Pemuda di Balung Jalani Perawatan Intensif di RSJ Malang Usai Aniaya Orang Tua
M-RadarNews, Jatim – Seorang pemuda berinisial BF, 21 tahun, warga Dusun Lohong RT 06 RW 02, Desa Karang Semanding, Kecamatan Balung, Jember, harus menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Malang setelah diduga mengamuk dan menganiaya kedua orang tuanya hingga babak belur. Peristiwa tragis ini terjadi pada Sabtu, 28 Juni 2025, dan menjadi perhatian serius aparat desa serta tenaga kesehatan setempat.
BF dirujuk ke RSJ Malang pada Rabu, 1 Juli 2025, setelah perilaku agresifnya dinilai membahayakan orang-orang di sekitarnya. Gunawan Santoso, Perawat Desa Karang Semanding, membenarkan perujukan tersebut. “Yang bersangkutan seringkali mengamuk dan memukul orang yang berada di sekitarnya, sehingga dinilai membahayakan banyak orang,” ujar Gunawan, Jumat, 3 Juli 2025.
Menurut keterangan Gunawan, tindakan kekerasan BF tidak hanya dialami oleh kedua orang tuanya, tetapi juga adik kandung dan tetangganya. “Selama ini kami sering dapat laporan. Yang bersangkutan sering marah-marah dan menganiaya bapak kandung, ibu, serta membuat adiknya ketakutan. Kejadian ini sudah berlangsung beberapa tahun lalu, dulu masih bisa ditangani, tapi sekarang sudah tidak bisa lagi,” tambahnya.
Kronologi Kejadian
| Tanggal | Kejadian |
|---|---|
| Sabtu, 28 Juni 2025 | BF mengamuk, memukuli, dan menginjak-injak kedua orang tuanya hingga babak belur. Warga melaporkan kejadian ke perangkat desa. |
| Minggu, 29 Juni 2025 | Tim kesehatan jiwa dari Puskesmas Karangduren memberikan penanganan awal, namun BF masih menunjukkan perilaku agresif. |
| Senin, 30 Juni 2025 | Rapat koordinasi antara perangkat desa, Puskesmas, dan keluarga memutuskan untuk merujuk BF ke RSJ Malang. |
| Rabu, 1 Juli 2025 | BF dibawa ke RSJ Malang untuk menjalani observasi dan perawatan intensif. |
| Jumat, 3 Juli 2025 | Konfirmasi dari perawat desa bahwa BF masih dalam perawatan di RSJ Malang. |
Penanganan Kesehatan Jiwa Sebelumnya
Sebelum peristiwa penganiayaan, BF telah menjalani pengobatan rutin setiap bulan. Tim penanggung jawab kesehatan jiwa dari Puskesmas Karangduren secara rutin memberikan penanganan. “Kami dan penanggungjawab Jiwa Puskesmas Karangduren rutin setiap bulan untuk memberikan pengobatan jiwa. Terakhir tadi malam sekitar jam 23.00 dari Liposos,” jelas Gunawan.
Namun, pengobatan rutin saja tidak cukup. Gunawan menekankan pentingnya dukungan keluarga dalam proses pemulihan pasien gangguan jiwa. “Kasus kejiwaan tidak hanya pengobatan rutin, yang paling penting dukungan keluarga juga sangat dibutuhkan untuk kesembuhan pasien,” pungkasnya.
Peristiwa ini meninggalkan trauma mendalam bagi keluarga BF. Kedua orang tua yang menjadi korban penganiayaan kini dalam kondisi pemulihan fisik dan psikis. Adik BF juga dilaporkan masih dalam ketakutan. Masyarakat sekitar pun merasa prihatin dan khawatir akan keamanan, terutama jika pasien dengan gangguan jiwa tidak mendapatkan penanganan yang memadai.
Kasus ini juga membuka mata banyak pihak tentang pentingnya deteksi dini dan penanganan komprehensif terhadap gangguan jiwa. Berikut adalah beberapa faktor yang perlu diperhatikan:
- Keterbatasan akses layanan kesehatan jiwa: Di daerah pedesaan seperti Balung, akses ke psikiater atau rumah sakit jiwa masih terbatas. Puskesmas menjadi garda terdepan, namun kapasitasnya terbatas.
- Stigma sosial: Keluarga sering kali enggan membawa anggota keluarga dengan gangguan jiwa ke fasilitas kesehatan karena takut dicap ‘gila’ oleh masyarakat.
- Kurangnya dukungan keluarga: Dalam banyak kasus, keluarga tidak memahami cara merawat pasien gangguan jiwa, sehingga pengobatan tidak berjalan optimal.
- Peran pemerintah desa: Perangkat desa perlu lebih proaktif dalam mendata dan mendampingi warga dengan gangguan jiwa.
Kasus BF menjadi pengingat, bahwa gangguan jiwa bukanlah aib, melainkan kondisi medis yang memerlukan penanganan serius. Pemerintah daerah perlu meningkatkan layanan kesehatan jiwa di tingkat puskesmas, termasuk pelatihan bagi tenaga kesehatan dan penyediaan obat-obatan. Selain itu, kampanye kesadaran masyarakat tentang kesehatan jiwa harus digencarkan untuk mengurangi stigma.
Di sisi lain, dukungan keluarga menjadi faktor kunci keberhasilan terapi. Keluarga perlu diberikan edukasi tentang cara menghadapi anggota keluarga dengan gangguan jiwa, termasuk mengenali tanda-tanda kekambuhan dan cara mengelola emosi pasien. Program home visit oleh tenaga kesehatan jiwa juga perlu diperkuat.
Di tengah malam yang sunyi di Dusun Lohong, rumah keluarga BF kini terasa hampa. Kedua orang tua yang dulu menjadi korban amuk anaknya sendiri kini berjuang memulihkan luka, baik fisik maupun batin. BF sendiri masih terbaring di ruang perawatan RSJ Malang, menanti kesembuhan yang tidak hanya bergantung pada obat-obatan, tetapi juga pada pelukan hangat dari orang-orang terdekat.
Kasus ini mengajarkan kita bahwa kesehatan jiwa adalah tanggung jawab bersama, dan setiap individu berhak mendapatkan perawatan yang layak tanpa stigma. Semoga peristiwa ini menjadi titik balik bagi semua pihak untuk lebih peduli dan sigap dalam menangani masalah kesehatan jiwa di Indonesia.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial M-Radar News.








