Kemarau Tingkatkan Risiko Karhutla di Bangka Belitung

Kemarau Tingkatkan Risiko Karhutla di Bangka Belitung

M-Radar News, BMKG Pangkalpinang mengingatkan masyarakat mewaspadai meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Bangka Belitung. Prakirawan BMKG Pangkalpinang, Slamet Supriadi, menyatakan bahwa berdasarkan pemantauan hari ini terdapat sekitar 60 titik panas yang tersebar di Kabupaten Bangka Barat, Bangka Selatan, Belitung, dan Belitung Timur.

Menurut Slamet, karhutla tidak semata-mata disebabkan cuaca kering. Lebih banyak dipicu aktivitas manusia, terutama pembukaan lahan dengan cara membakar. “Ketika cuaca kering selama tiga hingga lima hari tanpa hujan disertai angin yang cukup kencang, api akan lebih cepat menyebar dan sulit dikendalikan. Karena itu masyarakat diminta tidak membuka lahan dengan cara dibakar,” ujarnya.

Salah seorang pendengar RRI, Udin dari Sungailiat, mendukung imbauan BMKG agar masyarakat lebih peduli terhadap pencegahan karhutla. “Diharapkan pengawasan dari pemerintah bersama aparat terkait semakin ditingkatkan selama musim kemarau untuk mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan,” ungkapnya.

BMKG terus memantau perkembangan titik panas setiap hari. Data terbaru menunjukkan bahwa titik panas terbanyak berada di Bangka Barat dan Bangka Selatan. Belitung dan Belitung Timur juga mencatatkan beberapa titik panas, meskipun jumlahnya lebih sedikit.

Slamet menjelaskan bahwa kondisi cuaca kering saat ini sangat mendukung penyebaran api. Angin kencang yang bertiup dapat membuat api dengan cepat meluas ke area yang lebih luas. “Jika sudah terbakar, sangat sulit untuk memadamkannya karena akses ke lokasi seringkali sulit dan sumber air terbatas,” tambahnya.

Pemerintah daerah bersama aparat terkait diminta untuk meningkatkan patroli dan pengawasan. Sosialisasi kepada masyarakat tentang bahaya membuka lahan dengan cara membakar juga terus digencarkan. Masyarakat diimbau untuk melaporkan jika melihat adanya aktivitas pembakaran lahan.

Karhutla tidak hanya merugikan lingkungan, tetapi juga kesehatan. Asap yang ditimbulkan dapat menyebabkan gangguan pernapasan dan penyakit lainnya. Selain itu, karhutla juga dapat mengganggu aktivitas penerbangan dan transportasi darat akibat jarak pandang yang berkurang.

BMKG memperkirakan musim kemarau masih akan berlangsung beberapa bulan ke depan. Oleh karena itu, kewaspadaan harus terus ditingkatkan. Masyarakat diharapkan tidak melakukan pembakaran lahan dalam bentuk apapun.

“Kami mengimbau semua pihak untuk bersama-sama menjaga lingkungan. Jangan sampai niat baik membuka lahan untuk pertanian berujung pada bencana karhutla yang merugikan banyak orang,” pungkas Slamet.

Sementara itu, Udin berharap pemerintah lebih tegas dalam memberikan sanksi bagi pelaku pembakaran lahan. “Hukum harus ditegakkan agar ada efek jera. Jangan sampai hanya diberikan teguran, tetapi harus ada tindakan nyata,” katanya.

Dengan meningkatnya kesadaran dan pengawasan, diharapkan risiko karhutla di Bangka Belitung dapat ditekan seminimal mungkin. Masyarakat diimbau untuk selalu waspada dan melaporkan setiap indikasi kebakaran kepada pihak berwenang.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial M-Radar News.

Tutup