Masuki Musim Kemarau, Dinkes Semarang Imbau Masyarakat Waspada Penyakit ‘Metabolik’

JATENG, (M-RADARNEWS),-                 Di sejumlah daerah di Indonesia sudah memasuki musim kemarau mulai pada bulan April 2023.  Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang mengimbau masyarakat waspada terhadap penyakit ‘Metabolik’ yang kerap muncul pada saat musim kemarau.

Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kota Semarang M. Abdul Hakam mengatakan, penyakit metabolik pada saat musim kemarau ini kembali meningkat. Terlebih saat ini kondisi cuaca di Kota Semarang terbilang sangat terik (panas).

“Sebenarnya, sudah ada satu bulan ini penyakit metabolik mulai mencuat. Tepatnya penyakit tersebut muncul dalam satu Minggu setelah Lebaran,” katanya seperti dikutip, Senin (05/06/3023).

Abdul Hakam menjelaskan, penyakit metabolik adalah; sekumpulan kondisi yang dapat meningkatkan risiko penyakit jantung, stroke, dan diabetes. Meliputi kadar gula darah dan tekanan darah tinggi, kenaikan kadar kolesterol, serta lemak berlebihan di sekitar pinggang.

“Penyakit metabolik ini rawan muncul saat cuaca terik. Terlebih pada orang yang memiliki risiko kencing manis dan darah tinggi. Pasalnya, dapat menyebabkan berbagai penyakit seperti jantung koroner dan stroke,” ucapnya.

Untuk menghadapi penyakit-penyakit tersebut, kata Abdul Hakam, dengan cara menjaga pola hidup. Misalnya, pada musim kemarau yang terik ini sebisa mungkin hindari mengkonsumsi minuman manis dan dingin seperti es teh maupun es sirup. Pasalnya, jika konsumsi minuman tersebut tidak dikontrol, maka akan mengganggu kesehatan tubuh karena kadar gula darah tinggi.

“Jika pola hidup ini kalau tidak bisa dikendalikan, kadar gula darah tinggi. Kadar gula darah tinggi pasti akan mengakibatkan koma diabetikum atau HONK (Hiperglikemia Hiperosmolar Non Ketotik). Pembuluh darah kental sekali,” jelasnya.

Lanjut Abdul Hakam menambahkan, banyak beraktivitas di terik matahari juga berisiko. Terlebih bagi orang memiliki riwayat diabetes melitus (DM), hipertensi, dan jantung koroner. Sehingga harus berhati-hati.

“Sekarang ini suhu udara panasnya berapa? Kita ini normal mentok di 32 derajat Celcius sudah panas. Maka, harus dihindari. Misalnya pakai payung, topi, dan sebagainya,” pungkasnya.

Meski demikian, Abdul Hakam menyebut aktivitas fisik di luar ruangan tidak harus dihentikan. Tetapi harus bisa diatur sedemikian rupa, agar menghindari paparan sinar matahari dan tetap bisa menjaga kesehatan tubuh. (rd/*)

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial M-Radar News.

Tutup