Jeli Jelang Pemilu, Cari Pemimpin Bukan Penguasa

Ilustrasi pemilihan kepala daerah (Pilkada). Foto: net/ist.

M-RADARNEWS.COM, OPINI – Balada Pemilihan Umum (Pemilu) sudah menjadi kebiasaan atas sebuah negara dengan sistem demokrasi. Entah itu Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden, Legislatif serta Kepala Daerah yang biasa digelar setiap Lima tahun sekali.

Pemilu bukan sebagai ajang pencari bakat, tetapi mencari pemimpin yang bisa menjadi suri tauladan bagi rakyat. Adil dan jujur terhadap hukum serta bijaksana dalam mengambil suatu keputusan.

Mencari sosok pemimpin bukanlah hal yang mudah, karena suatu negara tergantung kepada pimpinannya, apabila pimpinannya baik, baik pula rakyatnya atau sebaliknya. Maka dari itu, sebagai rakyat harus jeli dalam memilih pemimpin.

Setelah kemarin penyelenggaraan pemilihan Presiden dan Wakil Presiden serta Legislatif, sekarang beranjak ke pemilihan kepala daerah (Pilkada) serentak yang akan digelar pada tanggal 27 November 2024. Para kontestan mulai bermunculan untuk menarik simpati dan perhatian atau dukungan masyarakat.

Mendekati proses pergantian kepemimpinan dan kekuasaan ini, calon pemimpin kepala daerah berlomba-lomba berebut citra publik untuk mendongkrak popularitas dan elektabilitas dengan berbagai instrumen. Mulai dari baliho, framing media dan lainnya yang diberi bumbu dengan visi, misi dan program politik yang dibangun untuk mengepul suara masyarakat.

Sebelum terpilih selalu rajin bermasyarakat, menjadi dermawan dadakan, bahkan berani membuat janji-janji palsu atau omong kosong untuk mengelabui orang awam, untuk menutupi jiwa keserakahan dalam dirinya agar terlihat baik di mata masyarakat.

Bahkan yang lebih Crazy (gila) menggunakan berbagai cara yang dikenal dengan istilah MONEY POLITIK dan POLITIK DINASTI, se-akan masyarakat hanya dijadikan objek politik dan sarana untuk memilih. Tapi justru sebaliknya, setelah terpilih lupa dan tak pernah menjadikan masyarakat lagi sebagai orientasi utama.

Sudah saatnya masyarakat bisa lebih vokal dan cerdas, apalagi membiarkan pemerintah bekerja tanpa kontrol sosial. Seperti jalan rusak, pertumbuhan ekonomi merosot, kebijakan yang tidak pro rakyat, gubuk, dapur rakyat yang tak lagi mengepul asapnya dan sederet kasus pejabat menghiasi dunia maya membuat masyarakat sulit percaya lagi kepada pemimpinnya.

Kalau terjadi seperti itu, siapa yang harus di salahkan dan bertanggung jawab. Pemilih atau yang di pilih! Cobalah renungkan, agar tidak salah memilih. Jangan mencari seorang pemenang, tetapi seorang pemimpin dan carilah pemimpin yang berjiwa pemimpin bukan berjiwa penguasa.

Editor : Yono/Yudha
Tutup