Rangkaian Upacara Piodalan ke-33 Pura Agung Jagatnatha Buleleng: Tradisi, Makna, dan Dampak Sosial

Rangkaian Upacara Piodalan ke-33 Pura Agung Jagatnatha Buleleng: Tradisi, Makna, dan Dampak Sosial

M-RadarNews, Bali – Panitia Piodalan Pura Agung Jagatnatha Kabupaten Buleleng secara resmi mengumumkan rangkaian upacara Piodalan ke-33 yang jatuh tepat pada Purnama Kasa, 29 Juni 2026. Acara tahunan ini bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan juga momentum memperkuat identitas budaya dan pariwisata spiritual di Buleleng. Dengan melibatkan ribuan umat Hindu dari berbagai kecamatan, piodalan ini menjadi ajang silaturahmi dan pelestarian tradisi leluhur.

Latar Belakang dan Signifikansi Piodalan ke-33

Pura Agung Jagatnatha Buleleng merupakan pura utama di Kabupaten Buleleng yang menjadi pusat kegiatan keagamaan Hindu. Piodalan ke-33 tahun 2026 memiliki arti penting karena menandai siklus tiga dasawarsa lebih sejak pendirian pura. Perayaan ini tidak hanya dihadiri oleh umat lokal, tetapi juga menarik wisatawan domestik dan mancanegara yang tertarik pada budaya Bali. Dampak ekonominya pun terasa, terutama bagi sektor perhotelan, kuliner, dan transportasi di sekitar Singaraja.

Rangkaian Upacara: Tiga Tahap Utama

Berdasarkan surat resmi nomor 36/PAJN.BLL/VI/2026 yang ditandatangani Ketua Panitia I Gede Sandhiyasa, S.Sos., M.Si., dan Sekretaris Drs. I Made Pasek, berikut jadwal lengkap piodalan:

Tahap Tanggal Kegiatan
Persiapan dan Pembersihan 20-24 Juni 2026 Mecaru Nuasen Karya, Ngingsah beras, Ngelinggihang Bhatara Sri, Ngiasin pelinggih, mereresik, Mecaru Nyapah Ngerik, Ngunggahang Daksina, Nuur Tirta ke Kahyangan Jagat
Melasti dan Kuningan 25-27 Juni 2026 Ngajum Pralingga, Mendak Ngubeng, Makalahias, Melasti ke Segara Pabean, Bhakti Pakelem, Rejang Sandat, persembahyangan Kuningan
Puncak Piodalan dan Bhakti Penganyar 29 Juni – 8 Juli 2026 Puncak Piodalan (29 Juni), Bhakti Penganyar kecamatan, Meprani, Ngaturang Suci, Pakelem, Ngelebar Ida Bhatara

Tahap Persiapan dan Pembersihan (20-24 Juni 2026)

Rangkaian dimulai dengan Mecaru Nuasen Karya, sebuah upacara pembersihan spiritual. Ngingsah beras dan Ngelinggihang Bhatara Sri dilakukan untuk memohon restu. Kegiatan Ngiasin pelinggih dan mereresik melibatkan gotong royong puluhan warga. Uniknya, Nuur Tirta dilakukan ke beberapa kahyangan jagat di kabupaten lain di Bali, menunjukkan jaringan spiritual yang luas.

Prosesi Melasti dan Hari Raya Kuningan (25-27 Juni 2026)

Puncak prosesi Melasti dilaksanakan Kamis, 25 Juni 2026 (Wraspati Pon Kuningan). Dimulai dengan Ngajum Pralingga Ida Bhatara, kemudian prosesi Mendak Ngubeng dan Makalahias. Ida Bhatara kemudian diarak menuju Segara Pabean di kawasan Eks Pelabuhan Buleleng. Prosesi dipuput oleh Ida Mpu Tanaya Nirmala Kerthi dari Geria Taman Candi Alas Arum Sari. Di Pura Segara, dipentaskan Rejang Sandat Ratu Segara, tarian sakral untuk memuja Dewi Laut. Bhakti Pakelem dilakukan dengan sarana bebek dan ayam.

Menurut Jro Mangku Ketut Rupa, pakelem bisa dilakukan di sungai, danau, gunung, dan samudra. Banten disesuaikan dengan tingkatan upacara. Makna simbolis: ayam melambangkan unsur kehidupan dinamis dan penyucian bhuta kala; bebek melambangkan keseimbangan Bhur Loka dan Bwah Loka. Sekda Buleleng Gede Suyasa turut menyaksikan. Setelah kembali ke pura, umat menggelar Segehan Agung. Pada Sabtu, 27 Juni (Saniscara Kliwon Kuningan), persembahyangan bersama terbuka untuk umum.

Puncak Piodalan dan Bhakti Penganyar (29 Juni – 8 Juli 2026)

Senin, 29 Juni 2026 (Purnama Kasa) pukul 16.00-19.00 WITA, puncak piodalan dipimpin Sulinggih. Umat bersembahyang hingga tengah malam. Selanjutnya, dari 30 Juni hingga 8 Juli, Bhakti Penganyar dari seluruh kecamatan di Buleleng digilir. Rabu, 8 Juli (Buda Umanis Medangsia) menjadi hari terakhir dengan upacara Meprani, Bhakti Penganyar terakhir, Ngaturang Suci Penerus, dan Pakelem ke Segara Pabeyan. Rangkaian ditutup dengan Ngelebar Ida Bhatara dan Ngaturang Parama Suksma pada tengah malam.

Dampak Sosial dan Ekonomi

Piodalan ke-33 ini memberikan dampak positif bagi masyarakat Buleleng. Secara sosial, acara mempererat kerukunan antar umat dan gotong royong. Secara ekonomi, perputaran uang dari konsumsi, transportasi, dan souvenir meningkat. Pemerintah daerah juga mempromosikan acara ini sebagai destinasi wisata spiritual, menarik minat wisatawan. Selain itu, pelibatan generasi muda dalam upacara tradisional membantu melestarikan budaya Bali.

Makna Spiritual dan Filosofis

Setiap ritual memiliki makna mendalam. Upacara Melasti misalnya, merupakan penyucian diri dan alam semesta. Bhakti Pakelem sebagai persembahan kepada ibu pertiwi dan permohonan air suci. Tari Rejang Sandat bukan sekadar hiburan, melainkan persembahan sakral. Semua ini mencerminkan keseimbangan antara manusia, alam, dan Tuhan.

Rangkaian upacara Piodalan ke-33 Pura Agung Jagatnatha Buleleng bukanlah sekadar agenda tahunan, melainkan cerminan kearifan lokal yang terus hidup. Melalui gotong royong, kesakralan ritual, dan partisipasi lintas generasi, tradisi ini menjadi pondasi spiritual dan sosial masyarakat Buleleng. Dengan memahami setiap tahapannya, umat diharapkan dapat mengikuti dengan khusyuk dan menjaga kelestarian budaya untuk generasi mendatang. (*)

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial M-Radar News.

Tutup