Jusuf Kalla Soroti Kerusuhan di Aceh, Minta Perdamaian Helsinki Tetap Dijaga

Judul: Jusuf Kalla Soroti Kerusuhan di Aceh, Minta Perdamaian Helsinki Tetap Dijaga. Foto: istimewa

M-Radar News – Wakil Presiden Republik Indonesia ke-10 dan ke-12, Jusuf Kalla menyoroti kerusuhan yang terjadi di Banda Aceh bertepatan dengan peringatan 21 tahun perdamaian Aceh. Ia menegaskan, bahwa peristiwa tersebut tidak mencerminkan keinginan mayoritas masyarakat Aceh yang telah menikmati kedamaian pasca Perjanjian Helsinki.

Jusuf Kalla menjelaskan, bahwa peringatan 21 tahun perdamaian Aceh yang jatuh, pada 15 Agustus 2026, seharusnya menjadi momentum untuk mengenang keberhasilan penyelesaian konflik panjang melalui jalur damai. Namun, situasi berkembang menjadi kericuhan setelah adanya demonstrasi dan pengibaran bendera tertentu yang memicu perhatian aparat keamanan.

Aparat TNI dan Polri berupaya mencegah agar situasi tidak meluas menjadi konflik terbuka. Jusuf Kalla menilai bahwa persoalan kerusuhan tersebut lebih berkaitan dengan dinamika internal kelompok di Aceh, khususnya sebagian kecil kelompok yang merasa tidak puas terhadap kepemimpinan daerah, bukan sebagai bentuk penolakan terhadap pemerintah pusat.

Selain itu, tokoh perdamaian Aceh asal Finlandia, Juha Christensen, mengingatkan masyarakat untuk menghormati bendera Gerakan Aceh Merdeka (GAM) sebagai simbol sejarah, bukan untuk kepentingan tertentu. Ia menilai, pengibaran bendera GAM saat peringatan itu tidak baik bagi suasana perdamaian yang telah terjaga selama ini. Juha menegaskan bahwa amanah MoU Helsinki adalah menjaga martabat dan perdamaian untuk semua pihak.

Jusuf Kalla juga mengajak masyarakat dan pemimpin Aceh menjadikan 21 tahun perdamaian sebagai momentum untuk memperkuat pembangunan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Ia menekankan pentingnya prioritas pembangunan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia sebagai langkah menuju kehidupan yang lebih adil dan sejahtera.

Menurut JK, pengalaman konflik Aceh menjadi pelajaran penting bagi bangsa Indonesia, di mana berbagai konflik besar sering berakar dari ketidakadilan.

Kondisi Aceh sebelumnya menunjukkan ketimpangan antara kekayaan sumber daya alam dan pembangunan yang dirasakan masyarakat, yang menjadi sumber konflik. Oleh karena itu, pemerintah di seluruh daerah harus terus belajar untuk menghadirkan keadilan pembangunan.

Jusuf Kalla menyampaikan ucapan selamat kepada masyarakat dan pemerintah Aceh, atas perjalanan panjang menuju perdamaian dan berharap kondisi damai yang terjaga selama 21 tahun menjadi fondasi bagi kemajuan Aceh di masa depan.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial M-Radar News.

Tutup