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi masih terkonsentrasi di beberapa wilayah.

Kalimantan Tengah menjadi daerah dengan akumulasi titik panas tertinggi, yakni 2.526 titik. Selanjutnya Kalimantan Barat sebanyak 2.102 titik, Sumatra Selatan 1.180 titik, dan Papua Selatan 570 titik.

Sebaran asap juga masih terdeteksi di sejumlah wilayah, meliputi Sumatra Barat, Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Papua Pegunungan, Papua Tengah, dan Papua Selatan.

Kondisi tersebut terjadi ketika sekitar 81,1 persen wilayah Indonesia atau 567 zona musim masih berada dalam periode musim kemarau berdasarkan analisis perkembangan musim kemarau Dasarian III Agustus 2026.

Kondisi atmosfer yang relatif kering dan suhu udara yang tinggi turut meningkatkan potensi terjadinya karhutla sekaligus berisiko memengaruhi kualitas udara.

Pada periode 1-9 September 2026, suhu maksimum harian di sejumlah wilayah Indonesia bahkan tercatat mencapai lebih dari 36 derajat Celsius. Suhu maksimum tertinggi mencapai 38,6 derajat Celsius yang terjadi di Sintang, Kalimantan Barat, pada 1 September 2026.

Sejalan dengan kondisi tersebut, BMKG memprakirakan indeks potensi kebakaran hutan dan lahan atau Fire Weather Index (FWI) berada pada kategori tinggi hingga sangat tinggi selama 11-17 September 2026.

Potensi tersebut terutama terdapat di Sumatra bagian timur, tengah, dan selatan, sebagian besar wilayah Jawa, Kalimantan bagian tengah hingga selatan, sebagian besar Sulawesi, Maluku, Maluku Utara, serta Papua bagian barat dan selatan.

Hujan Lebat Masih Berpotensi Terjadi

Meski musim kemarau masih mendominasi, BMKG menyebut hujan tetap berpeluang terjadi di sejumlah wilayah. Dinamika atmosfer regional dan lokal masih dapat mendukung pertumbuhan awan hujan sehingga potensi cuaca ekstrem juga perlu diwaspadai.

Pada 7-9 September 2026, hujan lebat hingga sangat lebat tercatat di sejumlah daerah. Curah hujan tertinggi mencapai 141,6 milimeter per hari di Sumatra Utara, disusul Sumatra Barat 114 milimeter per hari, Aceh 108,5 milimeter per hari, Sulawesi Tengah 67 milimeter per hari, dan Kalimantan Utara 65 milimeter per hari.

BMKG menjelaskan, kondisi tersebut dipengaruhi aktivitas gelombang atmosfer, pertemuan angin, suhu muka laut yang hangat, serta interaksi angin darat dan laut. Faktor lokal berupa pemanasan permukaan dan kondisi topografi juga turut meningkatkan potensi hujan di sejumlah wilayah.

Untuk periode 11-17 September 2026, hujan masih berpotensi terjadi di sebagian Sumatra, Banten, Jawa Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Barat, Papua Pegunungan, dan Papua.

Pada 11-13 September 2026, masyarakat di Aceh dan Sumatra Utara diminta meningkatkan kesiapsiagaan terhadap potensi hujan lebat hingga sangat lebat.

Selain itu, potensi angin kencang perlu diwaspadai di Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Maluku Utara, Papua Barat Daya, dan Papua Selatan.

Sementara itu, pada 14-17 September 2026, kondisi cuaca di Indonesia umumnya diprakirakan cerah berawan hingga hujan sedang.

Potensi hujan lebat hingga sangat lebat masih perlu diantisipasi di Aceh. Sedangkan angin kencang berpotensi terjadi di Banten, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Maluku, Maluku Utara, Papua Barat, dan Papua Selatan.

Menghadapi kondisi tersebut, BMKG mengimbau masyarakat dan pemangku kepentingan meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak musim kemarau.

Masyarakat diminta menjaga kesehatan, menghemat penggunaan air, serta tidak melakukan pembakaran lahan maupun sampah yang dapat memicu kebakaran dan memperburuk kualitas udara.

Masyarakat juga diimbau memantau informasi cuaca dan peringatan dini resmi BMKG melalui aplikasi InfoBMKG, laman resmi BMKG, serta media sosial @infoBMKG.

Kewaspadaan dan langkah antisipasi sejak dini diperlukan untuk mengurangi risiko bencana hidrometeorologi, menjaga kualitas udara, serta melindungi keselamatan masyarakat.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial M-Radar News.

Tutup