BALI, (M-RADARNEWS),- Gubernur Bali I Made Mangku Pastika mengharapkan Podium Bali Bebas Bicara Apa Saja (PB3AS) program unggulan Bali Mandara dapat dilanjutkan sebagai bentuk implementasi demokrasi.

“Negara pun telah melindungi kebebasan mengungkapkan sesuatu sepanjang tidak ada maksud membubarkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), mengganti Pancasila maupun menjatuhkan pemerintahan,” kata Pastika ketika PB3AS terahir di Renon Denpasar, Minggu (12/08).

Hal itu sesuai dengan amanat Undang-undang  Dasar 1945 Pasal 28 yang berbunyi “Kemerdekaan berserikan dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebagainya ditetapkan dengan undang-undang”.

Meskipun Gubernur Bali Terpilih Periode 2018-2023 I Wayan Koster belum pasti melanjutkan, Pastika tetap komitmen akan melanjutkan program tersebut sesuai dengan kebutuhan.

Menurutnya, dirinya tidak akan memakasaan penggantinya melanjutkam program Bali Mandara yang telah dijalankan selama 10 tahun, karena setiap pemimpin punya cara sendiri dan pemimpin ada masanya.

Untuk itu, program tersebut bukan sekedar wadah menyampaikan sesuatu apa saja, termasuk kritik pedas terhadap pemerintah dan stackholder.

Biasanya pemerintah takut dikritik, berkat program PB3AS kini terbiasa mendapatkan masukan, saran dan apresiasi. Semua kritik tersebut tentunya ditindaklanjuti, termasuk program sebulan sekali Simakrama Bali Mandara.

Namun, pihaknya mengupayakan memberikan kemerdekaan dalam berbicara dengan penuh tanggungjawab. Momentum itu bersesuaian yang bertepatan dengan sebagai spirit peringatan Hari Ulang Tahun Ke-73 Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia (RI).

“Program ini juga untuk mendorong orang Bali agar berani bicara, tidak saja diam dan ‘kalem’ yang masih membawa kebiasaan ‘koh ngomong’ atau malas bicara,” ujarnya.

Meskipun isi pembicaraan diawal-awal kurang berbobot itu tidak menjadi persoalan, apabila terus dilatih maka optimis akan menjadi lebih baik. Selain itu, ruang komunikasi agar tetap terbuka selebarnya-lebarnnya agar menghindari adanya sumbatan yang memicu adanya prasangka buruk.

Hal tersebut kadang menghambat sebuah pembangunan maupun timbul perpecahan. “Orang Bali agar berani ngomong di depan, jangan simpan rasa iri maupun ngomong pintarnya di belakang,” tutupnya. (Tim)

Facebook Comments Box