Ritual Adat Berujung Tragedi: Operasi SAR Hari Ketiga Temukan Korban Tenggelam di Pantai Bama
M-RadarNews, Jatim – Operasi SAR gabungan hari ketiga akhirnya membuahkan hasil dengan ditemukannya mayat Maman Wahyudi (30), warga Watu Ulo Bakungan, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, yang tenggelam di Perairan Pantai Bama, kawasan Taman Nasional Baluran, Situbondo. Korban ditemukan pada Selasa, 30 Juni 2026, sekitar pukul 14.00 WIB oleh keponakannya sendiri, Ismanto (45) dan Santoso (30), di pinggir pantai tak jauh dari lokasi kejadian.
Kronologi Peristiwa
- Selasa, 30 Juni 2026: Maman Wahyudi bersama rombongan warga Bakungan, Glagah, Banyuwangi, datang ke Pantai Bama untuk melaksanakan ritual adat Bakungan. Ritual ini merupakan tradisi tahunan yang dilakukan oleh masyarakat setempat sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.
- Usai Ritual: Sekitar pukul 10.00 WIB, korban berniat memancing dan menyusuri pantai yang sedang surut sejauh sekitar 500 meter dari garis pantai. Tanpa diduga, korban terpeleset dan jatuh ke palung laut yang dalam, lalu tenggelam.
- Upaya Pencarian: Keluarga dan warga setempat segera melaporkan kejadian ke pihak berwenang. Tim SAR gabungan yang terdiri dari BPBD Situbondo, Basarnas, Tagana, dan relawan langsung dikerahkan. Pencarian dilakukan selama tiga hari berturut-turut dengan menyisir area Pantai Bama hingga perairan Pandean dan sekitarnya.
- Penemuan Jenazah: Pada hari ketiga, sekitar pukul 14.00 WIB, keponakan korban yang ikut mencari menemukan mayat Maman Wahyudi di pinggir pantai. Tim SAR segera melakukan evakuasi dan membawa jenazah ke rumah duka menggunakan mobil ambulance Puskesmas Wonorejo, Kecamatan Banyuputih, Situbondo.
Upaya SAR dan Sumber Daya yang Digunakan
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Situbondo, Timbul Surjanto, menjelaskan bahwa operasi SAR gabungan melibatkan berbagai sumber daya dan alat berat. Berikut rincian sumber daya yang digunakan:
| Jenis Sumber Daya | Jumlah | Instansi |
|---|---|---|
| Mobil Rescue | 3 unit | BPBD, Basarnas, Tagana |
| Perahu Karet LCR | 1 unit | Basarnas |
| Peralatan Medis | Lengkap | Tim SAR Gabungan |
| Personel SAR | 30 orang | BPBD, Basarnas, Tagana, Relawan |
Pencarian dilakukan dengan menyisir area dari Pantai Bama menuju lokasi korban tenggelam, kemudian diperluas hingga perairan Pandean. Namun, pada akhirnya korban ditemukan oleh keluarganya sendiri yang juga ikut serta dalam pencarian.
Peristiwa ini menyoroti beberapa aspek penting yang perlu menjadi perhatian bersama:
- Keselamatan Wisatawan: Pantai Bama yang terletak di Taman Nasional Baluran merupakan destinasi wisata populer. Namun, kondisi pantai yang memiliki palung dan arus bawah yang kuat perlu diwaspadai. Pihak pengelola taman nasional diimbau untuk memasang rambu peringatan dan menyediakan petugas pengawas pantai.
- Ritual Adat: Tradisi ritual adat Bakungan yang melibatkan aktivitas di tepi pantai perlu dievaluasi dari segi keamanan. Masyarakat diharapkan lebih waspada dan tidak melakukan aktivitas berisiko tinggi di area yang berbahaya.
- Koordinasi SAR: Operasi SAR gabungan menunjukkan pentingnya koordinasi antarinstansi. Meskipun korban ditemukan oleh keluarga, upaya pencarian yang sistematis tetap memberikan dukungan moral dan logistik bagi keluarga korban.
- Edukasi Masyarakat: Kejadian ini menjadi pengingat bagi masyarakat pesisir dan wisatawan untuk selalu memperhatikan keselamatan saat beraktivitas di laut. Pengetahuan tentang kondisi pantai, cuaca, dan teknik dasar keselamatan air sangat penting.
Analisis Risiko Wisata Pantai
Pantai Bama, dengan keindahan alamnya, menyimpan risiko tersembunyi berupa palung laut yang dalam. Berdasarkan data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), wilayah perairan Situbondo sering mengalami perubahan arus yang tidak terduga. Kombinasi antara surut air laut dan palung dapat menciptakan jeratan air yang sulit dilepaskan. Oleh karena itu, wisatawan diimbau untuk:
- Selalu mematuhi rambu peringatan yang ada.
- Tidak berenang atau beraktivitas di area yang tidak diawasi petugas.
- Menggunakan alat pelampung jika memancing dari tepi pantai.
- Melaporkan kondisi berbahaya kepada petugas taman nasional atau pihak berwenang setempat.
Kehilangan Maman Wahyudi bukan sekadar angka dalam statistik kecelakaan laut. Setiap nyawa yang melayang di perairan Indonesia menyisakan duka mendalam bagi keluarga dan komunitas. Di balik ritual adat yang sakral, tersimpan risiko yang seringkali terabaikan. Semoga peristiwa ini menjadi pelajaran berharga bagi kita semua untuk lebih menghargai keselamatan dan kewaspadaan, tanpa mengurangi rasa hormat terhadap tradisi leluhur. Operasi SAR telah usai, tetapi kenangan akan Maman Wahyudi akan terus hidup di hati orang-orang yang mencintainya.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial M-Radar News.









